Diantara Etika dalam Bertanya

Bismillah … As-sholatu wassalamu ‘ala Rosulillaah… wa’alaa aalihii washohbihi waman-tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumiddin…

Suatu ketika, Alloh izinkan saya untuk kembali bermajelis bersama salah seorang diantara guru kami, Ustadz Abu Yahya Badrussalam –hafidzhohullohu ta’ala- dalam rangka safari dakwah beliau di kota Ilmu, Yogyakarta tercinta.

CaptureBeliau sebenarnya datang ke Kota Jogja untuk mengisi beberapa majelis ilmu, namun yang sempat saya hadiri hanya dua diantaranya, yakni pertama ketika beliau mengisi di kediaman Dokter Fauzi –hafidzhohullohu ta’ala- tepatnya di jalan Godean pada Jum’at Ba’da Isya. Terkait materi hari itu, telah saya rangkumkan di sini.

https://ahmadmuhaiminalfarisy.wordpress.com/2014/06/14/pentingnya-beramal-dengan-hati-dan-badan/

Kedua, ketika beliau mengisi di Masjid Pogung Raya, Pogung Dalangan pada hari sabtunya. Akan tetapi materi pada majelis yang kedua hingga saat ini belum sempat saya tuliskan di dalam blog. Mudah-mudahan Alloh ta’ala memberikan kesempatan kepada saya untuk menuliskan faedah-faedah yang saya dapatkan pada majelis tersebut. Aamiin.

===============================

Terkait pada majelis yang kedua yang saya ikuti, terdapat sebuah hal yang menarik yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, yakni terkait etika dalam bertanya. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan…

Suatu ketika Imam Ahmad Bin Hambal –rahimahullohu ta’ala- ditanya oleh seorang laki-laki, yang kira-kira pertanyaannya seperti ini

“Wahai Syaikh, apa hukumnya berwudu’ dengan menggunakan air rebusan kacang?” ujar lelaki itu. Imam Ahmad lalu menjawab

“Saya tidak menyukainya”

Sang lelaki kemudian melanjutkan pada pertanyaan berikutnya

“Wahai syaikh, bagaimana hukumnya berwudu’ dengan menggunakan air perasan bunga rose?” ujar lelaki tadi lagi. Imam Ahmad Bin Hanbal kemudian kembali menjawab

“Saya tidak menyukainya”.

Kemudian sang lelaki pergi dan melangkah keluar Masjid. Allohu a’lam kondisinya semacam apa, akan tetapi kemudian tiba-tiba Imam Ahmad meraih kain laki-laki tadi dan menghentikan langkahnya. Imam Ahmad kemudian bertanya pada laki-laki tersebut

“Apa do’a yang dibaca ketika masuk ke dalam Masjid?”

Sang lelaki terdiam. Hingga kemudian berujar

“Saya tidak tahu, Syaikh”

Imam Ahmad kemudian melanjutkan pertanyaannya

“Apa do’a yang dibaca ketika keluar Masjid?”

Pemuda itu kembali mengucapkan hal yang sama

“Saya tidak tahu, Syaikh”

Imam Ahmad lalu berkata

“Subhanalloh. Engkau sudah bertanya akan hal-hal yang sesungguhnya sangat jarang (atau redaksinya hampir tidak mungkin) terjadi. Sementara untuk hal-hal yang engkau jalani sehari-hari, yang engkau alami sehari-hari, belum engkau pahami tidak pula engkau ketahui”

==========================

Sejujurnya, saya tercenung ketika itu.

Faedah yang bisa saya ambil dan saya pahami ketika itu adalah agar memperhatikan etika dalam mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang berilmu, terlebih apabila ia adalah guru, dosen ataupun Ustadz kita. Jangan sampai ketika kita mengharapkan tambahan ilmu, kita malah melakukannya dengan cara yang kurang atau tidak beretika.

Tindakan yang kurang atau tidak beretika yang saya maksudkan adalah bertanya dengan tujuan untuk mengetes kemampuan seseorang, atau sekedar untuk mencari-cari kesalahan seseorang, atau untuk diajak berdebat. Termasuk pula diantara tindakan tersebut ialah mengajukan pertanyaan tanpa ilmu, atau pertanyaan yang akan diajukan tanpa disaring terlebih dahulu, tidak tahu konteks, bertanya pada yang bukan tempatnya, atau tanpa berusaha sendiri terlebih dahulu mencari jawaban sebelum bertanya. Juga seperti halnya yang saya kisahkan ulang dalam tulisan saya di atas, yakni bertanya atas sebuah hal yang tidak begitu penting dan tidak pula begitu perlu untuk diketahui dengan mengabaikan hal-hal yang lebih utama untuk diketahui.

Tentu saja yang saya tuliskan di atas bukanlah sebuah excuse bagi kita untuk enggan bertanya. Sebab salah satu cara untuk belajar, untuk mendapatkan ilmu adalah dengan bertanya sebagaimana sebuah ayat dalam surah An-Nahl ayat 43

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Atau yang disampaikan oleh Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam sebuah hadits yang panjang

Seandainya mereka bertanya! Sesungguhnya obatnya kebodohan adalah bertanya (Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi dan dishahihkan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Tanqihul Ifadah Al-Muntaqo Min Miftah Daris Sa’adah, hal 174)

Namun kembali, pelajari dan perhatikanlah etikanya.

=========================

Terkait Ustadz Abu Yahya Badrussalam –hafidzhohullohuta’ala- sendiri, beliau menurut saya adalah salah seorang da’i terbaik yang dimiliki oleh ummat Islam di bangsa ini. Keutamaan beliau yang saya perhatikan dalam setiap majelisnya adalah, beliau mampu menyampaikan dakwah, langsung menuju titik terbening di dalam hati kita. Sehingga dampaknya begitu terasa. Ia menentramkan jiwa.

Semoga Alloh Ta’ala mengumpulkan kita di dunia bersama orang-orang yang berilmu, dan mengizinkan kita seluruhnya bermajelis bersama Rasululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam di jannah-Nya yang kekal.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina musthofa, wa ‘ala aalihii washohbihi ajma’in.

Semoga bermanfaat.

=========================

Selesai ditulis di Rumah Ibu

Plamo Garden-Batam Center

6 Syawwal 1435 Hijry , 10:30

atau  bertepatan dengan 02 Agustus 2014

Ahmad Muhaimin Alfarisy

=========================

dimohon kritiknya jika ada bagian yang salah atau kurang tepat.

barokallohu fiikum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s