Bagaimana Jika……

Pada suatu ketika menjelang tutupnya senja, sepeda motor yang saya kendarai seolah tanpa sadar berbelok menuju fakultas tercinta. Sepulang dari kantor hari itu.

Langit telah menguning. Ah, tidak-tidak. Menjingga tepatnya.

sunset-hd-widescreen-desktop-wallpapersOhya… boleh jadi ketika itu alam bawah sadar saya yang menggerakkan kedua lengan ini untuk membelok ke sana. Ya.. saya merindu untuk melantunkan adzaan. Memanggil para jamaah sholat magrib menuju Musholla Al-Ardhu milik fakultas yang penuh kenangan. Sekaligus sebagai pengobat rindu, nostalgia atas kenangan di masa lalu, ketika masih awal-awal di kampus ini. Ketika masih disibukkan di dunia aktivis kampus, sekaligus pejuang akademis. Sebuah masa-masa yang seharusnya lebih saya sibukkan dengan ilmu.

Setiba di beranda mushollah, saya jumpai bahwa ternyata mushollah sudah diadzani oleh adik kelas. Adik tingkat tepatnya, yakni rekan saya bernama Aziz, seorang pemuda berwajah lembut yang kini menjabat sebagai Ketua Jama’ah Muslim Geografi. Tak lama ia pun mengumandangkan iqomah sebagai penanda sholat jama’ah akan segera dimulai.

Dan…..

Jama’ah yang hadir ketika itu menunjuk saya untuk mengimami sholat mereka. Entah. Mungkin karena saya yang paling senior?

———————————–

Sungguh sejatinya saya tidak terlalu suka menjadi imam sholat di masjid atau di mushollah. Apalagi bacaan Al-Qur’an saya sebenarnya masih sangat biasa. Pun terkadang, saya bisa sangat gugup. Pernah suatu ketika dalam sholat Isya saya menjadi imam dan membaca satu halaman terakhir pada surat Az-Zumar. Saya hapal. Bahkan sangat lancar. Namun ketika momentum menjadi imam, saya lupa setengahnya. Kok bisa ?? Entahlah.

Dan pada hari itu, saya berencana membaca surah Yusuf hingga ayat ke 14 setelah Al-Fatihah. Agak panjang memang. Namun itu saya sengajai. Selain karena saya telah hafal dengan lancar, juga sebagai pertimbangan agar jama’ah tidak harus kehilangan beberapa rakaat, dengan asumsi jika bacaan yang saya ambil cukup panjang pada rakaat pertama, maka jamaah yang datang terlambat tidak akan kehilangan rakaat pertama

Mungkin akan ada kritikan atas hal ini, terutama karena secara tuntunan, bacaan yang diambil ketika sholat magrib tidak seharusnya sepanjang ini, yakni sebaiknya Juz 30 saja. Akan tetapi sungguh Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah mengambil surat Al-An’am dari awal ayat sampai selesai ketika memipin sholat magrib.

‘Alaa kulli-hal, ternyata bacaan saya ketika itu tersendat-sendat. Tidak lancar. Khususnya pada ayat ke 5 dan akhirnya saya putus (tidak sampai ayat ke 14 seperti rencana semula) pada ayat ke 6 dan memilih untuk mensegerakan ruku’.

Selepas sholat, saya merasakan perasaan jengkel yang sungguh teramat sangat. Terutama karena saya merasa, itu bukanlah kesalahan yang perlu terjadi. Betapa tidak, saya saat ini memang tengah menghafalkan surat tersebut. Dan bacaan yang saya  baca ketika memimpin sholat adalah bacaan yang sudah sangat lancar. Hafal di luar kepala. Sering saya baca ketika tengah berkendara atau ketika tengah beraktivitas. Dan, tidak ada yang tersendat-sendat ketika itu. Jangankan tersendat-sendat, keliru saja tidak. Maka wajar saja jika saya merasa kesal. Jika memang harus tersendat, kenapa kejadiannya adalah pada momentum tersebut ? kenapa bukan ketika sedang latihan ?

Kejadian pada petang hari itu serta merta kemudian mengingatkan saya pada sebuah kisah* di majelis ilmu beberapa waktu sebelumnya. Tentang seorang syaikh dengan burung kakaktua peliharaannya.

————————————

Alkisah, di sebuah negeri antah berantah, terdapat seorang syaikh yang ianya selalu mengajarkan ilmu agama. Banyak waktu yang ia habiskan dengan ilmu, baik dengan mengajarkan atau menghabiskan waktu untuk mempelajarinya. Dengan luas dan dalamnya ilmu yang ia miliki, maka banyak orang yang kemudian berguru padanya.

10597-bird-cage-1920x1080-artistic-wallpaperSuatu ketika, sang murid memberikan syaikh-nya sebuah hadiah, yakni seekor burung kakaktua atau sebangsanya. Namun yang jelas, burung tersebut memiliki kemampuan untuk menirukan suara manusia. Mengetahui hal ini, maka sang burung pun diajarkan untuk mengucapkan perkataan manusia. Tersebab sang burung tinggal bersama seorang yang sholeh, maka sang syaikh mengajarkan pada burung itu untuk mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illalloh”. Kalimat Tauhid. Sebuah kalimat yang paling agung. Sebuah kalimat yang dengannya, para nabi di utus ke muka bumi.

Tak berselang waktu yang lama, sang burung pun kemudian mampu dan sangat lancar membahasakan kalimat Tauhid tersebut dengan suaranya yang parau. Hari-hari ia biasa mengucapkannya. Bahkan boleh jadi tidak ada satu jam yang ada melainkan ia akan mengucapkannya.

Hingga suatu ketika, sang murid melihat sang syaikh menangis. Sebuah tangisan yang tidak biasa.

Sang murid pun kemudian bertanya kepada syaikh, perihal apa yang telah membuatnya menangis. Akhirnya ia ketahui, bahwa penyebab tangisan gurunya adalah karena burung peliharaannya baru saja mati, disambar oleh seeker kucing.

“kalau hanya itu, nanti akan kami berikan lagi seekor burung yang serupa dengannya wahai syaikh”

“sungguh bukan itu, yang aku pikirkan. Bukan kehilangan burung itu pula yang membuatku menangis. Melainkan apa yang terjadi ketika burung itu mendekati ajalnya. Tadi, seekor kucing tiba-tiba menyambarnya. Namun, ketika tubuhnya berada dalam cengkraman kucing, ia tidak bisa mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illalloh” seperti yang biasa diucapkan. Padahal, selama ini ia selalu mengucapkannya. Akan tetapi, ketika ajal menjemputnya, ia tidak bisa mengucapkan “Laa ilaaha Illaalloh” seperti biasa. Ia hanya meraung-raung saja, seperti halnya burung-burung pada umumnya. Maka dengan melihatnya, aku menjadi takut. Aku takut jika hal yang sama terjadi padaku. Ketika ajal menjemput nanti, aku tak bisa mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illaalloh”, padahal aku mengajarkannya setiap hari”

Kemudian hening……..

——————————

Itulah yang saya rasakan ketika itu. Selepas sholat magrib hari itu. Sesuatu yang sebenarnya sudah sering dilatih, sudah sering dibaca atau bahkan diamalkan sehari-hari, namun boleh jadi ketika tiba momentum yang penting, ia malah terlupa. Ia malah hilang entah ke mana.

Sungguh mengerikan, jika hal semacam itu terjadi di akhir-akhir hidup kita. Dalam sebuah hadits shahih dijelaskan, ada orang yang sepanjang hidupnya ia mengerjakan amalan penduduk surga, namun karena catatan takdir mendahulinya hingga pada akhir hayatnya ia melakukan amalan penduduk neraka, maka jadilah ia penduduk neraka. Sementara ada pula orang yang sepanjang hidupnya tampak padanya amalan penduduk neraka, namun karena catatan takdir mendahuluinya hingga pada akhir hayatnya ia melakukan amalan penduduk surga, maka jadilah ia penduduk surga.

Dan sungguh, tidak seorangpun tau, dalam keadaan semacam apa ia akan dimatikan. Maka saya berlindung kepada Alloh dari menjadi orang-orang yang termasuk pada golongan yang pertama.

——————————

Sungguh kegalauan terbesar adalah, nama-nama penduduk surga telah ditetapkan, sebagaimana nama-nama penduduk neraka telah pula ia ditetapkan. Sementara kita tidak tahu, di manakah nama kita terpahat.

Sungguh Alloh telah teramat sangat baik menciptakan kita terlahir sebagai seorang muslim. Padahal kita tidak memintanya. Semoga Alloh berikan kita surga ketika tatkala memintanya.

——————————–

Baarokallohu fiikum.

 

Pogung Baru, Blok D37, Sinduadi, Mlati, Sleman

8 January 2015, 07:16

Ahmad Muhaimin Alfarisy

———————————

*kisah ini dibacakan dalam kajian Riyadhussholihin, bersama Ustadz Amrullah Akhadinta, ketika menggantikan jadwal yang seharusnya diisi oleh Ustadz Afifi Abdul Wadud, setiap Sabtu, Ba’da Magrib-Isya, di Masjid Pogung Raya-Pogung Dalangan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s