Kelembutan Dakwah Ibrahim ‘alayhissalam (Dalam Tafsir Kitab Al-Ishbah)

27711-small-forest-waterfall-2880x1800-nature-wallpaperDiantara kajian rutin di sekitaran kampus UGM yang selalu saya datangi (dan saya sangat berbahagia di dalamnya) adalah kajian Selasa Petang, tepatnya Ba’da Magrib hingga sekitar pukul 20:30 di Masjid Al-‘Ashri Pogung Rejo. Kajian tersebut adalah kajian yang berpandu pada kitab Al-Ishbah Fii Bayaani Minhajus As-Salaf Fiittarbiyati Wal Ishlah, karya Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al-‘Ubaylan Hafidzhohullohuta’ala yang diampu oleh guru kami tercinta, Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar Hafidzhohullohuta’ala. Kajian yang berpandu pada kitab yang dibagikan secara gratis ini berisikan tema bagaimana cara meneladani jalan dakwah orang-orang sholih terdahulu.

Suatu ketika, pembahasan telah sampai pada bab agak pertengahan dengan pembahasan bagaimana berdakwah dengan hikmah. Dan salah satu da’i yang dikisahkan dalam pembahasan hari itu adalah seorang Rasul yang mulia, Ibrahim ‘alayhissholatu was-salaam.

Alloh telah jelaskan dalam sebuah surat yang agung, tepatnya surat Maryam, yang mengisahkan bagaimana Ibrahim ‘alayhissholatu was-salaam menyampaikan dakwah kepada keluarga terdekatnya, yakni ayahnya sendiri dengan penuh kelembutan.

(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikitpun? (19:42)

Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (19:43)

Wahai ayahu, janganlah engkau menyembah setan. Sungguh setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. (19:44)

Wahai ayahku, aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan (19:45)

——————————————

Maka berikut pembahasan tentang dakwah Ibrahim yang dijelaskan pada kami dalam kajian Tafsir Al-Ishbah tersebut

Pada ayat 42 Alloh Ta’ala menerangkan “(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikitpun? (19:42)

Pada penggalan ayat tersebut, terlihat bahwa Nabiulloh Ibrahim menyampaikan dakwah dengan cara yang sangat lembut, yakni tidak dilakukan dengan mencerca, atau menyampaikan dengan cara yang membabi-buta. Akan tetapi dilakukan dengan mengajak berpikir mad’u-nya, yakni ayahnya sendiri. Ia mengajaknya berpikir, mengapa ia (ayahnya) melakukan peribadatan, atau penyembahan pada sesuatu yang ia bahkan tidak mampu melihat, mendengar apalagi menolong sedikitpun. Bukankah hal yang demikian ini tidak akan mampu memberikan penjaminan apa-apa. Lalu kemudian untuk apa ia tetap disembah sementara ia tidak mampu memberikan faedah ataupun mudhorot sedikitpun?

Lalu pada ayat 43 Alloh Ta’ala menerangkan kalimat Ibrahim selanjutnya “Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”

Pada bagian ini, Ibrahim ‘alayhissalam berkata “sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu” yang mensiratkan bahwa Ibrahim mencoba untuk merendahkan dirinya di depan ayahnya bahwa ilmu yang ia dapatkan tidaklah terlalu banyak, dan hanya sebagian kecil jika dibandingkan dengan (ilmu) yang dimiliki oleh ayahnya, meski pada kenyataannya ilmu yang diberikan kepada Ibrahim adalah ilmu yang faedahnya sangat besar. Namun ia tidak membahasakannya dengan kalimat-kalimat yang meninggikan kedudukannya. Ia hanya berkata “sebagian ilmu” yang tentunya tidak banyak.

Kemudian ia berkata “maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”, yang dalam hal ini Ibrahim mencoba untuk memposisikan dirinya hanya sebagai penunjuk jalan, atau yang mengarahkan ayahnya harus berjalan ke arah mana (yakni kepada Alloh Ta’ala), sementara pemimpin perjalanan tetaplah ayahnya. Sedangkan Ibrahim, tetaplah hanya sebagai penunjuk jalan.

Hal ini sering kita terapkan dalam realita kehidupan sehari-hari, semisal kita akan menuju sebuah lokasi yang tidak kita ketahui. Lalu kemudian datang seseorang yang menawarkan diri untuk menunjuki jalan yang benar, jalan yang lurus dan paling efektif kepada kita untuk sampai pada lokasi yang kita inginkan. Bukankah dalam kondisi semacam ini, kita yang akan begerak menuju lokasi tujuan tetaplah menjadi pemimpin perjalanan, sementara penujuk jalan hanyalah sebatas penunjuk jalan? Kita tetaplah sebagai penguasa, kapan kita akan terus berjalan, kapan kita harus berhenti, berhati-hati atau mempercepat langkah, sementara penunjuk jalan hanyalah pihak yang berhak memberikan saran. Akan tetapi keputusan tetap ada pada diri kita.

Maka semacam itulah bentuk perendahan diri yang dilakukan oleh Ibrahim demi agar terselamatkannya sang ayah dari azab yang pedih.

Lalu pada ayat ke 44, Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan. Sungguh setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

Pada bagian ini, Ibrahim mencoba menjelaskan bahwa segala yang disembah selain Alloh adalah sebuah bentuk penyembahan kepada setan. Perlu dimaklumi bahwa bahasa “setan” sudah dikenal pada masa lalu, pun telah mahsyur pula dikenal kedurhakaannya kepada Alloh Ta’ala. Sedangkan menyembah setan berarti menunjukkan loyalitas kepada setan sementara ia telah melakukan kedurhakaan kepada Alloh Ta’ala yang Maha Pengasih. Bukahkan ini adalah sebuah bentuk kebodohan yang sangat besar?

Lalu pada ayat ke 45, Wahai ayahku, aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan

Maka perhatikan kata-kata yang digunakan pada ayat ini betapa lembut dan santun. Ibrahim menggunakan kata “khawatir” yang menunjukkan bahwa ia sangat mengasihi dan menyayangi ayahnya, hingga kemudian ia takut kelak pada hari pembalasan, ayahnya tergolong orang-orang yang ditimpakan azab padanya.

Lalu perhatikan penggunaan kata “engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih”. Maka jelaslah, bahwa bukankah Alloh adalah Tuhan yang Maha Pengasih?? Tuhan yang betapa besar kasih sayangnya kepada manusia? Tuhan yang rasa kasih sayangnya melebih kasih sayang siapapun? Yang tentu saja tidak akan pernah tega membiarkan manusia yang dikasihinya dikemparkan ke dalam azab neraka yang kekal karena betapa besarnya kasih sayang dan cintanya kepada manusia.

Akan tetapi apabila “engkau” yakni ayahnya Ibrahim, mendapatkan azab dari Alloh Ta’ala sementara Ia sejatinya adalah Tuhan Yang Maha Pengasih, maka bukankah dosa yang dilakukan adalah kedurhakaan yang sungguh sangat teramat besar?

Dan pada bagian akhir, Ibrahim menyampaikan bahwa sekiranya ia tidak bertaubat dari penyembahannya kepada berhala, maka ayahnya akan ditempatkan bersama-sama dengan setan. Sementara setan adalah makhluk yang paling durhaka dengan kedurhakaan yang banyak.

===================================

Pada akhirnya ayah Ibrahim tidak menerima dakwah Ibrahim, betapapun lembut cara penyampaian kebenaran yang dilakukan oleh Ibrahim. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui, hidayah ada pada genggaman tangan Alloh Ta’ala, yang hanya akan diberikan pada mereka-mereka yang Alloh kasihi.

Akan tetapi, sungguh dari sini dapat kita petik betapa seharusnya kita menyampaikan dakwah dengan cara yang lembut. Karena sungguh, manusia adalah hamba kebaikan. Yang ia akan luluh hatinya, manakala ia diberikan kebaikan-kebaikan, yang menundukkan hati.

Dan sebagai penutup, izinkan saya melampirkan salah satu contoh berdakwah dengan hikmah yang disampaikan oleh guru kami, Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar –hafidzhohullohuta’ala-

http://www.youtube.com/watch?v=ZBrY9CY-Btc

Semoga bermanfaat

Barakallohu fiikum

==================================

Selesai ditulis di rumah Ibu

Komplek Plamo Garden-Batam Center

23 July 2014, 14:24

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s