Diantara Faedah Menuntut Ilmu

grapes

Malam tadi, Mbak saya kembali mengirim SMS yang berisikan motivasi. Ya, motivasi jika ia harus dinamakan demikian. Tepatnya motivasi untuk menuntut ilmu lebih dalam, lebih jauh… SMS nya singkat, akan tetapi cukup merekatan kembali sendi-sendi semangat yang agaknya tidak bisa ditebak kapan ia akan pudar atau menguat.

“MasyaAlloh…

Pernikahan dan rumah tangga yang di atas ilmu dan ketaqwaan benar-benar nikmat”

Kira-kira begitu sms yang beliau kirimkan sekitar pukul 21:45 malam tadi. Dan saya sepenuhnya sepakat.

Rumah tangga yang dibangun di atas iman dan ilmu akan melahirkan keharmonisan dan kedamaian. Pernah suatu ketika saya berkunjung ke rumah Mbak saya, yang kebetulan saat itu tengah berada pada masa-masa ekonomi yang sangat sulit.

Waktu itu saya berkunjung untuk memanfatkan momentum “pulang kampung (walapun sebenarnya saya tinggal di sebuah kota besar)” dengan baik utnuk berkunjung ke seluruh rumah keluarga. Jam sudah mendekati pukul 12:00 hingga kemudian suaminya datang setelah berpeluh keringat mencari nafkah. I bet he was starving that day, dan lalu ia berujar kepada istrinya setelah masuk ke dalam rumah

“Ada makanan gak dek?”

“hehe. Ga ada mas. Mas lapar yah?” Jawab istrinya yang tak lain adalah mbak saya dengan ramah sambil tersenyum.

Suaminya kemudian ikut membalas senyum istrinya lalu diam, seolah-olah tiadanya makanan hari itu di rumah tidaklah menjadi hal yang terlalu bermasalah. Sang suami lantas kembali ke luar rumah dan membeli beberapa bungkus panganan tanpa sebelumnya menyempatkan diri untuk duduk. Tidak ada sedikitpun keluhan yang keluar dari lisannya. Baik ia, ataupun istrinya.

Namun begitulah keluarga yang dibangun di atas cahaya ilmu dan keimanan. Sikap bersabarnya jauh mendahului rasa amarah, pun kalau ia memiliki amarah. Sifat tawaddu’nya mendahului nalurinya.

—————————-

Suatu ketika, saya berkesempatan untuk berbincang dengan salah seorang diantara guru kami, Ustadz Ridwan Hamidi Hafidzhohullohu ta’ala. Beliau bercerita betapa pentingnya mencari istri yang sudah mengenal Islam dengan baik. Karena seorang istri yang sudah mengenl sunnah, akan mendamaikan hati kita ketika melihatnya, akan aman rumah kita ketika ia ditinggalkan untuk sebuah urusan. Ia amanah dan penyabar. Ia tidak akan panjang angan-angan dan selalu bersyukur dengan apa saja yang diberikan oleh suaminya. Ia tidak akan menuntut banyak akan perbendaharaan dunia karena ia tahu bahwa kenikmatan surga jauh lebih pantas untuk ia harapkan ketimbang kenikmatan dunia dan seisinya yang dalam hadits shohih tidak lebih berharga ketimbang bangkai anak kambing yang cacat (dalam Riwayat Muslim).

Pada kesempatan yang sama, guru kami becerita tentang pentingnya ilmu yang berbuah kesabaran. Pada suatu waktu, sepulang dari sebuah kepentingan di Bandung, beliau pulang dengan menggunakan kereta menuju Yogyakarta. Akan tetapi, beliau lupa bahwa beliau sama sekali tidak membawa uang tunai ketika itu, melainkan hanya selembar tiket kereta. Sedangkan uang yang beliau miliki semuanya masih ada di dalam rekening (saya tidak tau apakah beliau memiliki kartu ATM atau tidak). Akibatnya mau tidak mau, beliau harus bersabar dalam perjalanan di kereta tanpa makan dan minum. Padahal sebagaimana yang kita ketahui, perjalanan menggunakan kereta terkadang adalah perjalanan yang teramat melelahkan sehingga bekal makanan dan minuman terkadang menjadi suatu hal yang sangat diperlukan. Kondisi semacam ini jika dihadapi oleh seorang yang tidak berilmu, hanya akan menjadi kesia-siaan. Namun ketika ditemui oleh orang yang berilmu, boleh jadi akan menjadi pahala yang teramat besar nilainya di mata Alloh.

————————-

Berkata salah satu diantara guru kami yang lain, Ustadz Aris Munandar Hafidzhohullohu ta’ala ketika sedang melanjutan pembahasan Tafsir Al-Isbah karya Syaikh ‘Abdullah Bin Sholih Al-‘Ubaylan Hafidzhohullohu ta’ala,

Dunia bagi setiap orang adalah seperti halnya bunga. Ia cantik, indah dan menarik. Akan tetapi orang yang memiliki ilmu dan keimanan di hatinya, ia akan sabar untuk tidak memetiknya. Karena ia tahu, dengan kebersabaran itu ia akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari itu, yakni tatkala bunga tersebut telah tumbuh menjadi buah. Yang kebermanfaatannya lebih besar dan lebih nyata serta lebih lama.

Sementara orang-orang yang tidak memiliki ilmu dan iman di hatinya, akan melihat dunia sepertihalnya bunga yang indah. Namun ia bersegera memetiknya, yang tanpa sadar ia tertipu dengannya. Karena tak lama setelah ia memetiknya, sang bunga lalu layu, mati dan tidak memberikan kebermanfaatan apa-apa.

———————–

Semoga Alloh ta’ala Al-‘Aliim, berkenan memberikan kita ilmu dan iman. Karena barangsiapa yang Alloh inginkan seluruh kebaikan padanya, maka Alloh akan pahamkan ia dengan agamanya (Muttafaqun ‘alayh)

———————–

Sebenarnya agak sedih ketika Kajian Tafsir Al-Isbah semalam sudah berakhir, karena saya baru ikut setelah pembahasan sudah memasuki bab pertengahan. Semoga Alloh merahmati kita semua yang hadir pada majelis tersebut. Pun semoga Alloh mengumpulkan kita dalam majelis yang lebih indah, di surga.

Semoga bermanfaat.

Barakallohu fiikum.

———————–

 

Ditulis ketika sedang merindukan Ramadhan.

Pojok Kamar Bercat Biru

Karang Asem, Depok, Sleman

Bumi Yogyakarta

Rabu, 26 Juni 2014 , 16:37

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s