Cara Sederhana Melihat Akhlak Seseorang

-sebuah tulisan lawas yang terlupa-

Cute-Small-BicycleSeperti yang sudah dijanjikan pada dua hari yang lalu, saya berencana untuk bertemu, tepatnya menghadap dosen pembimbing skripsi hari ini. Rencananya saya hendak menyerahkan draft skripsi saya yang butuh banyak dikoreksi. Maka ketika memasuki waktu dhuha, saya menuju tempat untuk mencetak draft skripsi saya di sekitaran Dusun Karang Asem, lalu kemudian bergerak ke Dusun Pogung Kidul. Saya ingin sarapan di sana. Di sebuah warung nasi kuning yang memang sudah cukup terkenal. Maklum, sejak hampir 2 bulan ini sudah tidak pernah mampir ke sana. Padahal saya sudah cukup akrab dengan pemilik warung nasi kuning sejak masih di semester 1.

Ternyata pagi ini saya tidak terlalu berselera sehingga butuh waktu hampir setengah jam hanya untuk menghabiskan satu porsi yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Hingga pada akhirnya saya tidak menyadari waktu sudah jauh melampaui waktu yang saya janjikan untuk menghadap dosen. Saya lalu buru-buru mengambil kendaraan saya dan bersiap melaju.

Entah apa yang saya pikirkan ketika pertama kali hendak melaju, sehingga saya tidak menyadari dari arah gang, sebuah sepeda yang dikendarai oleh seorang wanita berkacamata  tengah melaju ke arah saya.

“Allohuakbar!!”

Sontak wanita berkacamata itu terkejut sambil melafadzkan kalimat yang bisa menggetarkan langit dan bumi.

Saya ikut terkejut meskipun sebenarnya ia jauh tampak lebih terkejut. Saya lalu bersegera meminta maaf berkali-kali. Dan begitupun dengan wanita berkecamata yang ketika itu terpaksa turun dari jok sepedanya, sambil tetap memegang dua stang. Saya lalu memundurkan kendaraan saya, mungkin sekitar satu meter untuk mempersilahkannya berlalu lebih dulu.

Saya tertegun sesaat. Mungin sekitar setengah menit selepas itu. Bukan karena masih kaget. Melainkan lebih kepada kata-kata yang pertama kali ia ucapkan ketika terkejut.

“Allohuakbar!!!”

Agung sekali bukan ?

Bukan tanpa alasan. Saya memahami betul bahwa tidak semua orang bisa bersikap dan memiliki akhlak demikian.

Maksud saya, kita akan sangat mudah mengetahui akhlak seseorang dari kata-kata pertama yang ia ucapkan ketika terkejut. Ketika ia kaget. Ketika ia berada dalam kondisi tidak terlalu sadar dan membutuhkan reaksi cepat. Sama seperti halnya ketika mata kita berjalan di dalam ruangan yang gelap, lalu tanpa sadar kita menginjak sesuatu yang tajam, serta merta kita akan refleks bereaksi, seperti mengangkat kaki.

Maka tak jarang, dan tidak juga aneh ketika beberapa tahun lalu, ada sebuah kalimat sederhana yang saya dapatkan dalam sebuah ceramah, namun sangat berkesan, yakni

“salah satu cara untuk mengetahui akhlak seseorang adalah dengan melihat apa yang pertama kali ia katakan ketika ia terkejut”

Maka orang yang ketika pertama kali terkejut berucap kalimat-kalimat thoyyibah seperti “Subhanalloh, Astaghfirulloh, Allohuakbar, Astaghfirulloh” dan sebagainya, maka InsyaAlloh dapat dipastikan orang tersebut memiliki akhlak yang baik, atau setidaknya dapat dikatakan ia memiliki akhlak yang dominan baik.

Karena bagaimana mungkin seseorang yang biasa mengingat Alloh jauh dari Rabb-nya dan buruk akhlaknya ?

Keadaan sebaliknya, mereka yang tidak dekat dengan Rabb-nya cenderung memiliki perangai yang buruk dan tabiat yang juga buruk. Kata-kata yang diucapkannya cenderung merupakan kata-kata yang tak lazim diucapkan oleh mereka yang berilmu. Tidak pula dengan tindakan atau tingkah laku yang meneduhkan. Dan salah satu indikator yang paling mudah, adalah sebagaimana pada pembahasan sebelumnya, yakni perhatikan bagaimana ia ketika terkejut. Kata-kata apa yang pertama kali akan ia ucapkan ?

Hasil pengamatan di lapangan, tentunya dapat kita temui adalah bahwa sebagain besar dari mereka cenderung mengeluarkan kata-kata yang kasar dan berbau kebun binatang. Atau binatang-binatang yang cenderung menjadi penjaga rumah atau penjaga kampung, atau binatang yang cenderung dikenal sebagai produk mistis pesugihan. Hehe.

Dan satu lagi, mereka tidak terbiasa menyebut nama Alloh Ta’ala. Maka jangan berharap ia akan menyebut nama-nama Alloh yang mulia yang lain semacam Ar-Rahman, Ar-Rahim dan lainnya yang jumlahnya tak terbatas.

Jikapun terpaksa menyebut Alloh, maka ia lebih suka mengganti nama Alloh dengan sebutan “Yang di Atas” , atau “Yang Ngatur” , atau “Sang Pencipta”. Oke, itu kita katakan sebagai salah satu terjemahan (sempit) dari beberapa nama-nama Alloh yang agung. Akan tetapi, kenapa tidak menyebut “Alloh” saja, bukankah itu lebih simple ?

=======================

Lalu, kira-kira anda termasuk pada bagian yang mana? Hehe

 

Tulisan ini pertama kali ditulis pada

25 April 2014 , 10:49 menjelang sholat Jum’at

Lalu terlupakan, hingga diselesaikan pada

18 July 2014, 22:55

Pada perjalanan Yogyakarta-Jakarta, dalam Kereta Gaya Baru Malam

Stasiun Prujakan menuju Stasiun Bekasi

========================

Lalu ditayangkan ketika berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Terminal 1B – Gate B3

19 July 2014, 06:15

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s