Dua Puluh Empat

Langit pagi menyiratkan semangat dan harapan. Itu yang secara tidak sadar tertanam dalam alam bawah sadarku. Boleh jadi begitu juga denganmu.

Udara yang sejuk, menembus alveolus di dalam rongga paru-paru. Memberikan semangat dan energi yang menggelayut lembut di dalam darah. Ke rongga-rongga tulang. Di bawah deburan kabut pagi yang biasa menyapa. Atau angin lembut yang mengusap ubun-ubun.

Membangun asa untuk menuntaskan sebuah cerita.

———————

Kemudian senja. Ia berwarna jingga.  Warna yang tua. Seperti wajah perempuan tua yang sudah keriput.

Aku tidak tau mengapa kenapa ia berwarna jingga. Namun kesan yang ku dapat, waktu telah habis. Tubuh sudah lelah. Tulan-tulang menjadi rapuh.

 

Bagaimana jika kemudian malaikat maut datang menjemput.

“Wahai manusia. Waktumu telah habis”

Sehingga tidak akan lagi ada, pagi yang penuh semangat itu.

———————

Usiamu berapa sekarang ?

Adakah ia masih di antara pagi yang dingin dan sejuk ?

Ataukah di kehangatan waktu dhuha?

Atau di terik siang matahari yang menyengat ?

Ataukah sudah senja jingga ?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s