Kisah Anak Miskin dan Pisang Bakar

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli sesisir pisang di sebuah pasar yang cukup dikenal di Kota Jogja. Sebenarnya tidak diagendakan, hanya saja tiba-tiba ingin beli saja. Dan pula, agaknya sejak Ramadhan lalu belum pernah beli pisang lagi. Pun kalau iya, hanyalah sepiring pisang bakar yang kami beli di sebuah kedai susu di dekat kampus UNY.

Sesampai di rumah, saya lekas menyalakan kompor dengan niat untuk membakarnya. Mungkin kata mbak saya, ini tidak sehat. Ah biarlah. Meski ada tungku pemanggang arang, saya sudah tidak sabar ingin menjajal pisang bakar buah karya jemari saya yang sudah terlatih membuatnya.

——————

wpid-20131227_155532Saya tidak terlahir dari sebuah keluarga kaya raya. Oleh itulah, ketika teman-teman di masa saya terbiasa jajan es krim, es dung dung, maka benda-benda itu merupakan barang mewah. Kalaupun jajan, maka lebih sering beli siomay yang biasa lewat di depan rumah. Itupun setelah harus menabung dan menahan diri tidak jajan di sekolah.

Guna memuaskan hasrat lidah kanak-kanak , saya terkadang berkelana ke kebun-kebun pemukiman suku jawa di belakang sana. Kadang-kadang mereka membagikan jambu atau kalau beruntung dan musimnya sedang mujur, maka bisa mendapatkan salak. Namun di rumah, terkadang juga ibu membuatkan kami pisang goreng. Dan di tengah-tengah ibu saya menggoreng pisang, kadang saya ambil sebagian pisang yang belum begitu matang sempurna. Masih sepet. Yang kemudian saya bakar di dalam sebuah tungku dari tanah liat. Di atas bara-bara api.

——————-

Dua buah pisang sudah saya kuliti, dan siap dipanggang. Hingga kemudian saya teringat sebuah kisah yang diceritakan oleh ibu, yang kemudian saya tuturkan ulang kepada istri saya pagi itu..

dulu, di sebuah tempat di negeri antah berantah… terdapat sebuah desa yang penduduknya tidak begitu banyak. Mereka hidup dengan normal hingga kemudian muncul sebuah masalah yang menghantui mereka setiap malam. Ketika malam tiba, maka desa tersebut akan diserbu oleh gerombolan nyamuk yang bersarang di sebuah goa di lembah. Nyamuk-nyamuk tersebut bukanlah nyamuk biasa, sebab ukuran mereka memang tak biasa, yakni kira-kira sebesar kepala orang dewasa.

Desa dihantui ketakutan setiap malam. Hingga pemuka adat menetapkan, bahwa setiap malam harus ada seorang warga yang menjadi korban, yang berupa anak kecil sekitar usia delapan hingga sepuluh tahun atau kira-kira seusia itu. Anak kecil tersebut kemudian harus ditaruh di mulut goa, supaya para nyamuk raksasa tidak keluar menuju desa dan cukuplah hanya menghisap darah anak itu saja. Hingga yang tersisa hanya tulang-telulang atau kulit tak berdaging.

Ketetapan adat kemudian dilaksanakan. Satu demi satu anak kecil diantar oleh keluarganya untuk dikorbankan. Dan diambil jenazahnya esok paginya. Semua agar mampu meminimalisir korban. Hingga kemudian tiba giliran anak seorang wanita paruh baya yang papa. Anak wanita miskin yang tak berdaya.

Menjelang sore, sang anak kemudian berkata pada ibunya

“Bu, nanti saya bawa bekal apa ke sana ?”

Mata ibunya sembab. Ia tak punya apa-apa sebagai jamuan terakhir untuk sang anak. Kecuali beberapa buah pisang yang masih setengah matang. Tak bicara banyak, sang ibu kemudian membakar pisang-pisang tersebut di atas bara api yang masih menyala. Lalu buru-buru mebungkusnya dengan kain. Dan sang anak, diantarkan menuju mulut goa di lembah.

dan malam yang mengerikan itupun tiba.

Sang anak ternyata telah lapar, bahkan sebelum nyamuk-nyamuk itu keluar dan menghisap darahnya. Ia buka bekal pisang yang telah dibakarkan oleh sang ibu, lalu memakannya dengan lahap. Sebuah santapan yang sangat sederhana untuk detik-detik terakhir nafasnya. Namun terjadi sesuatu yang tak dinyana…

Pisang bakar itu membawa bara api yang menempel, sisa dari tungku di dapur. Sebuah bongkah bara sebesar krikil itu lalu jatuh, lalu membakar ranting-ranting kecil yang ada di sekitarnya hingga menciptakan asap. Mujur nasib sang anak. Angin lembah justru membuat asap masuk ke dalam mulut goa. Lalu menewaskan semua nyamuk. Tak tersisa.

—————–

Kisah ini jelas hanyalah sebuah dongen belaka. Namun begitu, ia meninggalkan kesan yang cukup dalam, terkhusus kepada saya yang ketika itu masih belum duduk di bangku SD. Mungkin karena saya membayangkan wanita papa itu adalah ibu, dan anak kecil itu ialah saya.

Rasa-rasanya saya ingin kembali ke masa-masa itu. Ketika ibu menemani saya membakar pisang, sambil berkisah tentang seorang anak miskin, dan pisang bakar.

Masih di Studio,

Yogyakarta 14 Maret 2016

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

5 thoughts on “Kisah Anak Miskin dan Pisang Bakar

  1. butuh translator.. 🙂

    whatever that, teruslah menulis seperti dulu.
    Sy pribadi, mengenal dan menemukan ‘kebenaran’ yg selalu kucari, semua berawal dari blog ini.
    Jazaakallahu khoir..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s