Perbandingan Pintu Kebaikan dan Pintu Keburukan

Fire-And-Water-LoveKetidakmampuan, atau tepatnya ketidaklancaran saya berbahasa arab baik lisan dan tulisan alhamdulillah tidak menghalangi saya untuk mengikuti kajian yang menggunakan kitab, atau tepatnya menggunakan metode membaca kitab.

Alhamdulillah bini’matihii,

Hari rabu lalu Kitab Sejarah Khulafaurrasyidin karya Syaikh Sulayman Bin ‘Abdullah Bin Sholih Ar-Ruumi telah selesai dibahas. Sebuah kitab yang sebenarnya selevel dengan pelajar Siswa SMA kelas 11 di Universitas Islam Madinah.

Senja ini akhirnya kami memulai pembahasan kitab baru dengan judul “Kunci-Kunci Kebaikan” karya Syaikh ‘Abdurrozak Bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.

=============

Dibacakan kepada kami oleh guru kami, bahwa kebaikan dan keburukan tidaklah sama kedudukannya.

Ketahuilah, bahwa meskipun kebaikan dan keburukan terletak pada keberadaan yang sama terhadap manusia akan tetapi, kemudahan dan kecenderungan untuk sampai padanya tidaklah sama.

Kebaikan, ia terdapat dalam sebuah ruangan dengan daun pintu yang tergembok. Untuk masuk ke dalamnya tidaklah mudah. Kita harus berjalan ke arahnya, lalu harus memiliki kunci untuk membuka gembok yang menghalangi kita untuk masuk ke dalamnya. Bahkan, kita harus melakukan aktivitas membuka pintu dengan memasukkan kunci yang kita bawa, memutarnya, lalu melepaskan gemboknya. Kemudian kita harus mendorong sendiri pintu yang telah kita buka gemboknya. Barulah kemudian kita akan mampu masuk ke dalamnya.

Bandingkan dengan kemaksiatan

Ia ibarat sebuah ruangan sepertihalnya dengan kebaikan. Akan tetapi ia tidaklah tertutupi dengan pintu yang tergembok. Melainkan hanya dengan selembar tirai yang tipis lagi mudah diterpa angin. Tidaklah sulit untuk masuk ke dalamnya. Kita hanya perlu untuk berjalan ke arahnya, lalu menyibakkan tangan kita padanya, maka terbukalah ia. Bahkan, pun tak perlu menggunakan tangan. Cukup hanya dengan sedikit menggeserkan bahu, maka masuklah kita ke dalamnya. Pada lembah kesesatan yang boleh jadi meluangkan nafas ketika di dunia, namun akan mengurai ketakutan ketika sudah tiba hari persaksian.

Itulah kenapa orang-orang lebih mudah terjatuh dalam kemaksiatan ketimbang masuk dalam kebaikan. Sebab untuk berada dalam keburukan, kemaksiatan dan kegelapan adalah perkara yang sangat mudah. Seperti halnya yang terjadi pada masa ini. Hingga kemudian ia diibaratkan hanya ditutupi dengan modal sebuah tirai.

Mari kita ambil contoh, tentang masalah menahan pandangan.

Subhanalloh, jalanan mana di kota ini yang saat ini aman dari fitnah pandangan? Wanita-wanita dengan mudahnya –atau dengan bangganya- mempertontonkan apa yang tidak selayaknya diperlihatan. Dan jumlahnya tidak sedikit.Bahkan justru mendominasi. Baju-baju yang mini, yang akan menampakkan bagian perut ketika merunduk, atau sekedar mengangkat tangan. Pada bagian yang lain ada kerah baju yang sudutnya terbuka hingga sejajar dengan pertengan tulang lengan atas. Atau rok-rok yang didesain beberapa senti di atas lutut, atau bahkan dari pinggang. Atau celana-celana yang hanya menutupi bagian vital. Ketat, dan membentuk kontur-kontur aurat.

Jika ingin memasuki lembah kemaksiatan, bukankah sangat mudah? Sebab mereka kebanyakan tidak bermasalah jika “dinikmati” tubuhnya oleh mata-mata yang jalang. Pakailah strategi pura-pura tidak melihat, atau curi-curi pandang, atau ya liat saja sekali lewat. Tersinggung “dinikmati” tubuhnya? who cares ? toh mungkin besok tidak bertemu lagi. Mudah bukan ?

Namun bandingkan dengan mereka yang ingin memasuki ruang kebaikan. Ruang ketaatan. Bisa dibayangkan betapa sulitnya. Ia harus menyelaraskan iman, hati dan logika. Bahkan aktivitas anggota tubuh. Ia harus menyingkirkan jauh-jauh niatan untuk melihat yang diharamkan baginya, ia harus membuang jauh-jauh pikiran kotor yang boleh jadi merasupi otaknya, dan bahkan mengatur matanya agar tidak sempat melihat apa-apa yang diharamkan padanya. Yang maka dari itu pilihannya ada dua; mebenamkan pandangan ke bumi, atau menerbangkannya ke langit. Sulit bukan?

Namun ketahuilah wahai jiwa-jiwa yang Alloh kasihi, kemaksiatan akan berujung pada kesedihan, sebagaimana yang diterangkan oleh Sahabat Abdullah Bin Mas’ud Radiallahu anhu, ia berkata

“Kebenaran itu berat, tetapi menyenangkan pada akhirnya dan kebatilan itu ringan, tetapi menyusahkan pada akhirnya. Sudah berapa banyak hawa nafsu yang diikuti kemudian menyisakan kesedihan yang panjang”.

(Untaian Hikmah Pelembut Jiwa Karya Syaikh Shalih Ahmad Asy Syami, terjemahan Hal 73).

Dan kepedihan yang paling menyengsarakan adalah ketika kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan, meski ia tampak begitu indah dan mudah, akan mengantarkan langkah menuju neraka. Allohul musta’an.

Karena itu, bersabarlah dalam menjalankan ketaatan di dunia. Karena sungguh, kebersabaran sudah tidak lagi ada manfaatnya ketika berada di neraka.

==================

ditulis menjelang dini hari,

ketika sedang insomnia

Karang Asem, Kocoran, Catur Tunggal, Depok, Sleman

Pojok Kamar Bercat Biru 

11 July 2014, 01:26

Hari ke 13 Ramadhan

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s