Sungguh Sayang…

Ketika menjumpai Khaulah pertamakali pada 19 July lalu, saya kembali merasakan denyut nadi itu. Sebuah perasaan yang tersibak setiap kali melihat sesuatu. Wajah bayi. Wajah yang penuh dengan kesucian, kepolosan.

1175351_10202009156372348_6403082310398380516_nWajahnya bening, dengan aroma khas minyak kayu putih. Alisnya tersusun rapih meski masih sangat tipis. Bibirnya merah, seolah telah dioleskan sesendok madu lalu ia kecap untuk merasakan manisnya. Hidungnya kecil, pun dengan lubang hidungnya. Dan matanya…. seteduh awan.

Kata Nona Zahrah, ia adalah keponakan kami yang tercantik.

Setiap kali menjumpai bayi pula, kegetiran dada, keharuman cinta, kehangatan kasih dan kelembutan perasaan menggelayut pelan. Mengalir pada ruas-ruas pembuluh kapiler di dalam tubuh. Mungkin terdengar berlebihan, namun sejatinya sungguh itulah yang saya rasakan.

Terdengar seolah saya merindukan untuk bersegera memiliki anak sendiri ? Ah, boleh jadi benar. Namun sebenarnya bukan itu yang menyebabkan dada saya berdesir. Melainkan sebuah hal dibaliknya. Dibalik itu semua.

Uniknya, saya memiliki pecahan-pecahan memori yang tersimpan dengan baik di kepala saya, sejak saya masih merangkak. Ketika saya masih bayi sepetihalnya Khaulah. Ketika perkembangan neuron di kepala manusia belum tumbuh sempurna. Layaknya anyaman bambu yang belum utuh sempurna untuk ditiduri.

Saya mengingat banyak hal, seperti pakaian yang saya kenakan pada masa itu, makanan yang disuapi ke dalam rongga mulut saya yang belum ditumbuhi gigi, hingga beberapa tangkai tanaman bunga berwarna putih yang ditanam di depan rumah.

Saya merindukan masa-masa itu. Masa ketika hati tiada mengenal fitnah. Tumpukan dosa pun tak ada.

—————————

Ketika seorang bayi dilahirkan, maka ia adalah selembar kertas putih. Dijelaskan di dalam sebuah hadits,

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang terpotong hidungnya? (HR. Ahmad)

Lalu setelah membacakan hadits ini, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata “’Apabila kalian mau, maka bacalah firman Allah yg berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.‘ (QS. Ar Ruum (30): 30

Ya.. seperti itulah gambaran kita. Perwajahan diri kita ketika pertamakali menghirup udara di muka bumi. Bumi yang sama yang pernah dipijak Bapak kita Adam ‘alayhissalam dan Ibunda Hawa ‘alayhassalam.

Kita terlahir sebagai seorang yang suci. Fitrah katanya. Yang artinya bersih tanpa noda, suci tanpa tinta. Jika ia adalah air, maka ia bening hingga terlihat dasarnya tanpa bias. Jika ia adalah embun, maka ia menyejukkan. Beraroma rerumputan yang hijau nan segar.

Maka perhatikanlah mata-mata yang bening itu. Mata bening yang terbuka dari sebuah kelopak mata sang bayi. Yang putihnya adalah putih se-sejatinya. Dan bagian hitamnya, adalah hitam se-sejatinya. Tak keruh. Tak pula ada pembuluh-pembuluh darah memerah.

10482474_948902975136804_276121765126938181_nTak pernah menjadi jalan masuknya dosa.

Kita terlahir sebagai jiwa yang suci. Lalu masuklah segala yang membangun tubuh kita. Air susu, lalu bebijian yang ditanak lalu dihaluskan. Atau boleh jadi roti-roti kering yang dilembutkan.

Lalu tumbuh mendewasa.

Mengerti pekara-perkara dunia, juga pemahaman akan kehidupan yang lebih baik setelahnya bagi mereka yang cukup beruntung mendapatkan orangtua yang dekat dengan Rabb-nya.

————————-

Maka setiap saya melihat pada sesosok bayi, terkadang saya tiba-tiba mematung. Mengingat bahwa semua kita telah pernah melalui proses ini. Masa-masa ini.

Ketika ada banyak orang yang menitipkan asa pada kita untuk tumbuh menjadi pribadi yang diharapkan. Dan terutama berada tegak di atas ketaatan.

Seorang pemuda yang kini tengah khusyu’ membacakan Al-Qur’an di dalam sebuah masjid, boleh jadi sama disayangnya dengan seorang pemuda lainnya yang hari ini tengah merokok di sebuah perempatan jalan, yakni ketika mereka masih bayi.

Seorang wanita yang tengah sibuk mentarbiyah buah hati kecilnya di rumahnya yang teduh, boleh jadi sama disayangnya dengan seorang wanita yang memelacurkan diri hari ini di sebuah lokalisasi, yakni ketika mereka masih bayi.

Seorang laki-laki berjanggut lebat dengan tatapan teduh dalam setiap kajian kitab rutin yang diisinya setiap sabtu dan ahad pagi, boleh jadi sama disayangnya dengan seorang lelaki yang kebetulan menjadi tetamu wanita yang memelacurkan diri tadi, yakni ketika mereka masih bayi.

Lalu bagaimana dengan kita hari ini ?

Adakah kita di antara gambaran orang-orang yang taat tadi ? ataukah pada orang-orang yang berkubang dalam lembah maksiat tadi ?

Sungguh, dulu pun kita pernah menjadi bayi. Menjadi seorang yang bening hatinya.

Lalu, dengan banyaknya dosa dan maksiat yang telah kita lakukan, seperti apakah kita sekarang. Jelaga ? kain-kain rombeng ? daging busuk penuh ulat yang didiami oleh ruh yang berbau ?

—————————

Sungguh Alloh selalu membuka pintu bertaubat. Lebih dari itu, Alloh ta’ala menanti kita di pintu Taubat. Kecuali apabila nafas telah sampai pada kerongkongan. Atau ketika matahari telah terbit dari barat.

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah lebih bahagia dengan tobat seorang hamba ketika dia bertobat dari (bahagianya) seorang diantara kalian, yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang pasir yang luas. Tiba-tiba hewan tunggangannya itu hilang darinya. Padahal disana ada perbekalan makan dan minumannya. Hingga ia putus asa. Lalu ia menghampiri sebuah pohon dan berbaring di bawah naungannya. Sungguh ia telah putus asa dapat kembali menemukan hewan tunggangannya. Kemudian dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba hewan tunggangan itu sudah berada di sisinya. Maka ia segera meraih tali kekangnya seraya berkata karena sangat bahagianya, “Wahai Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu.” Keliru berkata-kata karena sangat bahagia. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis diatas adalah kabar dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwa Allah Ta’ala sangat menyukai seorang hamba ketika ia bertobat. Hingga Allah diberitakan berbahagia, lebih bahagia dari orang yang sangat bahagia karena menemukan hewan tunggangannya yang hilang. Senada dengan hadis diatas, Allah pun berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Albaqarah [2]: 222)

————————

Sungguh sayang…

Kita dulu adalah seorang bayi mungil nan polos. Suci tak berdosa. Begitu banyak mereka yang mengasihi kita ketika itu. Kini, ketika kita telah mendewasa, ketika kita telah memenuhi langit dengan dosa-dosa yang menggunung, yang kita sembunyikan di hadapan manusia namun terang-terangan tanpa malu kita melakukannya di hadapan Alloh. Lalu sekiranya ditanya, adakah kita saat ini, adalah seperti pribadi yang diinginkan mereka yang menyayangi kita dahulu ? Booleh jadi mereka akan malu. Akan sedih dengan kepedihan yang menyayat hati sekiranya tahu betapa busuk dan buruknya diri kita hari ini.

Namun semua belum terlambat kawan…

Mungkin kita tak lagi sesuci seorang bayi. Namun sangat mungkin bagi kita untuk kembali. Membersihkan noda dan debu. Atau jelaga yang telah memenuhi seluruh rongga hati.

Dan setelah itu, mudah-mudahan kita bisa kembali memiliki hati sebening bayi. Meski raga sudah renta, tubuh telah menua. Namun tak ada halangan bagi kita untuk kembali memurnikan hati. Membeningkan hati. Sebening bayi.

—————————–

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. QS. Al Furqon: 7

—————————-

Barokalloohu fiikum

 

Kantor eBimbel

Pogung Baru, Blok D37, Sinduadi, Mlati, Sleman.

Yogyakarta

01 September 2014 16:08

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s