Menjadi Ayah (Tentang Motivasi Menikah)

danbo8Suatu ketika, Alloh memberikan kesempatan pada saya untuk terlibat dalam sebuah diskusi yang menarik. Sebuah diskusi yang entah kapan bisa terulang kembali, atau mungkin tidak selamanya. Diskusi menjadi menarik ketika yang dibicarakan menuju ke arah masalah-masalah yang terkait dengan pernikahan. Sebuah hal yang sangat wajar untuk dibahas oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa tingkat akhir seperti kami berdua pagi itu.

Tema pernikahan selalu menjadi pemabahasan yang sangat menarik, mengingat “galau” adalah sebuah keniscayaan, yang pasti terjadi pada seseorang yang dalam hal ini konteksnya adalah tentang pendamping hidup. Hehe. Namun, periode galau seseorang bisa berbeda-beda. Ada yang bertahun-tahun atau dengan durasi yang sangat lama, ada juga yang hanya berdurasi harian saja.

Pembicaraan yang kami lakukan pada awalnya hanyalah terkait skripsi, bagaimana proses pembuatan surat-surat izin dan persyaratan yang dibutuhkan. Akan tetapi, mungkin karena tema yang dibahas terlalu sedikit sementara waktu ketika itu sangat senggang, maka tema pembicaraan akhirnya melebar dan menyerempet tema-tema yang berkaitan dengan pernikahan. Sampai akhirnya, rekan saya berujar

“Satu hal yang penting dan harus diperhatikan orang-orang dalam motivasi menikah adalah, karena ingin meneruskan keturunan. Itu kata ayah saya”

Saya agak lupa dengan redaksi aslinya, akan tetapi kurang lebih seperti itulah yang ia sampaikan hari itu.

Menarik!

Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir dan sering berteman dengan rekan-rekan yang dekat dengan masjid, maka cerita tentang kegalauan sering saya dengar. Kebanyakan tentu saja dari rekan laki-laki. Umumnya, mereka yang sudah sangat mengerti rambu-rambu dalam pergaulan akan lebih suka membahas masalah pernikahan mengingat ini adalah satu-satunya jalur yang sah dalam membina hubungan cinta dengan lawan jenis.

Berbagai rekan kemudian tampak terlihat dengan motivasi yang menggebu-gebu untuk menikah. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal itu, atau yang memotivasi mereka untuk segera menikah. Mulai dari keinginan untuk menjaga hati, menyempurnakan setengah agama, merajut kembali cinta yang sempat terputus (karena sudah kenal ngaji) dengan cara yang halal, ingin kaya atau mendapatkan rezeki yang baik (ini shohih lho) hingga yang ingin punya motivasi untuk berubah dan berkembang. Akan tetapi sungguh, saya belum pernah mendengar alasan yang berupa “ingin meneruskan keturunan”.

Asumsi saya, boleh jadi sebenarnya banyak pula yang menginginkan demikian, yakni salah satu motivasi menikahnya adalah untuk melanjutkan keturunan meskipun itu bukanlah hal yang utama mengingat memiliki keturunan adalah sebuah hal yang InsyaAlloh hampir pasti terjadi pada setiap pasangan pernikahan yang sehat. Akan tetapi tidak sedikit yang tidak begitu mempersiapkan ilmu tentangnya. Yakni ilmu untuk membina keturunan. Apakah sudah siap, atau belum. Apakah sudah mengilmui semua hal yang diperlukan untuk menjadi seorang ibu, atau seorang ayah. Apakah sudah benar-benar memahami kaidah-kaidah yang berkaitan dengan pembinaan anak dan konsekuensi yang berjalan beriringan dengannya ?

Contoh sederhana,

Jika anda seorang laki-laki yang ingin segera menikah dan tentunya akan menjadi ayah, apakah sudah mengerti bagaimana fiqih dan adabuz- zifaf ? bagaimana dengan hukum memperdengarkan adzan di telinga bayi? bagaimana hukum-hukum dalam aqiqah? Bagaimana tata cara penamaan bayi yang tidak melanggar syariat? Dan masih banyak lagi

Jika anda seorang perempuan yang ingin segera menikah dan tentunya akan menjadi ibu, apakah sudah mengerti tentang adabuz-zifaf? Lalu bagaimana hukum-hukum yang berlaku ketika memasuki masa nifas dan tata cara mandi untuk mensucikan diri ? bagaimana cara mendidik anak sehingga ia tumbuh kembang menjadi anak yang sholeh dan sholehah ? dan masih banyak lagi.

Sebagian mungkin berkata, hal-hal yang saya sebutkan di atas bisa dipelajari sambil jalan. Saya sepenuhnya sepakat. Akan tetapi, perlu pula ditetukan kapan hal itu harus sudah kita pahami dengan baik, serta tidak berkata “bisa dipelajari sambil jalan” akan tetapi ternyata tidak belajar juga. Sehingga ketika datang masanya, kita tidak serta merta menjadi panik.

Sebuah statement yang menarik hari ini saya jumpai pada status seorang Ummahat yang cukup populer di media social facebook

Carilah modal untuk menikah. Jangan menikah untuk mencari modal (dari status Ummu Fahrian Ida, 03 July 2014)

Kata “modal” yang ia sebutkan boleh jadi sebenarnya adalah terbatas pada “harta” atau “uang” atau “asset” yang bersifat material mengingat firman Alloh tentang salah satu kebaikan dalam menikah adalah ia akan menjadi kaya. Akan tetapi lebih dari itu, saya pribadi mentafsirkannya pada skup yang lebih luas. Modal, ia lebih kepada ilmu ketimbang hanya sekedar materi.

==================

Dan satu hal yang penting.

Menikah adalah ibadah yang mulia. Jangan engkau mulai ibadah itu dengan perkara yang diharamkan oleh Alloh ta’ala.

Jika dulu pernah, maka bertaubatlah seketika. Sungguh Alloh menyukai orang-orang yang gemar bertaubat dan mensucikan diri.

==================

Menulis ini, membuat saya merindui masa-masa ketika nanti, melihat beberapa bidadari jelita dan pangeran tampan yang memanggil saya dengan sebutan “abuyaa”

==================

Tapi harus cari yang mau dipanggil “ummi”-nya dulu, 😀

==================

Pojok Kamar Bercat Biru

Karang Asem, Depok, Sleman

Bumi Yogyakarta

03 July 2014 23:39

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

One thought on “Menjadi Ayah (Tentang Motivasi Menikah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s