Ketika Hujan Turun, Jangan Ia Dicela

Bismillah. Assholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulillaah, wa-‘alaa aalihii washohbihii ajma’in.

Akhirnya setelah sekitar 35 hari di rumah ibu, saya kembali dizinkan untuk kembali melanjutan perantauan menuju Tanah Sultan. Beberapa pekerjaan saya memang belum tuntas di sini, seperti kuliah, menuntut ilmu diin (yang memang sebenarnya tidak akan pernah berakhir), dan berbagai hal lainnya yang sebaiknya tidak perlu saya jelaskan.

rainy-daysCuaca langit hari sabtu pekan lalu (23 Agustus 2014) sebenarnya cukup cerah, hingga waktu menunjukkan pukul 11:00. Hujan yang awalnya pelan tiba-tiba men-deras hingga benar-benar membatasi jarak pandangan meski sebenarnya mata anda tidak minus. Agak sedih jadinya, mengingat saya harus menuju bandara Hang Nadim saat itu juga, mengingat pesawat Citilink yang saya akan tumpangi akan terbang sekitar 2 jam lagi.

Saya lalu diantar oleh Mbak menggunakan sepeda motor setelah sebelumnya menggunakan jas hujan yang Alhamdulillah lumayan membantu meminimalisir kuantitas air yang merembes masuk ke dalam jaket saya. Namun, alhamdulillaah ‘alaa kulli-hal, semakin jauh meninggalkan rumah, hujan semakin deras. Alhasil, basahlah seluruh pakaian saya, termasuk jaket organisasi yang saya pakai. Sedih. Namun Alhamdulillah Mbak mengingatkan saya untuk tidak boleh mengeluh karena hujan.

————————————

Salah satu bentuk kesempurnaan tauhid seseorang adalah, ia menghindarkan dirinya dari mencela hujan atau mengeluarkan kata-kata yang merupakan celaan terhadap hujan. Karena sesungguhnya hujan adalah nikmat dari Alloh Ta’ala. Namun pada sebagian orang, apabila hujan tiba-tiba datang dan merunyamkan aktivitasnya, serta merta akan keluar dari lisannya ucapan keluhan, celaan atau kata-kata yang sebahasa dan semakna dengannya. Misalnya

“Duh, lagi-lagi hujan!”

“Duh, kenapa sih ga kemarin aja hujannya”

“Kenapa sih hujan terus. Cucian kan ga kering-kering kalau gini”

Perlu diketahui bahwa, segala perkataan baik yang berpahala, atau tidak berpahala, berdosa atau tidak berdosa, selalu akan serta merta masuk ke dalam buku catatan yang dipegang oleh Malaikat pencatat amal dalam kitab catatan amal yang kelak akan diserahkan pada kita. Alloh berfirman dalam surah Qaaf ayat 18:

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf [50]: 18)

Nabi Shallallahu ‘alayhi wa-sallam juga bersabda

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam (Hr. Bukhari 6478)

Atau dalam hadits yang lain, sebuah hadits Qudsi, Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwa sesungguhnya Alloh ta’ala telah berfirman

Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti (HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah)

Hadits di atas menjelaskan larangan kepada kita untuk tidak mencela atau mengkambinghitaman makhluk yang tidak berkuasa apa-apa untuk memberikan manfaat atau memudhorotkan kita. Karena sesungguhnya mereka adalah makhluk yang tidak bernyawa, sehingga segala yang berkaitan dengannya murni adalah karena tindakan Alloh Ta’ala, atau murni karena kehendak dan keinginan Alloh Ta’ala. Mencelanya, mencela tentangnya, seperti misalnya hujan tadi (dalam contoh lain bisa berupa waktu, angin, suhu, dan sebagainya), adalah sebuah bentuk celaan terhadap yang mengendalikannya yakni Alloh Ta’ala. Na’udzu billah min-dzaalik.

—————————

Bisa Menjadi Syirik

Celaan terhadap hujan (atau pada contoh lain yang telah saya sebutkan di atas) dapat mengeluarkan seseorang dari Islam, atau syirik akbar. Mengapa bisa demikian ?

Yakni apabila ia, dalam celaannya tadi, ia meyakini bahwa mutlak hanya hujan tadilah yang menghendaki datangnya baik dan buruk. Atau ia menisbatkan kepada hujan tadilah ia menjadi deras atau menjadi badai, tanpa meyakini bahwa Alloh Ta’ala yang menginginkan demikian. Karena dalam hal ini, ia telah meyakini bahwa ada pencipta lain selain Alloh Ta’ala. Akan tetapi jika celaannya hanya sebatas celaan sementara ia tetap meyakini bahwa Alloh yang menghendaki ia terjadi, maka perbuatannya terhukumi haram, yang tentu saja tidak mengeluarkan ia dari Islam.

Sehingga kesimpulannya adalah, jangan sampai kita mencela hujan. Karena terciptanya hujan tidaklah lepas dari kehendak Alloh Ta’ala. Sedangkan mencelanya adalah sama halnya dengan mencela Penciptanya. Sementara setiap perkataan yang terlontar dari lisan kita akan tercatat di kitab malaikat-malaikat pencatat, yang sungguh tidak akan luput darinya barang saru huruf-pun.

—————————

Lalu Bagaimana Sebaiknya Ketika Hujan Turun

Ada banyak hal sebenarnya yang bisa kita lakukan ketika hujan datang (yang bisa antum baca seluruhnya pada link referensi yang saya lampirkan). Akan tetapi, diantara yang paling utama dan menurut saya InsyaAlloh yang paling mudah, adalah berdoa.

Kenapa berdoa ?

Karena, waktu turun hujan, adalah salah satu waktu-waktu di mana doa-doa yang kita panjatkan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk di-ijabahi. Seperti dalam sebuah hadits, Rasululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam bersabda

Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun (Al Mughni fi Fiqhil Imam Ahmad bin Hambal Asy Syaibani, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, 2/294, Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama, 1405 H)

 

Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan (Dikeluarkan oleh Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shohihul Jaami’ no. 1026.)

———————————-

Saya tiba di Bandara Hang Nadim dalam keadaan tubuh yang basah lebih dari separuh ke bawah. Sedangkan jaket yang saya pakai dalam keadaan yang sangat lembab. Namun, Alhamdulillaah fasilitas Bandara kelas Internasional itu sangat baik sehingga memungkinkan bagi saya untuk mengganti pakaian dengan nyaman beberapa saat setelah check-in. Hampir satu jam setelahnya, pesawat model Air-Bus yang saya tumpangi membumbung tinggi. Membelah langit Kota Batam yang gelap siang itu. Diantara gemuruh guntur yang menyala-nyala.

Pesawat yang kami tumpangi sempat begetar agak hebat meski tidak sampai stalling. Meluruhkan detak jantung, yang seolah-olah menghentikan denyut nadi. Getaran yang belum pernah saya alami sebelumnya meski telah menjalani take-off puluhan kali.

Saat itu saya menyadari bahwa saya takut mati. Bukan takut akan prosesnya. Melainkan pada apa yang akan saya hadapi setelahnya.

Sungguh saya telah beramal dengan amal-amalan baik yang sedikit, dan dosa-dosa kemaksiatan yang menggunung. Sementara ada banyak keburukan pada amalan yang saya lakukan. Sedangkan tidak ada kebaikan sedikitpun pada kemaksiatan-kemaksiatan yang saya lakukan.

Alloh, ampuni kami, tutupi kehinaan ini. Tutupi kehinaan dan aib kami seluruhnya.

————————————–

Barokallohuu fiik.

Semoga bermanfaat.

 

Subuh Perdana di Jogja Setelah Ramadhan

Pojok Kamar Bercat Biru

Karang Asem, Sleman.

Senin 25 Agustus 2014 06:26

Ahmad Muhaimin Alfarisy

—————————————

Referensi

http://rumaysho.com/amalan/beberapa-amalan-ketika-turun-hujan-671

http://rumaysho.com/amalan/jangan-mencela-hujan-3766

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/musim-hujan-telah-tiba-1.html

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s