Kisah-Kisah : Ketika Ilmu Tidak Membekas Pada Akhlak

10838138_10152714111792638_820352960434387124_oWell, berita pemecatan beliau menjadi angin segar senja itu. Betapa tidak, seisi kantor agaknya tidak menyukai tindak tanduknya, yang bak raja, tidak ingin dikritisi, dan pemarah. Saya tidak ingin berlaku ghibah di sini, hanya saja ingin sedikit berbagi kisah bahwa lamanya seseorang menuntut ilmu, tidak serta merta menjadikan ia pribadi yang unggul. Tentu saja termasuk diri saya sendiri.

Berikut adalah kisah-kisahnya…

——————————

Kisah #1

Kehadirannya menjadi sesuatu yang berkesan mengancam bagi seisi kantor. Tidak hanya karyawan utama, melainkan juga petugas dapur. Maka saya mengurangi jam kerja saya di kantor untuk mengurangi konflik. Juga ketidaknyamanan telinga ini ketika mendengar teriakan-teriakan yang menyebalkan, atau sekedar kata-kata kasar yang dilontarkannya dari lisan yang ringan. Ah, mengerikan sekali rasanya. Maka tidak heran, hampir setiap malam selepas kajian, rekan kerja saya yang lain mendatangi saya di rumah (kost) hanya untuk sekedar berbagi cerita apa yang luput dari saya di kantor pada hari itu. Bahkan suatu hari, pramuwisma mengadu kepada kami dengan mata yang berkaca-kaca, menceritakan tentang tentang perilaku kasar orang itu yang selalu berulang setiap pagi.

Satu hal yang terasa janggal adalah, beliau, tokoh utama dalam paragraph di atas, adalah salah seorang yang sudah cukup mahsyur di kalangan para ikhwah. Pun beliau tak jarang menginisiasi sebuah kajian yang besar. Kajian tematik yang belum sampai beberapa bulan lalu misalnya. Atau pada masa bulan oktober itu.

Kedekatannya dengan para asatidz jogja pun tidak usah diragukan lagi. Karena sebelum saya serius bersentuhan dengan dakwah sunnah di Jogja pun, saya sudah mengenalnya. Bayangkan. Saking terkenalnya.

Namun, realitanya itulah yang terjadi. Seisi kantor selalu dibuat tidak tenang dengan kehadirannya. Belumkah sampai hujjah padanya bahwa seorang muslim yakni seorang yang muslim lain selamat dari lisan dan tangannya ?

Subhanalloh, sungguh dekatnya seseorang dengan ilmu, tidaklah menjadi jaminan akan mulianya akhlaknya.

Kisah #2

Tentang seseorang yang tak berbeda jauh dengan kisah yang pertama. Ia adalah salah seorang yang sudah sangat mahsyur di kalangan para ikhwah. Akun facebooknya diikuti oleh ribuan orang. Kedekatannya dengan para asatidz juga tidak perlu diragukan. Status facebooknya pun sebagian besarnya adalah yang bermanfaat. Saya termasuk yang menggemarinya, hingga suatu ketika… pada kajian bersama Ustadz Afifi Abdul Wadud –hafidzhohulloh- , di Masjid Al-Ikhlash Karang Bendo, Depok….

Ketika itu saya sedang ditertawakan oleh beberapa ikhwan yang sama-sama duduk di area paling belakang. Penyebabnya adalah saya hampir-hampir tidak memiliki jenggot dan akhirnya dijadikan bahan bercandaan oleh rekan-rekan saya di belakang. Dengan tertawa kecil akhirnya saya berkata kepada rekan saya yang insyaAlloh ilmunya lebih dalam, tentang boleh tidaknya menggunakan obat penumbuh jenggot. Beliaupun kemudian menjawabnya, tentu dengan sepengetahuannya.

Saya kemudian bertanya lagi tentang sebuah pertanyaan yang lain, namun belum selesai pertanyaan itu saya utarakan, seseorang kemudian menepuk bahu saya. Saya lalu berbalik dan melihat laki-laki yang wajahnya tentu sangat familiar berdiri dari balik pagar kemudian berkata

“Jangan buat kajian sendiri !”

Saya kaget. Merasa bersalah, dan tentunya tersipu malu. Saya merasa malu karena ditegur secara terbuka didepan umum, serta dengan suara yang cukup besar. Tapi it’s okay. Saya mah ndak masalah. Wong saya yang salah. Hehe. Akan tetapi hati saya menggatal sesaat kemudian.

Do you know why ?

Engga lama kemudian, beliau duduk agak di belakang kemudian mengobrol. Sampai akhir majelis.

#toeng -_-

Saya rasanya kesal sekali ketika itu. Ingin rasanya langsung berkata yang serupa dengannya. Dengan suara yang sama besarnya, dengan cara yang serupa seluruhnya. Hanya saja saya masih mempertimbangkan etika akhii.

Beberapa menit sebelumnya saya merasa agak dipermalukan seperti anak kecil. Lalu tegakah saya mempermalukan laki-laki yang sudah berkeluarga itu dengan cara yang sama ? Hehe. Meski caranya sama, namun tentu saja efeknya tidak sama. Pertama, ia jauh lebih tua. Kedua, ia baru saja menegur saya dengan kesalahan yang hanya berselisih beberapa menit kemudian ia lakukan. Di depan saya!

Belumkah sampai hujjah padanya, bahwa Alloh sangat membenci orang yang mengatakan apa yang ia sendiri tidak melakukanya ?

Akh, tambah jelaslah akhii, lamanya seseorang menuntut ilmu tidak selalu koheren dengan akhlaknya.

Kisah#3

Kejadiannya baru pada hari sabtu lalu. Masih di kajian bersama Ustadz Afifi Abdul Wadud –hafidzhohulloh-, saya menyempatkan berdiskusi dengan rekan saya bernama Alfi, yang ianya tengah kesulitan menemukan judul untuk tugas akhir skripsinya. Mengingat kami berada pada bidang ilmu yang hampir serupa, maka kesempatan itu saya luangkan.

Kami lalu mengambil tempat di salah satu tiang di sebelah tangga Masjid Pogung Raya, Mlati. Kebetulan ketika itu, saya membawa Al-Qur’an terjemah [bukan mushaf] hadiah dari Mbak 5 tahun lalu, serta buku catatan kajian yang berbentuk binder dengan isi kurang lebih 300 halaman. Saya kemudian meletakkan buku catatan tersebut di atas lantai, dan Al-Qur’an terjemah tepat di atasnya. Dan pembicaraan dimulai. Tak lama kemudian saya mendengar suara seseorang dengan aksen yang saya kenal

“Jangan taroh di lantai” katanya.

Bagian yang menyebalkannya adalah, ketika itu sang pemilik suara serta merta mengambil Al-Qur’an terjemah milik saya lalu menaruhnya di kepala saya lalu berjalan pergi. Saya kaget. Terlebih Al-Qur’an tadi hanya berada sepersekian detik di atas kepala saya dan segera jatuh ke arah punggung. Alhamdulillah, untungnya tangan saya segera sigap dan menangkap Al-Qur’an tersebut sebelum ia menyentuh lantai. Saya rada sebel ketika itu, sehingga saya berkata padanya

“Iya tapi gak gini juga kali caranya Mas !”

Saya beristighfar setelahnya. Karena emosi saya ketika itu sangat terpancing. Sebuah emosi yang terakhir kali saya rasakan setahun lalu pada masa KKN, ketika salah seorang peserta KKN merendahkan hakikat seorang istri.

Saya benci dengan cara itu. Menegur dengan cara yang sangat kanak-kanak. Kebencian itu saya wujudkan dengan kata-kata tadi dengan agak sedikit keras.

Saya mempertanyakan etikanya.

Ia kemudian melihat saya dengan wajah yang juga kaget. Agak kecele. Lalu pergi.

Yang patut diketahui, dari tiga kisah yang telah saya ceritakan, tokoh pada kisah ketiga ini adalah yang paling ma’ruf. Yang paling dikenal. Tidak hanya pada majelis-majelis yang ada di Pogung, melainkan juga majelis-majelis kelompok ikhwani. Pun pada sebagian yang masih beragama abangan. Beliaupun sudah lama bersentuhan dengan sunnah. Lebih dari sepuluh tahun jelasnya. Namun akhi, kembali ingin saya jelaskan, bahwa lamanya seseorang menuntut ilmu tidak selalu koheren dengan akhlaknya. Dan kisah ini membuktikannya.

——————————

Kisah saya di atas tidaklah bertujuan untuk menggibahi sekelompok orang yang sebenarnya sudah mahsyur akan  kedalaman ilmunya. Saya tidak pula ingin menelanjangi sebagian orang tertentu yang boleh jadi dengan membaca kisah ini, sebagian orang akan mengenali sesiapa yang sedang saya ceritakan. Tujuan kisah ini hanyalah untuk membuktikan kepada kita semua, bahwa ilmu tidaklah selalu koheren dengan akhlaknya.

Tidakkah kita mengingat para salaf terdahulu, yang tiadalah mereka akan melanjutkan mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an dalam setiap 10 ayat, melainkan mereka telah menggali seluruh ilmu yang terdapat pada ayat tersebut, serta mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya.

Akh, betapa jauhnya kita dari para salaf akhii!

Berapa juz Al-Qur’an yang telah kita hafalkan ? Berapa hadits yang telah kita pelajari dan hafalkan ? dan berapa ratus halaman sudah catatan kajian yang sudah kita buat ? Lalu berapa banyak efeknya terdapat akhlak kita?

Ilmu ini seutuhnya milik Allah. Berapa banyak orang yang belajar agama tak begitu lama, namun ilmunya bermanfaat untuk dirinya dan banyak orang. Di belahan dunia yang lain, berapa banyak orang yang mempelajari agama ini begitu lama, namun ilmunya tidak bermanfaat untuk dirinya dan orang lain..

Memohonlah taufik kepada Allah.. Nabi kita mengajarkan, selain memohon kepada Allah tambahan ilmu, jangan lupa pula untuk memohon kepada Allah agar ilmu yang didapat berkah dan bermanfaat…

Dan tanda pertama dari bermanfaatnya ilmu agama pada seseorang adalah memulianya akhlak yang ada pada dirinya.

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata

“Agama seluruhnya adalah akhlak. Barang siapa yang semakin baik akhlaknya, maka semakin baik pula agamanya”

————————–

Lalu akhii, mereka yang telah saya kisahkan di atas, yang ia telah menuntut ilmu cukup lama bahkan boleh jadi berpuluh tahun, sangat bisa melakukan sebuah perbuatan yang menandakan buruknya akhlak, lalu bagaimana pula dengan kita yang baru menuntut ilmu beberapa bulan  atau beberapa tahun ? Boleh jadi tanpa kita sadari, dan tentunya sangat mungkin, kita lebih buruk darinya.

Semoga Alloh memperindah akhlak kita.

Baarokallohu fiikum.

Selesai ditulis di Pogung Baru

Selasa 09 Desember 2014 , 11:35

Ahmad Muhaimin Alfarisy

—————————

Tulisan ini pun tidak menjeneralisir keseluruhan akhlak tokoh-tokoh yang saya kisahkan. Kecuali tokoh pada kisah yang pertama, mengingat saya cukup lama bekerja pada satu atap yang sama dengannya.

PS : tulisan ini masih setengah jadi.

Advertisements

One thought on “Kisah-Kisah : Ketika Ilmu Tidak Membekas Pada Akhlak

  1. yang ia telah menuntut ilmu cukup lama bahkan boleh jadi berpuluh tahun, sangat bisa melakukan sebuah perbuatan yang menandakan buruknya akhlak, lalu bagaimana pula dengan kita yang baru menuntut ilmu beberapa bulan atau beberapa tahun ? Boleh jadi tanpa kita sadari, dan tentunya sangat mungkin, kita lebih buruk darinya.

    Astaghfirullah… ampuni hamba.. bener bener jadi cerminan diri… barakallahu fiyk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s