Bayangan di Bawah Hujan : Malam Itu

Bismillaah

Pada pekan ketiga bulan February lalu, saya mengharuskan diri untuk memindahkan seluruh barang-barang yang saya miliki di kantor eBimbel dan kamar sempit milik saya di Malvinas-Karang Asem menuju sebuah kontrakan sederhana di Kragilan-Sleman. Sebuah desa kecil yang sederhana, sejuk, dan benar-benar bersuasana desa. Saya katakan demikian karena masih banyak dijumpai persawahan terbuka di sana. Juga jalan-jalan sempit di antara persawahan yang memanjakan kaki dan tentunya memanjakan mata.

rain_in_rice_field2_by_jasdt-d350putSaya sering menghabiskan waktu pagi di sana, bersama teman kontrakan saya, sambil menyantap sarapan pagi yang kami beli di tepi jalan.

Lalu duduk di tepi sawah, dengan sepotong terangbulan, atau risoles dan bolu kukus.

Sembari menatap hijaunya padi. Juga burung pipit. Di tepi sungai-sungai kecil. Juga bunga-bunga tanaman putri malu.

—————————

Rabu senja itu, saya meninggalkan rumah dalam keadaan agak sedih dan tidak nyaman. Teman kontrakan saya mengeluh sakit perut. Entah ya, saya tidak tahu obat sakit perut semacam itu apa. Saya hanya berharap bisa segera pulang selepas kajian Tafsir Surat Al-An’am yang diselenggarakan setiap rabu ba’da Magrib bersama guru kami, Ustadz Aris Munandar hafidzhohulloh.

Selepas kajian, saya mendapatkan SMS dari seorang rekan di kantor. Katanya, ia sedang butuh penyiar karena penyiar yang seharusnya bertugas hari ini sedang berada di luar kota. Sayangnya, saya tidak bisa bergegas ke sana mengingat saya harus menyelesaikan sedikit urusan di kampus.

Saya sangat bergembira hari itu. Karena untuk pertama kali, selepas wisuda, penghasilan saya dari pekerjaan “part-time” bisa mencapai enam digit. Alhamdulillah, angka yang banyak untuk pekerjaan yang sifatnya santai dan berpenghasilan harian.

Selepas dari kampus, saya bersegera menuju studio, dan ‘alaa kulli-hal, ternyata siaran sudah dimulai. Saya terlambat.

But, well…. Tidak apa. Alhamdulillaah untungnya rekan saya bisa mengakomodir kebutuhan akan penyiar.

—————————

Saya kembali teringat pada teman kontrakan saya yang tadinya ia mengeluh sakit. Sebelum pulang, saya menyempatkan untuk membeli sejumlah kebutuhan dapur yang kebetulan sudah habis, serta sebuah obat pesanannya. Lalu mengarahkan kendaraan untuk pulang.

Lalu hujan turun.

Deras.

Di atas sebuah kendaraan yang menderu, di tengah-tengah kepadatan.

Di utara Mirota Kampus

Ketika lampu merah masih menyala.

Saya melirik jam digital besar serta penunjuk suhu udara di atas bangunan Mirota,

20:30. ~ 28° C

——————————

Tak lama, lampu segera menyala hijau. Saya mengarahkan kendaraan untuk membelok ke kanan, lalu menyusuri Ubud01WPjalan Prof. Dr. Sardjito, hingga menyeberangi jembatan dan kembali menjumpai lampu merah. Tidak begitu lama, untungnya. Dan saya meneruskan langkah kendaraan menuju arah barat hingga bertemu dengan pertigaan Borobudur Plaza. Sebuah mall yang sepertiya telah mati. Di sana saya belok kanan menuju ke arah utara hingga masuk ke area perkampungan kami, di balik gedung-gedung setinggi dua lantai itu.

Hingga akhirnya saya memasuki area persawahan, di muka perkampungan kami.

Sungguh gelap saat itu. Tidak ada pencahayaan pada malam itu melainkan hanya dari motor yang saya kendarai. Hujan masih turun dengan intensitas sedang. Tubuh saya menggigil. Kedinginan.

——————————-

Motor saya kini telah benar-benar memasuki area persawahan. Di antara padi-padi yang telah berisi namun belum menguning. Di tengah kegelapan malam. Di sebuah tepi Kota Jogja, di bawah hujan.

Dan tiba-tiba… dari arah depan. Beberapa ratus meter di arah barat. Terlihat sekelebat bayangan yang bergerak pelan. Terlihat seperti bayangan seseorang. Dan sebuah pedati. Tak lama, saya menyadari bahwa sekelebat banyangan tadi ialah seorang lelaki, dengan sebuah gerobak sampah di belakangnya.

——————————-

Usianya mungkin sekitar 40 akhir, atau 50an awal. Wajahnya kurus, dengan tatapan pandangan mata yang kosong ke depan. Tubuhnya terlihat tengah menggigil, dengan pakaian yang telah basah kuyub. Saya bisa melihat urat-urat tangannya yang menggenggam kokoh gerobak sampah yang ditariknya keluar dari perkampungan kami.

Saya tertegun. Tak tau bisa berbuat apa.

Tapi saya tau harus apa.

——————————-

Seketika saya merasa sangat bersyukur. Pekerjaan yang sedang saya lakoni adalah pekerjaan yang sangat ringan. Tidak perlu terlalu berlelah-lelah dan berpeluh-peluh. Namun penghasilan yang saya peroleh saat ini terbilang sangat mencukupi.

Dan ia – lelaki tua itu – ,

Di malam yang dingin itu, ia masih harus menarik gerobak entah sejauh mana. Dan entah sudah sepagi apa ia dengan gerobaknya.

Di bawah hujan.

Di tengah dingin malam.

Tanpa cahaya.

Tanpa sesiapa yang ia bersama dengannya.

——————————–

Semoga Alloh muliakan kehidupannya, yang masih kekeuh untuk mencari penghasilan yang halal. Tentu ia jauh lebih mulia ketimbang pengemis manapun. Terlebih, ia jauh lebih mulia ketimbang pengemis kaya dengan penghasilan mendekati setengah juta perhari, yang pura-pura berpenampilan cacat untuk memelas iba,  dan biasa mencari belas kasih di sekitaran kampus kami.

———————————

Tubuh saya juga menggigil kedinginan. Namun ketika itu, rumah saya sudah dekat. Hanya sekitar dua ratus meter lagi. Satu menit kemudian, saya sudah tiba di muka rumah.

Kontrakan kami sudah sepi. Dan saya menjumpai teman kontrakan saya tengah tertidur dengan wajah yang agak meringis menahan sakit.

Saya lalu memasak untuknya, meski seharusnya malam itu adalah jadwalnya memasak untuk kami.

Kami semua lalu makan dengan lahap.

Ada kesyukuran di sana.

Juga sebingkai senyum hangat.

Hangat sekali.

———————————-

Alhamdulillaahilladzhi bi-ni’matihi tatimmusshoolihaat.

@ruang studio Radio Muslim – Masjid Al-Hasanah Yogyakarta

Ahad, 24 Jumadil Ula 1436 Hijriyah / 15 Maret 2015 , 10:22

Ahmad Muhaimin Alfarisy ,  Ammi-nya Khaulah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s