Muqoddimah untuk Rubrik Tadabbur Al-Qur’an

Bismillah

Assholaatu wassalaamu ‘alaa rosuulillaah, wa’alaa aalihi washohbihii, wamantabi’ahum bi-ihsaanin ilaa yaumiddiin…

17847-road-in-the-book-1920x1080-digital-art-wallpaperHari ahad pekan lalu, saya sempat mangkir dari kajian Ustadz Aris Munandar –hafidzhohullohuta’ala- dengan pembahasan kitab “Kayfaa Tatahammas”, sebuah kitab yang menjelaskan bagaimana meneladani ulama-ulama terdahulu untuk semangat mencari ilmu syar’i. Ehm, mungkin istilah mangkir agaknya terlalu kasar. Sebenarnya tidak mangkir juga. Saya hanya memutuskan untuk berangkat menuju Masjid Kampus UGM saja, dengan niat untuk mengikuti kajian tafsir di sana. Sekaligus melepas kerinduan dengan guru saya yang lain, Ustadz Ridwan Hamidi –hafidzhohullohuta’ala- .

Qodarullooh, ternyata Ustadz Ridwan juga tidak menjadi pengisi pada kajian tafsir yang sudah berlangsung belasan tahun tersebut. Dan sebagai gantinya, panitia kajian Ahad Pagi di Masjid Kampus UGM menghadirkan seorang Syaikh dari Negara Arab Saudi untuk mengisi kajian pada pagi hari itu. Beliau, yang saya lupa namanya, adalah seorang mahasiswa S2 di Universitas Muhammad Ibnu Su’ud KSA.

Usianya, masyaAlloh. Baru 25 tahun. Hanya beda sekitar 3 hingga 4 tahun jika dibandingkan dengan saya. Akan tetapi ilmunya…. Beda jauh! #jelas

————————–

Isi ceramah beliau pada hari itu adalah tentang bagaimana kita kembali kepada Al-Qur’an. Bagaimana seharusnya kita mau dengan serius mempelajari dan mentadabburi Al-Qur’an.

Nah, Alhamdulillah, melalui ceramah beliau pada kesempatan itulah maka saya dengan ini berniat untuk mencoba lebih serius dalam mentadabburi Al-Qur’an. Tentunya dengan sebagian kecil ilmu Islam yang telah saya pelajari. Yang boleh jadi benar, meski juga sangat mungkin akan ditemukan banyak kekurangan.

Tadabbur Al-Qur’an yang akan saya lakukan setiap harinya ini, akan coba saya tuliskan di dalam blog ini. Tidak akan banyak tentunya, mengingat betapa dangkalnya ilmu yang saya miliki. Juga sedikitnya ayat yang akan saya tadabburi setiap harinya. Akan tetapi, mudah-mudahan dengan ini, bertambahlah kebermanfaatan. Khususnya untuk saya sendiri yang merindukan kenikmatan dalam menghidupkan hati bersama Al-Qur’an.

Perlu diketahui pula, bahwa tadabbur Al-Qur’an berbeda halnya dengan Tafsir Al-Qur’an. Sehingga konsekuensinya adalah: Tulisan Saya Tidak Boleh Dijadikan Hujjah!

Karena sekali lagi, tulisan ini hanyalah  untuk diri saya pribadi.

Barokalloohu fiikum.

Yogyakarta, 02 September 2014 

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s