Menua : Sebuah Renungan

Bismillah

Suatu ketika saya menjumpai Mimi menangis tersedu-sedu di kamarnya. Sebuah tangisan yang tidak biasa. Ia bukan sedang menginginkan sesuatu, ataupun habis berkelahi dengan temannya. Ia menangis begitu saja.

Lalu adikku bertanya padanya.

“Memei kenapa nangis ?”

“Kakak ga mau bunda tua. Kakak ga mau bunda jadi tua….!” Tangisnya.

Saya tersenyum kala itu. Memang ya, anak kecil sering menangis karena hal-hal yang aneh. Hal-hal yang di luar 10842083_10204144558596069_5767353034209295389_oexpectasi orang-orang dewasa. Ia malam itu menangis hanya karena tidak ingin bundanya yang kini berusia 33 tahun, pada suatu ketika nanti menjelma menjadi perempuan tua, dengan tubuh yang lemah, kulit yang mengeriput, dan suara yang parau.

Padahal, menjadi tua adalah sebuah keniscayaan. Mungkin itu belum ia pahami.

Boleh jadi, ia berpikir bahwa neneknya, tempat ia bermanja-manja setiap hari, sejak lahir sudah berwujud seperti itu. Atau Atoknya, sejak lahir sudah memiliki uban sebanyak itu. Sepenuh kulit kepala.

Tapi kemudian hal itu membuat saya tertegun : diam.

—————————

11143684_10204307014297360_8843372984197541843_oKita semua dilahirkan dalam sosok seorang bayi mungil. Bagai kertas putih- kata mereka yang biasa bersajak. Yang kemudian kita berproses menjadi pribadi yang mendewasa, lalu menua. Lalu mati. Jika menggunakan ukuran lama hidup Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka umur standar manusia ialah 61,2 tahun dalam perhitungan kalender Masehi, atau 63 tahun dalam perhitungan kalender Hijriyah.

Dewasa ini, pola kehidupan manusia sangatlah biasa-biasa saja. Standar sekali. Jika dirunut, maka pola urutan hidup manusia zaman ini hanyalah : ia dilahirkan, kemudian menjadi bayi mungil ; menjadi anak-anak ; lalu masuk sekolah dasar ; masuk sekolah menengah pertama ; lanjut sekolah menengah atas ; kuliah ; sebagian bekerja atau lanjut kuliah jenjang dua dan hingga jenjang ketiga ; menikah ; melanjutkan keturunan sambil terus bekerja ; membesarkan anak sambil terus bekerja ; pensiun ; lalu mati.

Sederhana sekali bukan ?

Bukan. Bukan sederhana tepatnya. Akan tetapi : membosankan

—————————-

Dan bagi orang-orang seperti saya – dan boleh jadi sebagian besar manusia mengingat “gampang bosan” adalah karakteristik dasar manusia – hidup semacam ini akan sangat membosankan.

Teringat pertanyaan salah seorang rekan ketika berjumpa di Mushollah Teknologi Fakultas Teknik beberapa waktu yang lalu

“Masih di Radio, Mas ?”

“Masih, he he he. Kenapa emang ?”

“Hee, kalau aku mungkin udah bosan mas.”

“He he he”

————————–

11133829_10204316861143525_1857832863110699446_nBoleh jadi memang membosankan. Tapi, bukankah kebosanan bisa menimpa siapa saja, sebagaimana ketidakbosanan bisa menimpa siapa saja ?

Seseorang yang sedang berbahagia di awal-awal pernikahannya, boleh jadi akan mengalami kebosanan dan merindu masa-masa lajangnya, sebagaimana seorang lajang yang merasa bebas dengan status lajangnya, suatu ketika ia akan diterpa oleh kebosanan dan berharap untuk segera menikah.

Seseorang yang berbahagia dengan banyaknya waktu luang yang dimilikinya, boleh jadi akan segera mengalami kebosanan dengan masa-masa senggangnya lalu berharap ia bisa memiliki waktu yang produktif untuk mengisi hari-harinya yang kosong, sebagaimana seseorang yang berbahagia dengan banyaknya jam terbang untuk mengurus proyek bernilai milyaran rupiah, tidak mesti menunggu waktu yang lama baginya untuk segera ia merindukan waktu-waktu senggang yang dimiliki sejumlah pemuda.

Namun.

Adapula mereka yang selalu berbahagia dengan status lajangnya dan terus meningkatkan kualitas diri. Pun mereka yang telah berkeluarga, terus berbahagia dengan apa yang dilakukannya, semisal memandikan bayinya, atau sekedar mengajak keluarga kecilnya berkeliling kebun binatang. Ataupun ia yang senggang waktunya atas hal-hal dunia, namun ia menyibukkan dirinya dengan meletakkan dahinya di atas sajadah : pada malam-malam yang sunyi. Atau mereka yang dengan penuh kebahagiaan mengisi mimbar-mimbar mahasiswa dengan menyampaikan materi-materi yang berguna.

Keadaan seperti ini terus berputar dan bergulir dalam kehidupan kita, apapun profesi dan kegiatan yang kita lakukan hingga kemudian : mati.

——————————

Begitu sederhananya kehidupan.

Hingga nanti ketika kita dibangkitkan, kita baru akan menyadari bahwa ternyata, hidup di dunia sangatlah singkat jika dibandingkan dengan kehidupa akhirat, yang mana satu harinya adalah setara dengan seribu tahun.

—————————–

Karena sederhana itulah, dan karena singkat itulah, rasanya membagi kehidupan dengan orang-orang yang disayangi, dengan waktu yang sesingkat ini, terasa sangat sedikit. Belum lagi jika kemudian harus membaginya dengan orang yang disayangi, orang-orang terdekat, yang demikian banyak.

Mungkin itulah kenapa, Mimi tidak ingin bundanya menua : menjadi nenek-nenek. Karena dengan logikanya yang sederhana, ia menjumpai bahwa cenderungnya, orang-orang meninggalkan dunia dalam keadaan jasadnya yang menua. Sementara, ia tidak ingin hal tersebut terjadi.

——————————

Atau boleh jadi sebenarnya Mimi hanya tidak ingin bundanya terlihat peyote, kempot dan berkeriput. Entahlah.

——————————

Dan pikiran saya kemudian tertuju pada teman kontrakan saya di rumah.

Kamu kangen ibu dan bapak kan ? Kita bisa pulang ke rumah jika kau ingin.

Pun nanti setelahnya, kita bisa naik kereta ke Jakarta, lalu naik pesawat ke Batam. Kau ingin mengangkasa bukan ?

——————————-

Yang pasti, sepanjang apapun kebersamaan kita dengan orang-orang yang dikasihi, tidak akan memenuhi hasrat kita untuk tetap membersama. Maka tidak ada pilihan lain selain kita berusaha bersama-sama menuju kampung halaman. Di kampung bapak kita diciptakan : Di Tanah Surga.

 

Ditulis di Studio Radio Muslim Jogja

11 Rajab 1436 Hijriah,

Di hari terakhir di bulan April,

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

One thought on “Menua : Sebuah Renungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s