Ketika Ada Akhwat yang Menawarkan Dirinya

snow_on_a_red_leaf_wallpaper_b0069Sudah lama sekali rasanya tidak menuliskan sesuatu di laman ini. Hampir sebulan kah ? Akh tidak juga. Beberapa hari yang lalu saya sempat menulis sesuatu, meski hampir tidak berfaedah apa-apa.  Biasanya jika tidak menulis, itu adalah sebuah pertanda jika sebenarnya saya sedang dalam kondisi futur. Ah sedihnya. But not this time. Saya tidak sedang futur. Hanya saja, sebulanan ini saya sedang disibukkan dengan mencari ma’isyah. Buat apa Mas Alfa ? Ehm rahasia. Yang jelas, selepas kajian riyadhussholihin bersama Ustad Abu Usamah Zaid Susanto petang ini, jemari saya sangat gatal untuk menuliskan hal ini. Hehe.

 

 

————————————

Adalah ibunda saya, dan ibunda antum semua, Khadijah binti Khuwailid radiallahu ‘anha, adalah seorang perempuan agung yang ia sendiri menawarkan dirinya kepada Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dan penawaran dirinya ketika itu tidaklah menjadikan ia perempuan tercela lagi hina. Tidak pula serta merta merendahkan statusnya yang merupakan pembesar kota Mekkah. Penawaran dirinya tidak hanya diterima, melainkan justru kemudian menjadikan ia terhormat dan bermahkotakan penduduk surga setelahnya.

Dalam sebuah kisah yang lain dapat kita temui, pada suatu ketika, dari Sahabat Anas –radiallahu ‘anhu-

“Ada seorang wanita yang datang menemui Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam. Ia menawarkan dirinya kepada beliau. Wanita ini berkata : wahai Rasululloh, apakah engkau membutuhkanku (maksudnya mau kah engkau menikahiku?”) kemudian Putri dari Anas berkomentar tentangnya “Wanita ini benar-benar tidak memiliki rasa malu!. Lalu Anas berkomentar “Dia itu lebih baik daripadamu. Ia menginginkan menikah dengan Rasululloh, maka dia menawarkan dirinya kepada beliau (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Seorang perempuan boleh menawarkan dirinya kepada seoang laki-laki asalkan tidak adanya kekhawatiran munculnya fitnah dengannya. Sebab jika dikhawatirkan muncul fitnah dari penawaran diri tersebut, maka hal ini tidak diperbolehkan, sebab bisa terjadi kerusakan. Sementara Alloh ta’ala tidak menyukai adanya kerusakan.

Hadits di atas memuat dalil bolehnya seorang wanita menawarkan diri terhadap seorang lelaki untuk kemudian dinikahi. Meskipun pada akhirnya Rasululloh shallalhu ‘alayhi wasallam tidak menerima penawaran diri sang wanita, namun beliau tidak mengingkari perbuatan tersebut. Sekiranya perbuatan tersebut adalah sebuah hal yang terlarang, maka tentu saja saat itu juga Rasululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam akan serta merta mengingkarinya, mengingat Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak akan membiarkan adanya kemungkaran di tengah-tengah sahabat.

Seorang wanita boleh saja menawarkan diri, kepada seorang laki-laki namun dengan catatan, bahwa lelaki tersebut adalah seseorang yang sholeh. Akan tetapi, penyampaian ini tidak boleh tidak, harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam.Sebab, seorang muslimah sebaiknya memiliki harga diri dan nilai tawar yang tinggi. Yang keduanya ini hanya boleh dibeli dengan kesholehan dari si laki-laki yang ia hendak tawarkan dirinya terhadapnya.

Sungguh hal ini sejatinya bukanlah sebuah hal yang buruk meski pada sejumlah kondisi atau pada sekelompok masyarakat, ia menjadi sebuah hal yang tabu. Namun apalah artinya sebuah ke-tabu-an sementara ia boleh jadi akan dihargai dengan sebuah kenikatan yang besar ? Maksud saya, dengan mendapatkan seorang lelaki yang sholeh sebagai suami? Bukankah ini adalah sebuah hal yang sangat langka di zaman ini?

Akan tetapi di sisi lain, jika wanita menawarkan dirinya kepada seorang lelaki hanya karena tujuan-tujuan duniawi, maka sungguh hal tersebut adalah perbuatan yang teramat sangat buruk dan sebenarnya ia telah membuka jalan untuk keburukannya sendiri.

Al-Hafidz ibnu Hajar Al-Ashqolani –rahimahullohu ta’ala-, penulis kitab Fathul Baari syarh Shahih Bukhari menuturkan

“Dalam hadits Al-Bukhari tersebut, menunjukkan bolehnya bagi wanita untuk menawarkan dirinya kepada lelaki untuk dinikahi, dan boleh memberitahukan bahwa ia menyukainya. Perbuatan ini InsyaAlloh tidak akan merendahkan martabatnya. Adapun bagi lelaki yang mendapatkan tawaran ini, ia memperoleh hak untuk menerima atau menolak. Akan tetapi, apabila ia hendak menolak, janganlah ia mengucapkan dengan terus terang, cukuplah dengan diam.

Namun Rasululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah menikahi wanita yang menghibahkan dirinya kepada beliau. Semua istri nabi adalah wanita yang dinikahi dengan aqad pernikahan biasa, atau budak wanita yang dihadiahkan kepada beliau (yakni Mariah Al-Qhibthiyyah).

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir membawakan ucapan Ibnu Abbas

“Tidak ada seorangpun istri Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dari wanita yang menghibahkan dirinya kepada beliau”

Sehingga, ini sekaligus sebuah peringatan kepada setiap wanita. Jika memang keinginan tersebut ada, yakni keinginan untuk menawarkan diri kepada seorang lelaki, maka sejak awal pastikan bahwa ia adalah seorang yang sholeh, dan jadikan kesholehan dari sang pria tadi sebagai sebuah hal yang paling utama dalam pertimbanganmu menawarkan diri padanya. Memang pasti dan akan selalu ada kemungkinan bagi sang wanita untuk ditolak. Akan tetapi, jika memang niatnya adalah untuk mencari ridho Alloh yang Maha Kasih, maka apa yang Alloh ta’ala tetapkan setelahnya, tentu adalah hal yang terbaik.

———————————–

Ohya, judul kali ini frontal sekali Mas Alfa ?

hehe. Tidak apa.

Semoga bermanfaat. Baarokallohu fiikum.

Ditulis ketika sedang menanti….

Sleman, Ahad, 26 Oktober 2014 22:03

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s