Sebab, Pelaku Maksiat pun Bersabar

patienceSekitar dua pekan yang lalu, saya menyempatkan diri untuk bersua dengan seorang teman lama. Ya, teman lama jika ia layak dikatakan demikian. Sebab, sebenarnya kami berasal dari satu jurusan yang sama, dari universitas yang sama, bahkan pernah dalam organisasi yang sama. Seorang rekanan yang sudah layaknya sahabat hingga waktu dan perbedaan pemahaman memisahkan kami berdua. Kami berdua berjanji untuk bercengkrama di foodcourt UGM. Di tengah lautan orang-orang yang kebanyakan tengah berkasih-kasih dengan pujaan hati yang tak halal. Sementara kami, dua perjaka yang bersendiri di sebuah meja kayu berwarna cokelat, tepat di sebelah barat.

Diskusi awalnya berjalan hangat, hingga kemudian datang seorang wanita yang setidak-tidaknya dua tahun lebih muda dari kami berdua, untuk menyela dan berbicara dengan rekan saya sore itu. Dari pembicaraan yang terdengar oleh saya, maka dapat saya simpulkan bahwa sang wanita datang untuk meminta beberapa nasihat atau semacamnya dari rekan saya, untuk sebuah kegiatan yang cukup besar. Saya katakan cukup besar, karena saya sempat mendengar disebutnya beberapa nama besar di negeri ini, seperti misalnya Muhamaad Nuh, Moeldoko, dan sejumlah nama lain yang tentunya sangat familiar di telinga kita. Pada akhirnya saya mengetahui, bahwa sang wanita selepas itu, akan segera berangkat ke stasiun menuju kota Jakarta untuk sebuah audiensi dengan pihak-pihak yang disebutkan dalam kisahnya, dengan hanya ditemani oleh seorang rekannya yang lain, yang juga seorang wanita.

Saya merenung kala itu. Dan teringat akan materi kajian yang disampaikan oleh guru kami, Ustadz Aris Munandar –hafidzhohullohuta’ala- dalam pembacaan kitab “Qowlul Mufid” sebuah kitab Tauhid yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-‘Utsaimin –rahimahullohu ta’ala-

—————————–

Perhatikan firman Alloh ta’ala berikut ini ketika menjelaskan tentang orang-orang kafir Quraisyh

Sesungguhnya hampirlah ia (yaitu Nabi Muhammad) menyesatkan kita dari sembahan- sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya” dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalanNya. (QS Al-Furqoon : 42)”

Al-Hafidzh Ibnu Katsir –rahimahullohuta’ala- berkata tentang ayat ini

“Maksud mereka yaitu hampir-hampir saja Muhammad- shallallahu ‘alayhi wa sallam- memalingkan mereka dari penyembahan berhala-berhala mereka kalau bukan karena kesabaran mereka, keteguhan mereka, dan kesinambungan mereka dalam menyembah berhala-berhala mereka” (Tafsiir Ibnu Katsiir 6/113)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka kaum musyrikin membanggakan kesabaran mereka dalam kesyirikan, karena kesabaran merekalah yang menyelamatkan mereka dari dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hampir-hampir mereka terpengaruh dengan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi kesabaran merekalah yang telah menyelamatkan mereka. Merekapun membanggakan kesabaran mereka ini !! (Lihat At-Tahriir wa At-Tanwiir 19/33)

Bahkan lebih dari itu, merekapun saling menasehati dalam kekafiran mereka, seperti yang Alloh ta’ala jelaskan dalam sebuah ayat yang lain

Dan Pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan bersabarlah untuk tetap (menyembah) tuhan-tuhanmu, Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki (QS Shaad : 6)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata tentang ayat ini

“Karenanya mereka (kaum musyrikin Arab) saling berwasiat (saling menasehati) untuk bersabar di atas kesyirikan mereka….adapun kaum mukminin maka mereka sebagaimana firman Allah ((Dan saling berwasiatlah kalian dengan kebenaran dan kesabaran))” (Taisiir Al-Kariim Ar-Rohmaan hal 583)

—————————

Kaitannya dengan kisah saya di atas, maka dapat kita lihat betapa besar kesabaran sang wanita untuk mengurus sebuah hal yang sebenarnya dapat kita simpulkan hampir tidak memiliki kebermanfaatan apapun untuk akhirat. Acara atau kegiatan yang disebut-sebut sang wanita itu tadipun sebenarnya jelas-jelas bukan sebuah kegiatan yang bermanfaat, yang sarat akan pahala. Alih-alih, ia justru dipastikan menimbulkan banyak dosa sebagaimana acara-acara kampus lainnya yang mahsyur kita ketahui.

Dan perhatikan pula kisah saya di atas, tentang sang wanita yang agaknya sedikit terburu-buru untuk kemudian berangkat ke sebuah stasiun dan berangkat menuju Kota Jakarta menggunakan sebuah kereta. Jika antum pernah menjadi penumpang sebuah kereta, maka antum akan mengetahui betapa menderitanya berada di dalam kereta ekonomi di Indonesia (asumsi kereta ekonomi ini saya ambil dengan melihat person dalam kisah yang masih merupakan mahasiswa), seperti kita harus berada diantara campur baur yang tidak mengenal hijab di dalam kereta, di tengah ketidaknyamanan kursi dan kepengapan kabin, di antara kelelahan tubuh yang berpeluh-peluh, atau posisi duduk yang tidak akan mungkin sebebas seperti yang kita terbiasa dengannya, toilet yang cenderung kurang nyaman, dan segalanya.

Maka lihatlah betapa besar kebersabaran yang dilakukan oleh sang wanita tadi. Sebuah kebersabaran yang dibangunnya untuk sebuah perkara yang tidak ada sama sekali manfaatnya untuk kehidupan akhiratnya kelak. Sebuah kebersabaran yang benar-benar teguh lagi kokoh.

Contoh lain yang bisa kita perhatikan adalah.

Dulu, pada masa-masa ketika budaya ketimuran masih kental di negeri ini, maka para wanita yang tampil bitchy dengan tanktop, hotpans dan pakaian-pakaian mini lainnya telah dicecar, dihina dan dikucilkan dari masyarakat karena melanggar banyak norma dan aturan. Akan tetapi, mereka tetap bersabar dan bertahan dengan penampilan mereka yang tidak senonoh itu, hingga kemudian banyak yang meniru mereka, dan banyak pula yang akhirnya bersikap toleran kepada mereka. Hingga pada akhirnya kemudian, pakaian sedemikian ini menjadi sebuah hal yang lumrah, populer, dan bahkan masyarakat kini sangat permisif akan penampilan tidak senonoh sepert itu.

Dan sebaliknya, “dakwah” mereka tentang “baik” nya berpakaian bitchy yang memamerkan aurat dengan gratis itu berhasil membuat mereka yang berpenampilan syar’i, sesuai sunnah, sopan dan tidak menimbulkan fitnah, justru dikatakan sebagai golongan-golongan yang sesat dan menyesatkan. Yang dikatakan berbahaya dan harus diawasi gerak-geriknya. Atau yang dilabeli teroris dan harus dijauhi keluarganya.

Maka sungguh, kita yang demikian ini, kita yang berada tegak di atas kebenaran ini, jauh lebih berhak dan jauh lebih pantas untuk bersabar. Dan sudah sepantasnyalah kita, jauh lebih bersemangat dan bersabar dalam mencari hal-hal yang memberikan banyak kebermanfaatan kita di akhirat. Sebagaimana banyak orang-orang di luar sana yang begitu semangatnya melakukan hal-hal yang tidak memberikan kebermanfaatan apa-apa untuk perkara akhiratnya, atau bahkan akan menenggelamkannya menuju jurang-jurang dan palung-palung jahannam.

Bersabar di dunia akan sangat bermanfaat. Namun tentunya kebersabaran yang dimaksud adalah kebersabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Alloh tabaaroka wata’ala. Karena, kebersabaran di dunia akan membuat kita menyemai sebuah hadiah yang sangat besar, yakni surga. Maka bersabarlah akan apa-apa yang bermanfaat bagimu, untuk meraih hadiah yang teramat sangat besar itu. Karena, sungguh kebersabaran sudah tidak ada artinya lagi, jika kita berada di dalam api neraka. Semoga Alloh melindungi kita darinya.

———————–

Dan di akhir, izinkanlah saya untuk mendoakan sang wanita tadi, agar kelak suatu ketika nanti, Alloh ta’ala Al-Lathief, akan melembutkan hatinya dan mengusap lembut hatinya dengan cahaya hidayah. Hingga kemudian ia sadar akan apa-apa yang sebenarnya lebih pantas untuk ia perjuangkan, untuk ia usahakan, dan untuk ia bersabar di dalamnya.

———————-

Tulisan ini tentunya tidak mengatakan bahwa saya lebih utama. Bahkan, justru saya adalah yang paling berhak dan lebih pantas untuk menjadi yang pertama kali diingatkan tentang apa yang saya tuliskan ketika ini.

Semoga bermanfaat

Barokallohu fiikum.

Ditulis ketika sedang menanti…

Jogjakarta,

September, 14th 2014, 13:54

Ahmad Muhaimin Alfarisy

————————————

Referensi

http://firanda.com/index.php/artikel/35-amalan-hati/229-kesabaran-pelaku-maksiat

Advertisements

3 thoughts on “Sebab, Pelaku Maksiat pun Bersabar

  1. Reblogged this on Rain, Rainbow, and Cloud and commented:
    Setuju banget sama tulisan beliau yang satu ini, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang banyak.

    Kenapa terkadang (atau bahkan sering) kita mampu bersabar, rela untuk bersusah-susah, dan berjerih payah, untuk sesuatu yang pada dasarnya tidak bermanfaat bagi akhirat kita, namun kita mudah sekali mengeluh, menyerah, dan kurang sabar untuk sesuatu yang bermanfaat untuk akhirat kita?

    Jika mereka mampu untuk bersabar,
    Seharusnya kita jauh lebih mampu…

  2. Reblogged this on Ryan Isra | Tech | Life and commented:
    Mengingatkan surat Al-Baqarah, yaa ayyuhalladziina aamanuu wasta`iinuu bish-shabri wash-shalaati, innallaha ma`ash-shaabiriin. Kalau lah yang suka bermaksiat tetap teguh di atas kesabaran mereka bermaksiat (padahal mereka mengikuti langkah-langkah syaiton), maka pantaskah orang-orang yang memiliki Allah Al-Hayyu Al-Qoyyum sebagai pelindung, sebagai penjaga, sebagai pemberi petunjuk kalah dalam hal kesabaran mereka dibandingkan kesabaran orang-orang yang bermaksiat?
    Pantaskah orang-orang yang berharap wajahNya dan penuh keridha-anNya untuk menyerah dan berhenti bersabar pada titik itu?
    Dan ingatlah, pertolongan Allah ta`ala itu dekat.
    Ingatlah bahwa cobaan kalian belum ada apa-apanya dibandingkan cobaan Nabi shalllahu `alaihi wasallam dan para sahabat radhiallahu `anhum.

    Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,
    يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
    “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
    « الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »
    “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
    وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ
    “Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.” Al Istiqomah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/260, Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud, cetakan pertama, 1403 H.

    Subhaanallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s