Lebaran Tahun Lalu

-Sebuah Memori dari Bumi Pinogu-

Sepertinya aku menjadi yang paling terakhir pulang malam itu, malam takbiran tahun lalu itu. Aku menjadi agak lama bertahan di kantor camat Pinogu dengan beberapa alasan. Namun yang paling kuat tentunya karena akses internet hanya bisa diperoleh di kantor camat. Pun halnya dengan akses sinyal telpon seluler. Waktu mendekati pukul 23:30 hingga kemudian aku putuskan untuk pulang sambil membawa sebuah senter berwarna hijau milik temanku yang tertinggal.

Ah rupanya, mereka tengah melakukan “renungan hari Ied” yang dinisiasi oleh organisiasi pemuda setempat yang bernama IP2MP atau Ikatan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Pinogu. Setidaknya ada hampir setengah anggota KKN kami di sana. Setelah menyerahkan senter, aku lalu kembali meneruskan perjalan pulang, menuju pondokan kami di Desa Pinogu Permai. Tanpa cahaya, melainkan hanya cahaya dari ponsel genggam milikku yang bercahaya redup. Namun Alhamdulillah, malam itu cukup berbintang. Bintang-bintang serupa yang aku lihat pada malam sebelumnya.

Sampai di pondokan, ternyata tengah ada berita duka. Salah seorang family dari tuan rumah pondokan kami baru saja meninggal dunia di kota. Tepatnya tadi sore. Atmosfer pondokan menjadi tidak nyaman dan setengah berkabung. Sementara malam sudah sangat larut dan sangat berbahaya jika harus melakukan perjalanan menuju kota yang harus menembus hutan, sungai, gunung dan semua yang ada di dalamnya melalui jalan setapak. Perjalanan panjang yang bisa ditempuh selama 6 jam oleh penduduk setempat dan 15 jam oleh kami para pendatang. Dengan jalan kaki tentunya.

Akhirnya tuan rumah pemilik pondokan kami meluruh.

“Percuma. Saya ke kota juga tidak bisa hidup lagi juga kan orang tua itu” ujarnya sambil sesekali merintih-i kulit di bawah ketiaknya yang tengah sakit.

Aku sepakat dengannya. Namun tidak banyak hal yang ku katakan malam itu melainkan hanya sedikit mencoba menghibur. Persis seperti rekan-rekan lainnya. Sesaat kemudian, ia pergi meninggalkan kami yang tengah disibukkan dengan membuat opor. Opor yang direncanakan akan dijadikan sebagai santapan ber-lebaran esok paginya.

————————————-

Kami beruntung memiliki Mbak Cuning, salah seorang anggota KKN yang paling mahir memasak dari seluruh aggota Tim KKN yang ada. Tim KKN yang bertempat tinggal di Pondokan Desa kami, desa Pinogu Permai sendiri berjumlah 6 orang dengan 5 orang diantaranya adalah laki-laki dan sisanya seorang adalah perempuan. Kami berlima diistirahatkan dalam satu kamar yang tidak terlalu luas, juga tidak terlalu sempit. Jika tidur terlentang, maka akan memuat tubuh kami berlima. Namun posisi terlentang itu mutlak harus bertahan hingga pagi. Karena itu, kami harus memulai tidur bersama. Sebab jika ada satu saja yang memulai tidur lebih dahulu, maka dapat dipastikan satu orang harus tidur di ruang tamu. Kami berlima ialah Simon, Awang, Riza, Indra, ditambah aku.

Sedangkan Mbak Cuning, yang paling senior di antara kami tidur di kamar sebelah. Dengan kamar yang cukup mewah untuk ukuran Pinogu, dengan ranjang dan lemari yang relative baik. Seringnya ia tidur berdua dengan putri dari tuan rumah pondokan kami, Nur Patri Datu. Namun sering pula ia hanya bersendiri.

Malam lebaran itu, kami tidur sekitar pukul 02:00, setelah berlelah payah memasak opor ayam dengan tungku api yang terbuat dari tanah liat. Dengan bahan bakar berupa kayu bakar yang diambil dari gudang sebelah. Aku tidak ingat, tapi agaknya aku tidur yang paling awal ketimbang rekan-rekan seluruhnya.

————————————————–

Aku bangun sekitar pukul 04:00 pagi dan mungkin menjadi yang pertama bangun pada Ied hari itu. Aku bersegera menimba air dari sumur kami untuk keperluan mandi beberapa orang, hingga kemudian menjadi yang pertama mandi di tengah dinginnya suhu bumi Pinogu yang menusuk. Saya sering menggambarkan dinginnya suhu Pinogu dengan ungkapan

 “Ketika kita membuka pintu di pagi hari, maka yang tampak di depan pintu adalah awan-awan dan kabut-kabut yang bergerak mendatar”.

Foto-0190Pinogu memang desa yang berada di atas awan. Aku yang terlahir di dataran rendah yang dekat dengan sungai dan laut, tentu saja tidak terlalu terbiasa dengan suhu semacam itu.

Setelah sholat subuh, aku membangunkan seluruh rekan-rekan pondokan yang tampaknya kelelahan semalam. Tentu saja, mereka bekerja di dapur lebih banyak ketimbang aku yang tidak terlalu nyaman di sana karena harus bersama perempuan ajnabi.

Termasuk yang kemudian aku bangunkan adalah Mbak Cuning, yang berada tepat di sebelah kamar kami.

Seluruh rekan-rekan kemudian bangun dan menunaikan seluruh kebutuhan kamar mandi meski harus antri. Kemudian sholat subuh.

————————————————–

Pukul 05:00 pagi, Ibu Pance, tuan rumah pondokan kami lalu datang sambil membawa beberapa lembar pakaian dan mukenah miliknya dan milik 2 anaknya. Di saat yang bersamaan, Mbak Cuning mengeluarkan sebuah setrika yang tidak pernah ku lihat sebelumnya, sembari meminta kepada Ibu Pance agar mau menyalakan genset agar listrik bisa menyala meski sebentar, agar setrika bisa digunakan merapihkan pakaian.

Genset berbahan bakar bensin itu lalu menyala setelah diengkol oleh Pak Narjan Datu – suami Ibu Pance- sehingga kami bisa menyalakan setrika dan merapihkan pakaian.

Ketika itu, aku sempat melongo ke arah mesin genset. Ternyata, ia sampai mengepul dengan asap yang tidak pernah aku saksikan sebelumnya, juga tentunya mengeluarkan suara yang tidak enak didengar. Mungin karena besarnya beban listrik yang ditimbulkan oleh setrika yang kami nyalakan. Yang pertamakali menggunakan setrika adalah Mbak Cuning, lalu kemudian Ibu Pance. Aku menjadi yang ketiga dan men-setrika beberapa lembar pakaianku sekaligus, termasuk pakaian anak bungsu dari Ibu Pance dan salah seorang rekan KKN ku yang lain.

————————————————-

Pukul 06:00 pagi, semuanya telah siap berangkat menuju masjid. Kami semua sudah dengan pakaian muslim yang rapih dan bersiap menuju masjid Pinogu Permai yang berjarak sekitar 1 KM ke atas bukit. Sebenarnya ada beberapa masjid yang lebih dekat. Hanya saja, ada sebuah ultimatum agar masing-masing warga desa hanya melakukan sholat Ied di Masjid desa masing-masing.

Sebelum berangkat, kami menyempatkan diri untuk berfoto. Sebuah foto kenang-kenangan yang boleh jadi menjadi foto kenangan kami di sana selamanya.

1

Pada foto itu, berjajar dari arah sebelah kiri ialah Riza, Awang, Mbak Cuning, Ibu Pance, Patri, Bapak Narjan Datu, aku , Simon dan Indra.

Kami lalu berjalan menuju Masjid Pinogu Permai atau Masjid Inpress bersama-sama warga Desa Pinogu Permai lainnya. Perjalanan ditempuh tidak terlalu lama, hanya sekitar 15 menit.

2

Masih terasa jelas rasanya aroma embun pagi hari itu. Juga bau tanah lumpur yang kami lalui. Juga bau tubuh batu-batu terjal yang terkadang cadas.

Tidak ada yang istimewa pada pelaksanaan sholat Ied hari itu. Hanya saja terdapat beberapa ritual adat yang wallohu a’lam, entah apa maksudnya dan bagaimana kedudukannya dalam pelaksanaan sholat. Karena tentu saja aku mengkhawatirkan adanya pelaksanaan ritual semacam itu, akan membatalkan sholat kami seluruhnya.

3

———————————————

Selepas sholat, kami ternyata berjalan dengan agak berpencar. Aku termasuk berada yang paling belakang dari seluruh jamaah yang hadir di Masjid hari itu. alasannya sebenarnya sederhana. Aku menghindari acara salam-salaman pasca sholat Ied yang mentradisi di hampir seluruh permukaan bumi Indonesia, tak terkecuali di Pinogu. Bukan enggan, hanya saja aku merasa bingung harus berbuat apa sekiranya ibu-ibu, baik ibu-ibu yang sudah agak lanjut ataupun yang masih muda, menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Apalagi kalau ia perempuan muda. Nah! Maka lebih baik jika aku menyinggir jauh dan menjadi yang paling belakangan.

Rekan-rekanku yang lain sudah lebih dulu dan berada jauh di depan jalan setapak yang kami lalui pagi itu. Udara masih terasa sangat sejuk. Masih terlihat tetesan embun pada dedaunan yang hijau. Hijau hampir di seluruh bumi Pinogu.

——————————————–

Aku tidak serta merta pulang ke homestay kami seperti yang lain, melainkan mengarahan langkah kaki menuju Kantor Camat. Satu-satunya tempat di mana listrik menyala, juga menjadi satu-satunya tempat kami bisa memperoleh sinyal telpon seluler dengan radius 25 meter dari pusat sinyal. Termasuk pula satu kabel LAN untuk penggunaan internet.

Ternyata aku tak sendiri di sana. Ada temanku, Riza, yang baru saja meminjam MCK umum yang berada tak jauh dari Kantor Camat. Kami lalu masuk menuju Kantor Camat. Rekanku Riza lalu beberapa kali mencoba menghubungi keluarganya di Solo menggunakan ponsel. Sementara aku, lebih tertarik menggunakan fasilitas kabel LAN untuk mengakses internet. Pun aku menyengaja untuk tidak menelepon keluarga di Batam secara bersamaan dengan Riza dengan tujuan agar sinyal telepon “dikuasai” oleh Riza seorang. Maklum, untuk 2 atau 3 ponsel menyala saja terkadang sudah membuat suara telpon putus-putus karena buruknya layanan sinyal.

Kami hanya berdua di sana selama setengah jam hingga puluhan hingga ratusan warga datang berduyun-duyun menuju kantor camat. Datang pula bersama mereka para tetua adat, para imam masjid, para khotib sholat Ied, dan tentu saja para aparatur desa dan Kecamatan. Rupa-rupanya ada sebuah ritual adat rutin yang biasa diadakan pada momentum hari raya.

Saat itu serta merta aku berfirasat buruk.

———————————————

88Meja-meja kemudian dibentang di aula Kantor Camat Pinogu. Tikar-tikar pun dihamparkan, juga sejumlah toples makanan lebaran juga makanan-makanan ringan. Seluruh tetua adat, orang-orang sepuh, kepala-kepala desa, aparatur kecamatan, dan tentu saja rekan-rekan KKN duduk melingkar menyesuaikan dengan bentuk ruangan yang berupa persegi panjang.

Lalu dihidangkan di depan kami satu atau dua tungku yang terbuat dari gerabah, yang kemudian dinyalakan arang di atasnya. Melihat itu, tentu saja semakin besar firasat burukku. Dan ternyata, firasat itu terbukti benar.

Sang tetua adat kemudian membakar kemenyan, sambil merapalkan doa-doa dengan bahasa-bahasa yang aku tidak mengerti. Mulutnya komat-kamit dengan mata terpejam yang aku pastikan bukan doa yang berbahasa arab. Untuk saat itu, aku masih bisa menoleransi keadaan meski asap rokok sudah mengepul memenuhi ruangan pagi itu.  Juga asap kemenyan yang menciptakan bau tidak sedap yang menempel pada jalin-jalinan pakaian kami.

Toleransiku berakhir ketika akhirnya doa-doa yang dirapalkan sampai pada kalimat

“Aamiin Ya Alloh… Aamiin Ya Alloh…. Aamiin Ya Imamah… Aamiin Ya Imamah”

 Astaghfirulloh! What did just I heard ?  Sopu kui “Imamah”?

“Imamah” sopo dab? Imamah syiah po?  Imamah sing ndi meneh ki ?

Well, aku kemudian berdiri lalu berjalan keluar, pamit dan meninggalkan pertemuan dan ritual adat tahunan di kantor Kecamatan Pinogu.

Bahasa Arab-ku memang menengah ke bawah, tapi untuk bahasa doa semacam itu, aku rasa kemampuan ku tidak bodoh-bodoh amat untuk memahaminya. Dan finally, aku temukan bahwa makna kata “Imamah” tersebut adalah para nenek moyang orang-orang Pinogu. Yang mereka anggap wali. Yang mereka anggap aulia. Yang katanya dekat kedudukannya kepada Alloh. Karena itulah, mereka berdoa kepada para nenek moyang mereka itu, yang diharapka menjadi peantara do’a mereka kepada Alloh Ta’ala.

What?? Helloooow ?? <— Kenyataannya ekspresi saya ga gini kok. Cuma sedih saja.

Aku ketika itu lalu berkesimpulan bahwa apa yang dilakukan dalam ruangan tersebut adalah sebuah bentuk kesyirikan besar. Sehingga batal-lah keimanan mereka yang berdoa seluruhnya (menurut pendapat yang paling kuat seperti yang aku pernah baca dalam tulisan Syaikh Sholih Al-Fauzan hafidzhohullohuta’ala).

Kejadian pagi itu membuat hatiku bergemuruh luar biasa sebenarnya. Bagaimana tidak ?? jika selama ini ritual tersebut sudah biasa diamalkan, bukankah berarti keimanan para imam tersebut batal? Sehingga tidak sah sholat yang diimami mereka, sementara selama KKN ini aku selalu sholat dengan diimami oleh mereka? Oh no!

Perkara ini kemudian saya tanyakan kepada guru kami Ustadz Aris Munandar Hafidzhohullohuta’ala beberapa hari setelah KKN, tepatnya setelah kajian Tafsir Kitab Tawdhih Al-Ahkam, Syarah Bulughul Maram Karya Al-Imam Ibnu Hajar Al-Ashqolani, dan beliau membenarkan pendapat saya ketika itu terkait tidak sahnya sholat kami selama KKN yang diimami oleh mereka. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa saya pada masa-masa ketidaktahuan kami selama di Pinogu.

Untuk itulah, setelah mengetahui hal itu, yakni adanya praktek kesyirikan level akbar di lokasi KKN yang dilakukan oleh sejumah elit kampung, pun oleh para imam-imam masjid, maka aku hampir tidak pernah sholat berjamaah di Masjid lagi kecuali jika aku atau salah satu dari rekan KKN yang menjadi imam. Berat sih, tapi mau gimana lagi sementara para Imam masjid tidak memberikan kesempatan kepada kami menjadi Imam-Imam sholat.

—————————————-

Aku lalu keluar dari kantor Camat dan berjalan menuju halaman sebelah barat.  Di sana, momentum itu aku manfaatkan untuk menelpon keluarga di rumah Ibu, di Batam. Tidak banyak yang bisa dibicarakan mengingat keluarga di rumah tengah sangat sibuk mengurus tamu yang sangat banyak.

Pada saat yang sama aku juga mengirim sms ke beberapa rekan terdekat.

Setengah jam kemudian, acara selesai dan para hadirin berjalan pulang menuju rumah masing-masing. Sementara aku, ikut pulang bersama rekan-rekan KKN lainnya menuju homestay kami. Perutku memang sudah agak lapar. Sudah terbayang opor ayam buatan Mbak Cuning yang katanya enak.

 

Dan benar, memang enak.

Setelahnya aku hanya beristirahat, tidur. Tidak ada program KKN hari itu. Juga tidak ada program ibadah special atau ibadah khusus. Sebagian rekan KKN dari desa lain menyempakan diri untuk berkeliling desa, mau bersilaturrahim katanya. Namun tidak dengan homestay kami. Kami memilih untuk tidur. Lagipula, selepas siang, langit mendung lalu turun hujan

——————————————

Foto-0138

Seperti itu gambaran lebaran tahun lalu. Dari lokasi KKN kami, di tanah Pinogu. Sebuah enclave yang nyaris terisolasi dari peradaban. Di antara gunung-gunung dan bukit-bukit. Negeri di atas awan.

Selesai ditulis di rumah Ibu

Plamo Garden-Batam Center

Hari ke 28 Ramadhan, 26 july 2014, 18:08

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s