Alhamdulillaah, Alloh Jauhkan Saya dari Musik

Bismillaah

– assholaatu wassalaamu ‘alaa Rosulillaah , wa ‘alaa aaliihi wa shohbihii ajma’in.

Menjelang petang kemarin, salah seorang rekan saya –semoga Alloh limpahkan penjagaan dan petunjuk baginya- bertanya pada saya perihal sebuah hal. Sebuah hal yang sebenarnya sangat sensitif mengingat perkara yang ditanyakan adalah sebuah hal yang menjangkiti banyak dari kaum muslimin, terlebih kaum muda dari kalangan ummat Islam hari ini.

Pertanyaan yang sungguh sederhana, hanya terdiri dari 3 kata

“Hukum musik, fa. Pripun? [Pripun (Jawa kromo inggil): Bagaimana]

Saya sempat tertegun, sebab bingung harus bagaimana membahasakannya, sementara ini adalah sebuah hal yang untuk sebagian kalangan, adalah hal yang sensitif. Hingga kemudian saya putuskan untuk menjawab, sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana yang dipahami oleh para pendahulu-pendahulu  yang sholih dari ummat ini. Tentunya sebatas apa yang saya pahami dari beberapa majelis ilmu yang saya datangi.

————————————

icon musikLagu pertama yang saya ingat yang membangun kecintaan saya terhadap musik adalah “Uptown Girl” yang dinyanyikan oleh Boyband asal Inggris (ya? lupa saya) WESTLIFE sekitar tahun 2001. Kemudian diikuti oleh lagu-lagu pop melayu mellow ciptaan Negara tetangga – Malaysia, hingga lagu-lagu pop Indonesia karangan Peterpan. Lalu pada masa SMP, mungkin adalah masa puncak saya menggandrungi musik, ketika hampir setiap hari Sabtu, jika ia adalah hari libur, maka saya akan “nongkrong” di depan televisi, guna menyaksikan lagu mana saja yang menempati posisi 20 besar dalam program MTV Ampuh, di Musik Television (MTV) yang menumpang pada hak siaran Global TV.

Memasuki masa SMA, kegemaran saya terhadap musik agak berkurang, namun saya tetap up to date dengan musik. Bedanya, pada masa ini saya banyak terpengaruh oleh Nasyid-Nasyid “Islami”, mengingat ketika SMA saya sempat mendapatkan sebuah amanah di organisasi Rohaniah Islam. Atau nasyid-nasyid yang kata sebagian aktivis adalah untuk meningkatkan “ghirah” dalam perjuangan, buatan grup-grup nasyid populer seperti Shoutul Harokah, sebagian lagu-lagu Snada, dan kebanyakan grup-grup Nasyid asal Malaysia seperti Raihan, Saujana, Now See Heart, In-Team, dan sebagainya.

Tak lupa pula saya menggandrungi lagu-lagu “religi” buatan band-band seperti UNGU, ST 12, Vagetoz, dan sebagainya.

Meski berbeda, ada satu hal yang sama yang saya rasakan pada masa-masa nista itu, yakni

Hati yang gersang.

———————————–

Fatwa tentang haramnya musik pertama kali saya dengar pada tahun 2010, ketika saya menyempatkan diri mendengar sebuah rekaman ceramah yang diperdengarkan oleh sebuah Radio dakwah di Kota Batam. Kalimatnya kurang lebih seperti ini

“Akhi fillah, sekiranya di akhirat nanti, dikumpulkan perkara-perkara yang haq dan perkara-perkara yang bathil, menurut antum di manakah musik kelak ia akan berada. Pada barisan yang haq, ataukah pada barisan kebathilan?”

Lalu pada potongan kalimat lain yang masih saya ingat

“Sekiranya berdakwah dengan musik dan nyanyian adalah sebuah perbuatan yang dibolehkan oleh Alloh Ta’ala, maka tentu saja telah sampai kepada kita sebuah hadits yang menjelaskan tentang Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam yang berdakwah dengan metode ini. Sebab pada masa itu, musik dan nyanyian telah dikenal. Namun manakah ia? Sungguh tidak akan pernah kita temukan satu riwayatpun”

Ceramah singkat hari itu ternyata memberik efek yang cukup besar, yang tentunya patut sekali untuk disyukuri. Meskipun ketika itu saya belum mampu untuk meninggalkan musik seluruhnya. Namun, intensitas saya bersentuhan dengan musik sudah berkurang banyak. Sangat banyak.

———————————-

Hingga saat ini, terus terjadi kontroversi terkait status hukum musik dalam kacamata syar’i, mengingat sebagian kelangan pada masa belakangan ini memberikan fatwa halalnya musik dan bahkan menjadikannya sebagai metode dakwah sebagaimana yang kita kenal saat ini.

Akan tetapi, saya berada pada barisan orang-orang yang menyataan haramnya musik, mengingat sudah tegasnya dalil yang menyatakan keharamannya, baik dalam Al-Qur’an ataupun dalam As-Sunnah. Begitupun di kalangan pada sahabat, dan tabi’in, yang telah sepakat akan haramnya musik beserta nyanyian, tanpa pernah ada perselisihan di dalamnya.

Maka hemat saya (sekaligus menampar saya) adalah,

“Lalu bagaimana mungkin kita yang di zaman ini, yang ilmunya sedikit, tidak hafal Al-Qur’an ataupun hadits kecuali sedikit, bahkan cenderung bodoh akan ilmu, rendah pemahamannya, sedikit waktu belajarnya, tidak kuat hafalannya, malas mendatangi majelis ilmu, dan segala kekurangan lainnya jika dibandingkan dengan para ulama terdahulu, dengan berani menyelisihi pendapat para ulama tedahulu, yang bahkan sebagian dari mereka adalah para sahabat Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam, yang mana syari’at itu turun di tengah-tengah mereka, yang dengan ini tentu saja mereka adalah yang paling faqih agamanya, dan paling benar pendapatnya jika ia berpendapat”.

Maka berikut saya nukilkan beberapa dalil yang menjelaskan haramnya musik. Semoga Alloh Ta’ala melembutkan hati kita untuk memahami dan menerimanya, dan kemudian mengamalkannya

Dalam Al-Qur’an

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Luqman: 6)

Abdullah bin ‘Abbas –radiallahu ‘anhu-, beliau mengatakan tentang ayat ini: “Ayat ini turun berkenaan tentang nyanyian dan yang semisalnya.” [1]

‘Abdullah bin Mas’ud –Radiallahu ‘anhu-, tatkala beliau ditanya tentang ayat ini, beliau menjawab: “Itu adalah nyanyian, demi Allah yang tiada Ilah yang haq disembah kecuali Dia.Beliau mengulangi ucapannya tiga kali. [2]

 “Maka apakah kalian merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kalian menertawakan dan tidak menangis? Sedangkan kalian ber-sumud?” (An-Najm: 59-61)

Para ulama menafsirkan “kalian bersumud” maknanya adalah bernyanyi. Termasuk yang menyebutkan tafsir ini adalah:

 Ibnu Abbas -Radiallahu ‘anhu-. Beliau berkata: Maknanya adalah nyanyian. Dahulu jika mereka mendengar Al-Qur`an, maka mereka bernyanyi dan bermain-main. Dan ini adalah bahasa penduduk Yaman (dalam riwayat lain: bahasa penduduk Himyar).”  [3]

 (jika antum membaca Shiroh Nabawiyah, maka akan antum temukan kisah tentang tokoh An-Nadhar Al-Harits yang ia akan memperdengarkan musik dan nyanyian, serta biduanita untuk menarik keluar orang-orang yang bermajelis bersama Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam)

Hadits

Hadits Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari –radiallahu ‘anhu-bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda

“Akan muncul di kalangan umatku, kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik. Dan akan ada kaum yang menuju puncak gunung kembali bersama ternak mereka, lalu ada orang miskin yang datang kepada mereka meminta satu kebutuhan, lalu mereka mengatakan: ‘Kembalilah kepada kami besok.’ Lalu Allah ta’ala membinasakan mereka di malam hari dan menghancurkan bukit tersebut. Dan Allah mengubah yang lainnya menjadi kera-kera dan babi-babi, hingga hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari, 10/5590)

Atsar (perkataan) Para Ulama Salaf

‘Abdullah Bin Mas’ud –radiallahu ‘anhu- “Nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati.” [4]

‘Amr bin Syarahil Asy-Sya’bi –rahimahullohu ta’ala- berkata: “Sesungguhnya nyanyian itu menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air yang menumbuhkan tanaman. Dan sesungguhnya berdzikir menumbuhkan iman seperti air yang menumbuhkan tanaman.” [5]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullohu ta’ala- berkata: “Mazhab empat imam menyatakan bahwa alat-alat musik semuanya haram.” Lalu beliau menyebutkan hadits riwayat Al-Bukhari di atas. [6]

Maka menjadi aneh rasanya jika sebagian kalangan, setelah sampai padanya dalil yang tegas, shohih dan berdasar dengan kuat, tetap bersikukuh dengan anggapan halalnya musik. Atau pula menjadikannya sebagai alat dakwah. Padahal tidak ditemukan contohnya pada masa Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dan tiga generasi setelahnya.

Jikapun kemudian bersikukuh dakwah semacam ini akan mendatangkan kejayaan Islam, maka ingatlah perkataan Imam Malik –rahimahullohu ta’ala-, ulama Madinah pada masa awal Islam, yakni

 “Sungguh, tidak akan jaya ummat ini melainkan dengan apa yang ummat ini dulu jaya dengannya”

——————————

Pada bagian atas telah saya sampaikan bahwa, kenyataannya, hati terasa gersang ketika ia dihiasi oleh musik, sekalipun ia adalah nasyid-nasyid yang katanya Islami. Dan sungguh, tentu saja hal ini benar. Karena, fakta yang tidak bisa kita pungkiri bersama-sama, bahwa semakin dekat seseorang dengan musik, maka tentu semakin jauh ia dengan Al-Qur’an. Dan begitupun sebaliknya, semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, maka semakin jauh pula ia dengan musik. Prinsip yang sama juga berlaku untuk hafalan Al-Qur’an, yang berbanding terbalik dengan banyaknya lagu-lagu dan nyanyian yang ia hafalkan. (kalimat ini telah saya dengar langsung dari seorang Pemateri / motivator bernama Ustadz Fatan Funtastic pada sebuah kesempatan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM).

—————————–

Lalu, Bagaimana cara meninggalkan musik?

Cara yang paling efektif untuk menghentikan diri dari kegemaran mendengarkan musik adalah dengan

Menghapus seluruh file yang berkaitan dengan musik yang ada di seluruh gadget yang kita miliki. Jika ia berupa kaset, maka sekaligus pula ia dimusnahkan. Jika ternyata kebetulan kita memiliki alat musik semisal gitar di rumah, maka jalan terbaik adalah memusnahkannya, sebab jika tidak dimusnahkan, misalnya diserahkan pada orang lain, maka secara tidak langsung kita ridho dengannya memainkan alat musik tersebut, padahal telah kita ketahui haramnya musik. Maka berikutnya, kita akan turut mendapatkan dosa dari dosa-dosa yang ditimbulkan akibat alat musik yang kita serahkan pada orang lain, selama ia dimanfaatkan.

Dengan mengharapkan pertolongan dari Alloh Ta’ala, mudah-mudahan kita dijauhkan dari musik selamanya.

Setelah meninggalkan musik, maka sibukkanlah hati dengan Al-Qur’an, Zikir, ilmu dan hal-hal yang membuat hati ini berpijar karena mengingat Alloh Ta’ala. Sebab, jika diri telah berhasil meninggalkan musik namun tidak menyibukkan diri dengan zikir, maka hati tetap akan rusak, tidak ubahnya seperti ketika ia berselimutkan dengan musik dan nyanyian.

—————————

Saya sendiri baru benar-benar meninggalkan musik seluruhnya pada beberapa tahun belakangan ini, yakni ketika sudah memasuki semester ke empat (saat ini saya duduk di semester Sembilan). Meskipun telah mengetahui haramnya musik pada tahun 2010, namun saya baru benar-benar mampu membuat sebuah effort yang cukup berasa pada semester empat, menjelang dua tahun. Agak lama memang. Akan tetapi, semoga Alloh Ta’ala mengampuni kelambanan itu.

Dan kepada mereka yang berkeinginan untuk meninggalkan musik, serta berlepas diri dari nyanyian, semoga Alloh berikan kemudahan.

———————————–

Sungguh, tidak akan berkumpul dalam satu hati antara Al-Qur’an dan musik, sebagaimana tidak akan berkumpul iman dan kufur, atau tauhid dan syirik.

Dan ketahuilah untuk antum, sejarah telah mencatat, runtuhnya Negara Andalusia, sebuah peradaban Islam yang maju, yang dikatakan tentangnya “Sekiranya surga ada di dunia, maka ia adalah Al-Hambra (sebuah Istana di Andalusia)”, adalah karena generasi-generasi Islam ketika itu lebih banyak disibukkan dengan musik ketimbang dengan Al-Qur’an.

Alloohul musta’aan…

————————————

Semoga bermanfaat.

Barokallohu fiikum

Ditulis ketika sedang mengalami…. Insomnia.

Di rumah Ibu

Plamo Garden-Batam Center,

Kamis, 19 Agustus 2014, 00:05

Ahmad Muhaimin Alfarisy

———————————-

Catatan Kaki

[1] (Diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (no. 1265), Ibnu Abi Syaibah (6/310), Ibnu Jarir dalam tafsirnya (21/40), Ibnu Abid Dunya dalam Dzammul Malahi, Al-Baihaqi (10/221, 223), dan dishahihkan Al-Albani dalam kitabnya Tahrim Alat Ath-Tharb (hal. 142-143)).

 

[2] (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya, Ibnu Abi Syaibah, Al-Hakim (2/411), dan yang lainnya. Al-Hakim mengatakan: “Sanadnya shahih,” dan disetujui Adz-Dzahabi. Juga dishahihkan oleh Al-Albani, lihat kitab Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 143)

 

[3] (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya (27/82), Al-Baihaqi (10/223). Al-Haitsami berkata: “Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan sanadnya shahih.” (Majma’ Az-Zawa`id, 7/116)

 

[4] (Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Dzammul Malahi, 4/2, Al-Baihaqi dari jalannya, 10/223, dan Syu’abul Iman, 4/5098-5099. Dishahihkan Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 10. Diriwayatkan juga secara marfu’, namun sanadnya lemah)

[5] (Diriwayatkan Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadr Ash-Shalah, 2/636. Dihasankan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim, hal. 148) Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abid Dunya (45), dari Al-Qasim bin Salman, dari Asy-Sya’bi, dia berkata: “Semoga Allah k melaknat biduan dan biduanita.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam At-Tahrim hal. 13)

 

[6] (Majmu’ Fatawa, 11/576)

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Alhamdulillaah, Alloh Jauhkan Saya dari Musik

  1. Saat bulan puasa kemarin, kok rasanya hati berat untuk mendengarkan musik, seolah2 ada tabir yang menghalangi. Dan ternyata hati lebih tenang jika tidak mendengarkan musik. Apakah ini hidayah dari Allah?

    • inggih. mudah-mudahan demikian. tidak ada alasan lagi untuk tetap menggandrungi musik 🙂
      yuk sama2 tinggalkan sihir-sihir setan itu ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s