Pemuda-Pemuda Tebuireng

OLYMPUS DIGITAL CAMERASaya tidak punya pengetahuan apapun tentang sebuan pondok pesantren yang bernama Tebuireng. Yang saya ketahui hanyalah, ia merupakan nama sebuah pondok pesantren binaan Nahdlatul ‘Ulama yang ada di Provinsi Jawa Timur.

Jika pun ada, pengetahuan saya tentang sebuah pondok pesantren yang sebenarnya cukup terkenal ini adalah, salah satu dari kakak ipar saya pernah bersekolah di sini. Itu saja. Saya pun tidak diberitahu lebih.

Akan tetapi, takdir Alloh membawa saya pada hari ini, ketika saya diberi kesempatan untuk sedikit mengenal salah satu pondok yang paling terkenal di Indonesia ini.

————————————-

1024px-KeretaapiMatarmaja1Kereta Gaya Baru Malam yang akan saya tumpangi menuju kota Jakarta akhirnya tiba. Saya yang membeli tiket secara online sudah bersiap-siap menuju gerbong nomor 8, seperti yang tertera daalm tiket yang kini telah saya kantongi. Akh, ternyata ia agak di belakang, jauh di sebelah timur. Saya harus sedikit lebih bersusah payah karena memang tidak terbiasa melakukan perjalanan menggunakan kereta.

Saya lalu masuk dalam gerbong itu. Lalu, ekspresi yang muncul kemudian adalah perasaan kaget!

Segerombolan pemuda tanggung dan sebagian masih pemuda pra remaja yang kira-kira berusia SMP dan SMA memenuhi gerbong yang akan saya tumpangi. Sebagian terdengar beraksen kasar dan tidak nyaman untuk didengar oleh telinga orang-orang Jogja. Sebagian lagi tampak berpenampilan yang tidak lazim, dengan potongan rambut yang tidak rapih dan atribut yang tidak mencirikan orang-orang kota pada umumnya.

Serta merta saja saya memasang kondisi siaga dan berhati-hati sekali, karena sekilas yang saya pandangi, mereka menguasai Photo-0194sebagian besar kursi yang ada pada gerbong nomor delapan. Sebagai bentuk kesiagaan, saya lalu mengambil pena yang saya simpan di dalam salah satu saku ransel hitam milik saya yang terluar. Niatnya, digunakan sebagai senjata sekiranya terjadi sesuatu hal yang mendesak atau di luar dugaan.

Keadaan menjadi semakin tidak nyaman ketika kemudian sebagian dari mereka mulai kembali berbicara dan berteriak-teriak tidak jelas, meski sebagiannya lagi saya persaksikan tampil dengan sangat tenang dan dengan wajah kelelahan.

Setengah jam perjalanan, salah seorang pemuda di antara mereka lalu menghampiri saya, lalu meminta saya dengan bahasa yang paling sopan untuk mau dipindahkan pada kursi yang berada agak di belakang. Saya tidak tahu apa pertimbangan pemuda itu, akan tetapi saya menurut saja karena melihat ketulusannya.

Belakangan kemudian saya ketahui bahwa mereka adalah rombongan santri dari Pondok Pesantren Tebuireng-Jombang yang sedang melakukan perjalanan mudik bersama ke Jakarta. Maka tidak aneh jika aksen mereka demikian, yakni bahasa khas Jakarta yang berakulturasi dengan gaya bahasa Jawa Timuran. Bisa dibayangkan bukan ??

Maka pelan-pelan pula kesiagaan telah saya kurangi.

Saya lalu duduk pada kursi yang berada agak di belakang dengan dua orang penumpang “asing” lainnya, atau penumpang yang bukan merupakan santri dari Pondok Pesantren Tebuireng.

Photo-0198Pemuda yang mengantarkan saya menuju kursi yang agak di belakang bersikap dengan sangat lembut dan sopan. Sehingga seakan-akan saya beranggapan bahwa ia adalah yang terbaik di antara mereka.

Tak berselang 1 menit kemudian, pemuda tanggung itu kembali datang ke arah saya dengan membawa satu box makanan untuk berbuka puasa dengan mengatakan bahwa, hidangan buka puasa tersebut adalah hadiah untuk seluruh penumpang “asing” gerbong ini dari Pondok mereka. Termasuk untuk saya, dan dua orang penumpang asing lainnya yang berada tepat di sebelah saya.

Saya lalu tersenyum. Senyum yang mengubah banyak anggapan pada senja itu

————————————

Saya rasa, kebanyakan manusia akan bereaksi yang tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan ketika menemukan kondisi semacam ini, yakni memasang kondisi siaga. Maka saya tidak akan menyalahkan diri saya terlalu banyak atas kejadian yang saya alami senja itu di kereta. Satu-satunya kesalahan yang saya lakukan, adalah terlambat menyadari, siapa segerombolan pemuda tanggung itu.

Saya tidak begitu tahu apa yang diajarkan di Pondok Pesantren Tebuireng-Jombang. Akan tetapi, apa yang telah mereka lakukan terhadap saya, pun kepada penumpang asing lainnya adalah sebuah perbuatan yang mulia. Yang serta merta menegasikan kesan pertama yang bersifat negative yang saya dapati.

Terlepas dari banyaknya tradisi yang kontroversi dari Tebuireng-Jombang, Semoga Alloh memberikan ilmu yang bermanfaat kepada santri-santri itu.

————————————

Ditulis dalam sebuah perjalanan kereta Gaya Baru Malam Yogyakarta-Jakarta

Slatri Kidul, Purwokerto Menuju Cirebon

Jumat, 18 July 2014, 21:42

Malam ke 21 Ramadhan 1435 Hijry

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Sumber Foto

1. Foto Ponpes Tebuireng : wikipedia.co.id

2. Kereta : infrastructureindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s