Kajian kitab Al Mulakhos Al-Fiqihy – 1

Bismillahissholaatu wassalamu ‘alaa Rosulillaah…

Ant-Drinking-Water-Macro-WallpaperPagi pertama Ramadhan adalah momen yang menyenangkan. Bangun tepat waktu meski harus dibangunkan oleh tetangga kos yang baik dan penuh peduli. Sebenarnya saya juga agak berharap bisa memulai Ramadhan tahun ini sudah bersama keluarga, atau maksud saya bersama keluarga ibu di rumah, mengingat tahun lalu seluruh Ramadhan saya habiskan di lokasi KKN. Akan tetapi, sepertinya saya harus menunda. Ada banyak kajian islami yang menarik di sekitaran Dusun Pogung yang rasanya sayang jika dilewatkan. Kajian yang insyaAlloh penuh manfaat ini insyaAlloh akan diselenggarakan selama 20 hari pertama bulan Ramadhan.

Saya tidak sengaja tertidur setelah jamaah sholat subuh selama 30 menit dan hampir saja terlambat mendatangi kajian bersama guru kami, Ustadz Aris Munandar Hafdzhohullohuta’ala di Masjid Al-‘Ashri, Pogung Rejo. Untuk kajian dengan waktu yang sama, biasanya jamaah yang datang tidak terlalu banyak. Hanya berkisar 30 hingga 40an ikhwan. Akan tetapi, mungkin karena ini adalah momentum Ramadhan, sehingga yang datang sekitar ratusan jamaah, dan bisa bertambah sangat banyak mengingat saya tidak menegtahui pasti berapa jumlah peserta akhwat di lantai II. Saya hampir-hampir berada pada barisan terbelakang. Padahal saya datang lebih dahulu jika dibandingkan dengan guru kami.

Materi kajian yang diajaran hari ini, dan InsyaAlloh selama 20 hari ke depan adalah tentang Fiqih Thaharah, Sholat dan Puasa. Sedangkan kitab yang dipakai adalah  kitab Al Mulakhos Al Fiqihy yang merupakan karya dari Syaikh Sholih Al-Fauzan Rahimahullohu ta’ala. Berikut adalah materi yang disampaikan oleh guru kami hari ini.

================

Muqoddimah…

Sesungguhnya belajar agama adalah salah satu amalan yang bagus dan termasuk amalan yang utama. Selain itu, belajar agama adalah merupakan salah satu dari tanda kebaikan seseorang, sebagaimana hadits yang berbunyi

“Barangsiapa yang Alloh inginkan untuk mendapatkan kebaikan yang besar, maka Alloh akan pahamkan ia dengan agama” (Muttafaqun ‘alayh)

Kebaikan yang besar di sini adalah seluruh kebaikan, sehingga seakan-akan tidak ada kebaikan di luar itu, yakni tidak ada kebaikan melainkan dengan ilmu agama. Karena dengan seseorang mempelajari ilmu agama, maka dengan itu ia akan mampu beramal dengan baik dan benar.

Keutamaan ilmu dapat dilihat bagaimana Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasululloh shallallahu ‘alayhi wasallam untuk meminta tambahan ilmu seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Thaha (20) ayat 114.

“dan Katakanlah : wahai Rabbku, tambahkanlah untukku ilmu”

Adanya perintah khusus semacam ini adalah sebagai bentuk penegasian betapa pentingnya ilmu. Sekiranya ada yang lebih penting dan lebih utama dari ilmu, maka niscaya Alloh akan memerintahkan Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk meminta hal lain tersebut. Hal ini sekaligus menunjukkan perintah kepada seluruh ummat Islam untuk menuntut ilmu agama. Hal ini dilandasi pada kaidah tafsir yakni perintah yang diturunkan kepada Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah bersifat mutlak juga kepada ummat Islam seluruhnya, kecuali jika ada dalil lain yang mengkhususkannya.

Beberapa di antara keutamaan ilmu

  1. Majelis ilmu dikatakan sebagai taman-taman surga

Sebagaimana dalam sebuah hadits

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” [1]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,”Barangsiapa ingin menempati taman-taman surga di dunia, hendaklah dia menempati majlis-majlis dzikir; karena ia adalah taman-taman surga.

  1. Ilmu akan mengantarkan pada amal yang benar dan membawa kepada manfaat yang diinginkan

 

Dengan memperhatikan kedudukan ilmu pada seseorang, maka manusia dibagi menjadi tiga golongan, yakni

  1. Orang-orang yang memadukan ilmu dan amal sholeh. Mereka adalah orang-orang yang Alloh berikan nikmat karena hal tersebut, yakni nikmat kebahagiaan batin.
  2. Orang-orang yang mempelajari ilmu akan tetapi tidak menagamlkannya. Orang-orang semacam ini adalah orang-orang yahudi dan yang mengikuti mereka. Golongan kedua ini dimurkai oleh Alloh subahanahu wata’ala
  3. Dan yang terakhir adalah orang-orang yang semangat melakukan amal, akan tetapi tanpa ilmu. Orang-orang semacam ini adalah orang-orang nasrani dan yang mengikuti mereka. Golongan ketiga ini sepetrihalnya golongan yang pertama, yakni Alloh murka terhadap mereka.

Oleh karena itulah, setiap hari dalam rakaat sholat kita, baik sholat sunnah ataupun sholat wajib, kita diperintahkan untuk berdoa dengan membaca lafadz ayat-ayat terakhir surat Al-Fatihah

“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang engkau murkai (Yahudi) dan bukan pula jalan-jalan orang yang sesat (nasrani)”

Kita setiap hari diperintahkan utnuk membaca ayat tersebut dalam sholat kita. Hal ini mengisyaratkan bahwa, meskipun kita adalah seorang muslim, bukan berarti kita serta merta terbebas dari kemungkinan menjadi orang yang terjatuh dalam kondisi semacam orang-orang Yahudi yang berilu namun tidak beramal, atau sepetri orang-orang Nasrani yang beramal akan tetapi tida berilmu.

========

Ilmu yang nafi’ adalah ilmu yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shohih/ bukan sekedar “katanya”, atau dongeng dan sebagainya. Selain itu, ilmu yang nafi’ juga adalah ilmu yang memberikan dampak dalam bentuk buah amal.

Belajar ilmu, khususnya ilmu yang nafi’ adalah di antara kebutuhan yang mendesak, dan sebenarnya adalah mudah dengan izin Alloh subahanahu wata’ala. Akan tetapi hal ini bersyarat, yakni memiliki niat yang benar. Sebab niat yang benar akan menyebabkan kontinuitas dalam mencari ilmu. Jika niat tersebut karena Alloh, maka semangat tersebut insyaAlloh akan terus berlanjut.

Ilmu akan tumbuh dan berkembang apabila ia diamalkan. Sebagaimana sebuah perkataan yang indah yang mahsyur pada masa salaf

“Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui, maka Alloh akan menambahkan ilmu dari yang belum ia ketahui”.

Kalimat ini tidak terdapat dalam Al-Qur’an ataupun As-Sunnah. Akan tetapi terdapat sisi pendalilan dari kalimat ini sebagaimana yang Alloh jelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 231.

Ilmu adalah sesuatu yang paling berhak untuk digunakan dalammenghabiskan waktu, dan berlomba dengannya bagi orang yang berakal. Karena dengani lmu, maka terbangunlah amal dan hiduplah hati.

Tidak sama antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Sebagai mana yang Alloh firmankan dalam surah Az-Zumar ayat 9

Allah berfirman :” Apakah sama orang-orang yang berilmu dengnan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanyalah orang yang berakal yang bisa mengambil pelajaran.” (Az-Zumar: 9)

Akan tetapi perbedaan ini tidaklah serta merta berbeda begitu saja. Perbedaan tersebut adalah terletak pada berbuahnya amalan, yakni munculnya amal sholeh dari orang-orang yang memilik ilmu.

Bersambung….

Karang Asem, 29 Juni 2014 22:24

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s