Tadabbur Al-Ahqaaf Ayat 34-35

Bismillahirrohmanirrohim

Ini adalah sebuah tadabbur Al-Qur’an yang saya lakukan, dengan tujuan utama adalah untuk kebermanfaatan saya pribadi. Tadabbur yang saya lakukan, sekali lagi, tidak layak untuk dijadikan hujjah.

———————————

Alloh Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang agung

Dan ingatlah pada hari ketika orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (mereka akan ditanya): Bukankah (azab) ini benar?” Mereka menjawab “Ya benar, demi Tuhan kami”. Alloh berfirman “maka rasakanlah azab ini karena kamu dahulu mengingkarinya” [34]

17019-world-in-a-book-1920x1200-digital-art-wallpaperAyat di atas menceritakan tentang gambaran keadaan orang-orang kafir di akhirat nanti yang dihadapkan kepada mereka api neraka yang menyala-nyala. Pada masa itu, putuslah seluruh harapan yang tersisa, karena keadaan mereka adalah orang-orang kafir sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat di atas. Dosa kekafiran adalah dosa terbesar yang sangat mungkin terjadi pada manusia. Hanya saja tidak seluruh manusia menyadari, apa-apa saja yang menyebabkan seseorang telah masuk ke dalam kekafiran.

Sementara, sebagaimana yang kita ketahui bahwa tidaklah ada waktu penghujung bagi mereka yang kafir, untuk dikeluarkan dari neraka. Atau dengan kata lain, ia akan disiksa selama-lamanya. Tanpa ada waktu untuk berisitrahat barang sedetikpun dengan api neraka.

Sebagian orang kemudian melemparkan syubhat terkait kenapa orang-orang kafir disiksa untuk selama-lamanya di dalam api neraka, sementara sebenarnya di dunia ia hanya melakukan kekafiran selama hitungan puluhan tahun saja, atau beberapa tahun saja yang tidak terlalu lama (jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat)?

Maka jawaban yang pernah saya dengar terkait syubhat ini kurang lebih demikian

“karena mereka telah berbuat kekafiran dan mati dalam kekafiran tersebut. Sekiranya ia tetap hidup dalam waktu yang lama, atau dalam waktu yang sangat lama, maka ia tetap akan hidup dalam kekafiran tersebut. Sebagaimana halnya orang-orang yang dianugerahi surga padanya meski ia hanya melakukan ketaatan dalam waktu yang sebentar dan mati dalam ketaatan tersebut. Yakni apabila diberi umur panjang padanya, ia tetap akan terus melakukan ketaatan hingga waktu yang ditentukan untuknya habis”

Orang-orang kafir terdahulu terbiasa mengejek dan menghina para Rasul. Seperti kaum Nuh yang mengina Rasul yang diturunkan di tengah-tengah mereka, hingga Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam yang diturunkan pada 14 abad yang lalu. Sebagian diantara mereka bahkan meminta agar azab itu segera diturunkan pada mereka, yang menunjukkan betapa angkuh dan sombongnya mereka atas ajaran yang haq yang disampaikan kepada mereka.

Semisal anak dari Nabi Nuh, yang bersikukuh untuk tidak naik ke dalam bahtera ayahnya dan memilih untuk mencari tempat yang tinggi pada sebuah gunung yang ia pikir akan menyelamatkannya. Atau kaum Luth yang Alloh balikkan buminya hingga benar-benar terbalik. Sungguh cara mati yang sangat-sangat terhina.

Maka kemudian Alloh ta’ala katakan “maka rasakanlah azab ini karena kamu dahulu mengingkarinya” yakni sebagai bentuk bantahan atas perkataan orang-orang yang mengingkari azab Tuhannya setelah ditegakkan bukti-bukti dan kalimatul-haq kepada mereka.

———————————–

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran Rasul-Rasul yang memiliki keteguhan hati dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah tinggal (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari. Tugasmu hanya menyampaikan. Maka tidak ada yang dibinasakan kecuali kaum yang fasiq (tidak taat kepada Alloh).

Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam termasuk diantara “Ulul ‘Azmi”, yakni orang-orang pilihan yang dipuji karena besarnya kesabaran dan keteguhan hati yang dimiliki. Rasul lain yang diberikan pujian akan hal ini adalah Nuh ‘alayhissalaam, Musa ‘alayhissalaam, Ibrahim ‘alayhissalaam, dan Isa ‘alayhissalaam.

Terkadang kita didengungkan dengan seorang hamba Alloh yang mulia lainnya yang dikenal dengan kesabarannya yakni Nabi Ayyub ‘alayhissalam. Akan tetapi kenapa ia tidak dimasukkan sebagai salah satu diantara Ulul ‘Azmi ? Terkait pertanyaan ini, saya pernah mendengar jawabannya yang kurang lebih demikian

“yakni karena kesabaran yang dihadapi oleh Nabi Ayyub lebih kepada kesabaran untuk menghadapi cobaan-cobaan yang sifatnya sangat pribadi seperti penyakit, hilangnya harta kekayaan dan anak-anak, hingga ditinggalkan oleh istri. Sedangkan cobaan yang dihadapi para Rasul di atas adalah cobaan yang sifatnya sangat luas dan besar, yakni cobaan yang datang dari kaumnya sendiri yang melakukan penentangan, penghinaan, pengancaman untuk dibunuh, bahkan diantaranya ada yang dibakar dalam keadaan hidup-hidup (yang dengan izin Alloh dinginlah api itu) dalam upaya dakwahnya”

Misalnya jalan dakwah yang ditempuh oleh Nabi Nuh ‘alayhissalam. Di dalam Al-Qur’an, yakni pada surat Nuh dijelaskan bahwa Rasululloh Nuh ‘alayhissalam telah berdakwah selama 950 tahun. Sebuah waktu yang teramat sangat lama. Ia telah berdakwah siang dan malam hari, dengan terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Ia berdakwah selama 950 tahun, tanpa pernah berhenti mendakwahkan kebenaran, sementara yang terkumpul padanya hanyalah puluhan orang (ada yang mengatakan hanya sekitar 80 saja). Sementara di antara yang menolak dakwahnya adalah anak dan istrinya sendiri. Bisakah antum membayangkan diri antum berdakwah dengan kondisi demikian? Tidaklah mesti 950 tahun. Katakan, 40 tahun saja. Bisakah antum bersabar? Sementara dikatakan bahwa kaum Nabi Nuh, ketika disampaikan dakwah kepada mereka, mereka segera menutup daun-daun telinga mereka dengan kedua belah tangannya. Lalu bagaimana perasaan antum ketika misalnya, antum sedang menasehati seseorang untuk sholat, lalu ia mengacuhkan antum sambil menutup kedua telinganya. Sakit bukan ?? Itu terjadi setiap hari! Selama 950 tahun! Luar biasa bukan ??

Atau jalan dakwah yang ditempuh oleh Rasululloh Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam, yang digelari Al-Amin. Betapa banyak contoh kesabaran yang beliau lakukan dalam berdakwah. Akan tetapi kita ambil salah satu contoh saja, yakni ketika ia yang merupakan salah seorang dengan nasab terbaik di suku Quraisyh hari itu, yang sebelumnya digelari dengan Al-Amin, kemudian digelari dengan hinaan yang sangat menyakitkan. Ia digelari dukun, kahin, tuang sihir, penyair gila, orang gila, perusak hubungan kekerabatan, penghancur tradisi nenek moyang, orang yang kerasupan, dan segala bentuk dan jenis ejekan kehinaan yang sebahasa dan semakna dengannya. Ejekan dan hinaan tersebut tidak hanya terjadi sekali atau sehari saja, melainkan selama bertahun-tahun. Belum lagi jika mengingat yang memberikan ejekan adalah orang-orang yang dikenal terhormat, bahkan dari kalangan keluarganya sendiri seperti ‘Amr Bin Hisyam atau yang dikenal sebagai Abu Jahl, Abu Lahab, Umayyah Bin Khalaf. Dan tentunya, bisa dikatakan ia dihinakan dengan hinaan semacam ini di seluruh sudut kota mekkah pada masa itu.

Jika dibayangkan, antum berada dalam posisi yang sama. Tidak perlu-lah satu kota, melainkan satu komplek saja di mana antum dikatakan sebagai seorang yang gila, dan profokator atas hinaan tersebut adalah paman antum sendiri. Dan hinaan tersebut tidaklah perlu terjadi selama bertahun-tahun. Katakan hanya setahun saja. Maka boleh jadi antum sudah gila dengan sendirinya. Gila karena tidak tahan mendengarkan ejekan sedemikian rupa.

Sedangkan Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam, kekasih kita seluruhnya, memilih untuk berdiam, bersabar, lalu menunjukkan mulianya Islam dengan kebaikan akhlak dan kelembutan hati. Hingga terpancarlah hidayah pada Jazirah Arab seluruhnya. Dan di muka bumi pada sebagiannya.

Kemudian pada hari ketika azab yang dijanjikan itu telah tiba, maka mereka menyaksikan kebenaran itu dengan menyala-nyala. Membaca penggalan ayat ini, maka saya teringat pada sebuah paragraph dalam Shirah Nabawi karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri ketika menjelaskan perkataan Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam pada malam badar, ketika kaum kafir quraisyh telah kalah dalam perang.

Adalah sebuah kebiasaan bagi bangsa Arab untuk bermalam pada beberapa malam di medan perang yang telah mereka menangi. Pada suatu ketika itulah, Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam berbicara dengan nada yang cukup tinggi. Meneriaki makam-makam para musyrikin yang telah mati, dengan perkataan yang isinya kurang lebih “maka saksikanlah azab yang dulu kalian telah pernah dustakan”

Hingga kemudian salah seorang sahabat menegur beliau shallallahu ‘alayhi wa sallam, “Wahai Rasululloh, bukankah mereka sudah mati dan tidak akan mendengar perkataanmu?”

Maka Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam kemudian menjawab “Tidaklah kalian lebih mendengar perkataanku (ini) ketimbang mereka”.

Azab di akhirat dikatakan akan berlangsung sangat lama dan tiada akhir, yakni untuk orang-orang yang mati dalam kekafiran. Yang tiada sejumputpun iman di dalam hatinya. Maka pada masa itu, manusia-manusia fasiq akan dihadapkan pada masa-masa yang sangat mengerikan. Di dalam surat Al-Hajj dikatakan bahwa 1 hari di akhirat nanti adalah 1000 tahun menurut perhitungan manusia di muka bumi. Maka bukankah itu waktu yang sangat lama? Dan bukankah waktu kita di dunia teramat sangat sempit. Sedangkan api neraka adalah makhluk yang sangat panas. Yang tidaklah sebutir kerikil dari neraka yang dijatuhkan ke muka bumi, melainkan akan membumihanguskan bumi seluruhnya. Yang akan menjadikan hijau bumi menjadi hamparan kering kerontang nan gersang seluruhnya. Na’udzubillaah…

Maka bersyukurlah Alloh tidak mensegerakan azzab itu turun ke muka bumi untu menghancurkan orang-orang fasiq. Karena sekiranya Alloh men-segerakan azzab itu turun, maka orang-orang beriman yang hidup bersama-sama mereka boleh jadi akan ikut dimatikan bersama mereka, meski kemudian ketika dibangkitkan, mereka akan dibangkitkan berdasarkan catatan amalanmereka. Yakni orang-orang yang beriman akan diperlakukan istimewa, sementara orang-orang kafir akan dibangkitkan dalam keadaan terhina.

Ditundanya azzab adalah salah satu bentuk kenikmatan dari Alloh Ta’ala yang patut untuk disyukuri. Karena sekiranya seseorang serta merta langsung diazab seketika setelah ia berlaku maksiat, maka tentu saja tidak akan ada manusia lagi yang hidup di muka bumi.

Walloohu a’lam.

Barokallohu fiikum.

Yogyakarta, 02 September 2014 09:37

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s