Manado, dan Fiqih Thoharoh

Bismillaah assholaatu wassalaamu ‘alaa Rosulillah , wa ‘alaa alihi washohbihi ajma’in.

DSC_0076Kajian Fiqih Thaharah hari ini menjadi bahan refleksi tersendiri untuk saya secara pribadi. Apa yang guru kami sampaikan hari benar-benar menunjukkan bahwa tidaklah agama Islam datang melainkan untuk memberian kemudahan kepada ummatnya, meski tidak untuk bermudah-mudahan.

Apa yang dibahas hari ini serta merta mengingatkan saya pada kejadian tahun lalu, ketika saya masih berada di Kota Manado.

Ketika itu kami singgah selama beberapa hari di kota Manado untuk meneruskan perjalanan pulang menuju Kota Yogyakarta selepas pelaksanaan KKN yang telah kami jalani selama dua bulan. Selama berada di Manado, kami “dititipkan” pada salah seorang relasi dari dosen kami yang pernah menuntut ilmu di Kampus Gadjah Mada. Semuanya terasa menyenangkan kecuali satu hal: tuan rumah dari tempat yang kami tinggali adalah salah seorang penganut agama nasrani.

Konsekuensi yang kami hadapi ketika itu sangat besar. Sebagian diantara kami menjadi sangat hati-hati dalam beraktivitas, terutama yang berkaitan dengan makanan. Kenapa? Hal ini wajar saja. Kami tidak tahu apa yang dimasak oleh tuan rumah, piring dan peralatan yang digunakan dan sebagainya, apakah suci dari najis?

Asumsi kami kala itu:

boleh jadi kan peralatan-peralatan makan yang ada ketika itu bekas digunakan untuk memasak (mohon maaf) daging babi atau daging anjing yang terang-terangan tegasnya hukum memakan daging tersebut, yakni haram.

Dengan mempertimbangkan hal ini, saya kemudian menjadi satu-satunya pada hari pertama yang tidak mau makan di rumah tuan rumah kami dan memilih untuk mencari makan di luar. Pada hari berikutnya, saya berhasil memperngaruhi anggota KKN lain untuk tidak lagi bermudah-mudahan dalam makanan yang disajikan di rumah beliau. Konsekuensinya, kami sedikit kelaparan.

===============

Namun pada kajian pagi ini, guru kami menjelaskan bahwa hukum asal setiap material bukan najis adalah suci, sampai ada bukti bahwa ia telah dikenai najis. Sementara itu di sisi lain, terdapat dalil yang menjelaskan bolehnya seseorang menerima hadiah, atau makan-makanan yang diberikan oleh orang-orang kafir selama kita ketahui halalnya, ia bukan makanan yang haram, serta ia tidak terkena najis.

Dalam konteks kasus yang saya alami di Kota Manado tahun lalu, maka kaidah yang berlaku adalah makanan yang disajikan oleh keluarga tuan rumah adalah halal. Karena tidak ada bukti yang menegaskan bahwa apa yang disajikan diragukan kehalalannya, atau benda-benda yang digunakan dalam proses pengolahan panganan menggunakan benda-benda yang terkenai najis.

Apalagi beliau pada masa itu sebenarnya telah menegaskan, bahwa sendok serta piring yang kami gunakan adalah sendok dan piring yang baru dibeli beberapa saat yang lalu. Sehingga ia sendiri menjamin kebersihannya dan kesuciannya sebagai bentuk upaya menghormati tamu. Namun saya kala itu sangat terlalu menaruh curiga kepada beliau yang seorang nashrani. Sehingga kaidah yang saya berlakukan kepadanya adalah “su’udzon”. Karena telah jelas di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa “tidaklah orang-orang Yahudi ataupun orang-orang Nashrani akan ridho kepada kalian sampai kalian mengikuti millah mereka”. Dalam kajian tafsir yang pernah saya ikuti di kampus, ayat ini menjadi dalil bahwa sikap yang harus kita lakukan kepada orang kafir adalah selalu menaruh curiga atas apa yang mereka lakukan kepada kita”.

Namun pada akhirnya saya menemukan bahwa apa yang saya lakukan ketika itu adalah sebuah kekeliruan dan boleh jadi agak sedikit berlebihan.

Sekiranya saya telah mengilmui hal ini sejak tahun lalu, maka tentu saja pada masa itu, saya tidak perlu kesusahan dalam mendapatkan makanan. Patut diketahui bahwa pada masa itu, saya menjadi agak sedikit kelaparan dan sebagaimana yang kita ketahui tentang Manado, sangat susah menemukan makanan yang dijamin kehalalallnya di kota ini, khususnya bagi pendatang asing. Sehingga untuk makan saja, saya malah menyebabkan terepotkannya orang lain.

Akan tetapi saya juga tentunya tidak menyalahkan apa yang saya lakukan di masa itu. Karena saat itu, masalah yang saya hadapi termasuk perkara yang masih sangat abu-abu. Masih dalam perkara yang mutasyabihat di mata saya yang bodoh itu. Sehingga meninggalkan hal yang meragukan adalah lebih utama.

======================

Ilmu pada akhirnya akan menjaga pemiliknya. Ia pun akan memudahkan pemiliknya dan yang mengamalkannya sementara ilmunya akan terus bertambah-tambah. Hal ini dikarenakan Alloh akan senantiasa menambahkan ilmu dari yang tidak ia ketahui selama orang tersebut mau mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui.

Sungguh berbeda seseorang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Karena seseorang yang berilmu akan melahirkan buah amalan dan berkualitasnya amalan. Sementara orang-orang yang tidak berilmu, akan stuck pada kondisi yang sama sementara langkahnya terus bergerak maju menuju liang lahat. Jika ibadah yang ia lakukan selama ini benar, maka boleh jadi ia mendapatkan pahala. Akan tetapi jika ibadah yang ia lakukan selama ini salah karena tidak mengilmuinya, maka amalannya tertolak.

=====================

Rabbii zidnii ‘ilman…

Ya Tuhanku, tambahkanlah untuk ku ilmu.

=====================

Karang Asem, Depok, Sleman.

Bumi Yogyakarta

30 Juni 2014 , 21:17

Hari ke 02 Ramadhan

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s