Akhi, Melembutlah dengan Masa Lalu Seseorang

20992-bench-in-the-dark-park-2560x1600-photography-wallpaperSebuah dialog yang agung, yang dikenal dari masa lalu, dari seorang sepupu Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam yang syahid di Perang Yarmuk.

Tatkala hari itu, ia harus dihadapkan pada pertanyaan Najasyi, penguasa negeri Habasyah. Ia ditanya, perihal kenapa ia telah meninggalkan Tanah Makkah, sebuah tanah suci peninggalan leluhur mereka, Ibrahim ‘alayhissalam…

Seketika itu pula ia menjawab…

“Wahai Baginda, dahulu kami termasuk kaum jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan perbuatan keji, memutuskan tali silaturahim, berbuat jahat kepada tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah. Kami melakukan semua itu sampai Allah mengutus seorang Rasul. Kami mengenal silsilah keturunan beliau. Kami pun mengetahui kebenaran, kejujuran, dan kesuciannya. Beliau mengajak kami untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya. Kami tinggalkan batu dan berhala yang dahulu disembah. Beliau memerintahkan kami untuk berkata benar, melaksanakan amanat, menyambung tali silaturahim, berbuat baik kepada tetangga serta menjaga darah dan kehormatan. Beliau melarang kami melakukan perbuatan keji, berkata dusta, memakan harta anak yatim, dan memfitnah orang berbuat zina. Beliau memerintahkan kami untuk menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya. Kami membenarkan beliau dan percaya kepadanya. Kami mengikuti jalan Allah yang beliau bawa. Kami menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Kami mengharamkan sesuatu yang telah diharamkan dan menghalalkan sesuatu yang telah dihalalkan bagi kami.

Tak lama setelah itu, ia lalu memperdengarkan surah Maryam yang turun pada Rasul yang agung, hingga kemudian membuat kedua bola mata Najasyi yang pekat, membasah. Luruh pelan-pelan.

=======================

Siapalah kiranya diantara kita yang tidak memiliki masa lalu, akhi? Sungguh semua orang memiliki sisi gelap dan keburukan masing-masing. Hanya saja Alloh masih berkenan menutupi aib-aibnya dari pandangan mata manusia…

Siapalah kiranya diantara kita yang tidak pernah berbuat hina, akhi? Sungguh sekiranya tabir aib kita dibuka, tak ada beda rupa ini dengan comberan…

Siapa di antara kita yang bisa berlepas diri dari dosa ya akhi? Sungguh sang pena tak pernah luput mencatat kehinaan-kehinaan yang pernah kita lakukan… sementara kita tidak tahu, dengan tangan apa kelak kita akan menerima catatan…

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ulama pendahulu kita yang mulia

“Sekiranya dosa itu mengelaurkan bau busuk, maka sungguh tidak akan ada yang mau duduk bersamaku”

Ketahuilah wahai akhi, kata-kata di atas adalah ungkapan seorang Tabi’in bernama Muhammad Bin Waasi’ -rahimahullohu ta’ala-. Seorang yang dikenal dengan kezuhudannya, faqihnya dalam agama, pun gagah dalam medan perang. Akan tetapi tetaplah ia merasa sebagai seorang manusia penuh dosa.

Lalu bagaimana dengan kita ? Yang tiadalah kita termasuk orang-orang yang zuhud, atau tangguh dalam medan perang, apalagi menjadi seorang yang faqih dalam agama. Bukankah tentu kita lebih hina ?

===================

Namun sungguh wahai akhi, Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda

“Setiap anak Adam pasti sering melakukan dosa dan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang rajin bertaubat”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, hasan)

Sungguh tidak terbayangkan bagaimana keadaan muka bumi sekiranya setiap manusia yang berdosa serta merta dihukum, dengan diturunka azzab padanya. Seperti halnya ketika Alloh menenggelamkan kaum Nuh ‘alayhissalam, atau Alloh hembuskan topan kepada kaum ‘Aad, atau Alloh balikkan bumi kepada kaum Luth ‘alayhissalam.

Maka sungguh Alloh begitu teramat sangat baik, menangguhkan azzab untuk kita, dan menanti-nanti sekiranya kapankah kita akan bertaubat. Karena sekiranya azzab itu tidak ditangguhkan, maka tentu saja tidak akan ada makhluk di muka bumi.

=====================

Dan MasyaAlloh,

Maha Suci Alloh, Tuhan yang Maha Tinggi…

Ketika hidayah telah menyapa seseorang dari anak Adam, siapalah yang melarang ia untuk bermandikan dengan cahaya Alloh? Bukankah semua hamba memiliki hak yang sama untuk bertaubat?

Ketika seseorang telah bertemu dengan cahaya hidayah, siapalah pula yang boleh menghalanginya untuk mendekap dalam pelukan Tuhannya?

Dan siapa pula yang melarang ia untuk menyerahkan hatinya yang telah berlumur lumpur, agar Alloh gantikan dengan hati yang lebih baik lalu menyerahkan ia hanya untuk-Nya?

Lihatlah bagaimana keadaan Ja’far Bin Abi Thalib setelah ia mendapatkan hidayah.

Ia berangkat dari masa lalu yang hina. Masa lalu yang boleh jadi tak sesiapapun dari kita lebih buruk dari masa lalunya.

Namun Ketika Alloh telah memuliakannya dengan hidayah Islam, ia menjadi mulia dengannya. Ia telah diperintahkan untuk menyembah hanya kepada Tuhan yang Esa, lalu ia turuti, pun ia dilarang untuk menyekutukan Illah dengan batu atau berhala, ia laksanakan.

Lalu muncullah akhlak yang indah, dan kedudukan yang mulia, padanya… dan orang-orang yang bersama dengannya…

==========================

Maka akhi, bermudah-mudahanlah engkau akan kesalahan orang-orang di masa lalu apabila ia telah bertaubat, ketika ia telah kembali pada fitrahnya dalam ketaatan. Ketika ia telah kembali menyerahkan ubun-ubunnya kepada Alloh Ta’ala yang Maha Gagah lagi Maha Perkasa.

Ketika Alloh begitu mengasihinya, dengan isak tangis sendunya dalam setiap sujud, maka sungguh adalah sebuah hak baginya untuk pula mendapatkan pemaafan… lalu dipeluk dengan kehangatan… dan keindahan ukhuwah dalam Islam…

Jangan pula engkau ungkit masa lalunya…

Karena engkau tidak tahu, seberapa besar perjuangannya untuk menutup lembar nista di masa lalu…

Dan ingatlah wahai Akhi, seseorang yang pernah berangkat dengan menghunus pedang menuju Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan nafas berapi-api untuk membunuh kekasih-Nya, kini telah menjadi salah satu diantara manusia yang paling utama dan berbaring tepat di sebelah kubur Nabi.

Maka akhi, melembutlah…

=========================

Alloh, ya Robb…

Masih membekas ucapan dari salah seorang guru kami -rahimahullohu ta’ala-

“Sekiranya engkau tau sebetapa besar kasih sayang Alloh ketika engkau bersujud, maka sungguh engkau tidak akan berani membangkitkan kepalamu”

Semoga Engkau sudi mengusap ubun-ubun kami, pada suatu hari yang tiada tempat berlindung selain di bawah kaki-Mu.

=========================

 

Ditulis Ketika Sedang Menunggu.

Pojok Kamar Bercat Biru.

Hari ke-11 Ramadhan,

09 July 2014, 15:09

Ahmad Muhaimin Alfarisy 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s