Mbak….

Suatu ketika ‘Amr Bin ‘Ash datang menemui Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dan kemudian bertanya kepada kekasih Alloh Tabaroka wata’ala itu,

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384))”

Well, jika pertanyaan yang sama kemudian ditanyakan pada saya, maka saya akan sangat bingung siapa yang berada pada urutan yang pertama dan kedua. Apakah ia Ibu, atau Nona Zahrah. Namun saya pastikan yang berada pada urutan ketiga adalah Mbak ‘Aisyah Ummu Maryam.

Lha, ini teh perempuan semua ?? Hehehe.

——————————-

Selepas sakit yang agak lama [9 hari tepatnya, dan menjadi rekor sakit dengan durabilitas terlama yang pernah saya alami], saya menyadari bahwa saya belakangan ini sangat sedikit berbicara, dan di masa-masa ketika saya tengah sakit-sakitnya, teman bicara saya hanyalah Mbak di sana. Di seberang lautan sana. Untunglah jarak menjadi sesuatu yang tak berarti lagi. Atau setidak-tidaknya,tidak terlalu berarti.

Hampir setiap hari saya selalu berbincang dengannya. Tentang sebuah perjalanan hidup yang tidak sederhana –melelahkan tepatnya, kenangan-kenangan manis di masa lalu ketika masih tinggal di bibir sungai – pada sebuah desa yang tak terjangkau oleh peta, kemudian tentang sebuah urusan yang tengah saya jalani – yang semoga Alloh memberkahinya, dan biasanya berakhir pada pembicaraan tentang rumah tinggal nanti. Di suatu hari nanti.

“Kaya-nya nanti aku mau tinggal di Bandung aja Ayu Sia”

Saya memanggil beliau begitu. “Ayu Sia” . Panggilan semenjak masih kanak-kanak dahulu.

“Kenapa dek, kok di sana ?”

“Engga tau. Pengen aja.”

“Yaudah, ayoklah. Kami (sekeluarga) juga rencananya pengen tinggal di sana. Nanti kita tetanggaan, hehe”

——————————

Hhm…

memories1Yang sering Mbak saya kenang ketika saya pulang adalah pada suatu ketika, sepulang pawai acara tujuh belasan lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika kami masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah, kami mampir untuk membeli sebuah “kemplang” yang sangat enak di belakang sekolah. Kemplang berbau ikan yang sangat nikmat, juga pedas. Atau mungkin karena pedasnya, ia memecah papila kami sehingga makanan biasapun terasa enak. Entahlah. Boleh jadi begitu.

Namun, Mbak selalu ingat itu. Saya juga.

Kadang saya berpikir, ingin kembali pada masa-masa itu. Jika waktu mau menunggu, rasanya saya ingin begitu saja. Kembali pada masa-masa itu. Ketika Nona Zahrah masih kecil mungil, ketika Mamah dan Abah yang menghidupi kami masih hidup miskin namun penuh kesyukuran, serta saya dan Mbak masih berseragam putih-biru, sebuah seragam khas madrasah kami dahulu.

—————————–

Sekarang, si Mbak teh sudah berbahagia, dengan seorang suami yang baik agamanya, dengan dua anak perempuan yang cantik lagi comel. Nona Maryam dan Nona Khaulah. Keluarga kecil yang hidup bersederhana.

Semoga Alloh menjagamu dan keluargamu Mbak. Terimakasih sudah mau menjadi Mbak saya. Dan semoga Alloh tetap menjadikan saya sebagai adikmu lagi, nanti di taman surga.

Bersama Nona Zahrah tentunya.

—————————–

Mbak, Aku kangen.

05 December 2014, 17:06

Alfarisy – Adiknya Mbak ‘Aisyah Ummu Maryam.

Advertisements

2 thoughts on “Mbak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s