Syubhat Rukun Iman Ke-Enam yang Mengganggu

Ada sebuah syubhat yang selalu mengitari isi kepala belakangan ini. Terus terang saja, ini adalah sebuah masalah yang mengerikan. Betapa tidak, sybuhat yang mengganggu isi kepala saya adalah syubhat terkait rukun iman. Tepatnya rukun iman yang ke-enam. Iman kepada qodo’ dan qodhar.29278-leaf-1920x1200-nature-wallpaperSaya tidak tahu sejak kapan muncul syubhat ini dalam kepala saya. Beberapa artikel sebenarnya sudah coba saya baca untuk membersihkan syubhat ini. Terus terang saja, saya benar-benar belum memahami rukun iman yang ke-enam ini dengan baik.

Sejauh ini, inilah beberapa poin yang saya ketahui tentang rukun iman ke enam

  1. Iman ke pada takdir atau kepada qodo dan qodhar adalah salah satu pokok keimanan yang jika kita tidak meyakininya dan memiliki pemahaman yang benar tentangnya, maka kita serta merta keluar dari Islam
  2. Qodar’ adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh Alloh sejak zaman azali, sedangkan qodo’ adalah kadar ketetapan yang Alloh ta’ala tetapkan. Dalam hal ini, qodar mendahului qodo’.
  3. Iman kepada takdir memiliki 4 rukun, yakni Al-Ilmu yakni Alloh mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi segalanya, lalu Al-Kitabah yakni segala perkara apapun – termasuk perkara saya nulis tulisan ini- sudah dicatat oleh Alloh ta’ala dalam sebuah kitab yang agung yang dinamai dengan “Lauh Al-Mahfudz”. Lalu Al-Masyi’ah, yakni Alloh menghendaki hal itu terjadi, dan yang terakhir adalah Al-Khuluk yakni Alloh yang menciptakan hal itu terjadi
  4. Manusia telah ditentukan pada akhirnya akan berada di neraka ataupun di surga.
  5. Perbuatan seorang hamba yang baik dinisbatkan karena Alloh, sedangkan perbuatan hamba yang buruk dinisbatkan kepada hamba itu sendiri
  6. Tidak boleh seorang hamba berdalih dengan takdir atas kemaksiatan yang ia lakukan
  7. Tidak boleh berdalih dengan takdir atas apa-apa yang bisa dikendalikan, atau diupayakan, atau diusahakan oleh manusia.  Atau simpelnya, jika hal itu masih dalam kendali manusia, maka yang bertanggungjawab adalah manusia itu sendiri. Misal, melakukan maksiat berupa matanya jelalatan kalau ke luar rumah. Itu memang takdir, tapi tidak boleh menisbatkan maksiat tersebut kepada takdir karena menahan pandangan adalah dalam kontrol manusia. Ia bisa menahan pandangan sebagaimana ia bisa men-jelalatkan matanya. Namun kalau takdir yang tidak bisa dikendalikan atau di luar kemampuan manusia, misal bencana alam, maka boleh menisbatkan hal tersebut kepada takdir.
  8. Tidak boleh bersandar kepada takdir, dan manusia harus berusaha sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat baginya, baik untuk dunia ataupun akhiratnya. Karena itu kita tidak boleh bermalas-malas ria. Jika ingin surga, maka manusia harus bersandar dalam bentuk berupaya dengan sebab-sebab yang akan mengantarakannya ke surga. Bukan hanya bersandar kepada takdir yang ita tidak tahu akan berakhir ke mana.
  9. Akan tetapi, segala hal yang kita upayakan, tidak akan keluar dari jalur takdir yang telah Alloh ta’ala tentukan untuk kita di Lauhul Mahfudz
  10. Manusia memiliki kehendak untuk berbuat sesuatu. Karena realitanya demikian. Karena itu seseorang yang berbuat ketaatan ia diganjar dengan pahala dan pelaku dosa ia akan diganjar dengan dosa dan azzab sekiranya Alloh tidak ampuni
  11. Diantara buah iman kepada takdir adalah seseorang tidak menjadi risau akan hidupnya.
  12. Salah satu kunci keberhasilan dalam mengimani takdir adalah selalulah berhusnudzon kepada Alloh akan takdirmu
  13. Maka lakukanlah amal sholeh sebagai bentuk berhusnudzhon, karena orang yang Alloh hendaki surga untuknya, ia dimudahan dalam beramal sholeh
  14. Amal sholeh atau amal ketaatan termasuk hal-hal yang berada pada kendali manusia. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak melaksanakannya.
  15. Surga itu pasti. Neraka juga pasti. Semua orang ingin masuk surga, itu juga pasti. Maka bangun takdirmu sendiri, berhusnudzonlah pada Alloh. Dan, tidak penting bagaimana engkau mencintai Alloh. Yang penting adalah, bagaimana caramu agar dicintai oleh Alloh.

Sejauh ini, baru itu yang saya pahami. Dan pemahaman semacam ini belum mampu membuat saya puas. Atau karena iman yang belum memadai ? atau saya terlalu bodoh. Entahlah. Saya berharap Alloh berikan saya iman yang lebih kokoh.  Semoga Alloh ta’ala berikan kita ilmu yang bermanfaat, yang membuahkan ketaatan

==========================

PS : jangan tanya kenapa foto yang dipilih malah foto seperti yang di atas 🙂

No reason excatly

==========================

Karang Asem, 01 Juli 2014.

22:42. Hari ke tiga Ramadhan

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s