Hati-Hati Syirik dalam Menanti Jodoh

Terkadang saya menyempatkan diri bertanya pada sejumlah teman, baik di lingkungan kampus atau selainnya dengan sebuah pertanyaan yang sedikit provocative

“Nah, kalau kamu kapan nih rencananya menyempurnakan setengah agama?”

Atau pertanyaan sejenis dan semisal. Maka biasanya jika yang saya tanyai belum siap, ia akan serta merta berkata

“Hehe, lagi sibuk memantaskan diri Alfa”

Jawaban yang sebenarnya sangat manis. Jawaban semacam ini juga sering saya jumpai pada laman “newsfeed” akun jejaring social saya yang Alhamdulillah dipenuhi oleh orang-orang yang InsyaAlloh dekat dengan hidayah.

Alhamdulillah, kesadaran sebagian orang –setidaknya apa yang saya lihat pada beranda facebook- men-siratkan demikian, di mana sebagian orang sudah mulai menyadari pentingnya memperbaiki diri, khususnya dalam mempelajari Islam dan penerapannya dengan lebih baik.

urlasPatut juga saya akui, gelora semacam ini, yakni gelora memperbaiki diri, atau kalau bahasa “Tere Liye”-nya : memantaskan diri, sedikit banyak dipengaruhi oleh tulisan-tulisan populer karya Darwis Tere Liye, atau Ustadz Felix Siaw, Burhan Shodiq dan semacamnya yang menggugah kalangan remaja hingga pradewasa untuk semakin bersemangat memperbaiki dirinya dalam pengetahuan keislaman dan tentunya amalan. Dan saya rasa, hal ini merupakan sebuah hal yang patut di-apresiasi.

Bentuk “pemantasan diri” itu, seperti yang saya temukan dalam tulisan-tulisan Darwis Tere Liye atau Ustadz Felix Siaw ataupun Burhan Shodiq adalah hal-hal yang sangat positif, semisal memperbaiki akhlak, memperbaiki ibadah dan kualitas amal, memperdalam ilmu syar’i, mempelajari ilmu parenting, menjauhi pacaran, menahan pandangan, berhati-hati dalam berhubungan dengan lawan jenis, dan semacamnya. Tentu saja adanya bentuk-bentuk upaya untuk memantaskan diri bagi kaum muda saat ini memiliki landasan yang kuat yakni dalam Surah An-Nur ayat 26, Alloh subhanahu wata’ala berfirman yang artinya

Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Dengan merunut teks terjemah Al-Qur’an Surah An-Nur di atas, siapalah wanita yang kemudian menginginkan lelaki yang kelak jadi suaminya, imam dalam bahtera rumah tangganya adalah lelaki yang buruk ? lelaki yang tumbuh dengan sifat fasiq dalam dunia yang penuh dengan  kemaksiatan ? Pun siapalah pula lelaki yang ingin wanita yang kelak jadi madrasah untuk anak-anaknya adalah wanita-wanita yang “bitchy” dan tidak punya kehormatan ?

Itulah yang kemudian menjadi salah satu alasan kenapa sebagian kalangan mulai sadar untuk memperbaiki diri.

Namun ada satu hal yang mungkin agak luput dari perhatian, yang mungkin saja terjadi karena kurangnya kehati-hatian sebagian di antara kita yang mulai memantaskan diri. Jika kemudian kita tanyakan, baik kepada diri pribadi atau kepada orang lain

“untuk siapa segala bentuk pemantasan diri itu dilakukan? Untuk Alloh ta’ala atau untuk “si dia” yang dinantikan di masa depan?

Jika murni untuk Alloh, maka Alhamdulillah. Semoga Alloh merahmati engkau dengan cahaya hidayah wat-taufiq.

Namun jika bukan untuk Alloh, melainkan untuk “si dia” yang diharapkan di masa depan, atau mencampurkan niat untuk Alloh dan untuk “si dia” di saat yang bersamaan, maka berhati-hatilah, bertaubatlah, dan perbaiki kembali niat “pemantasan diri”-nya. Karena sungguh itu adalah perbuatan syirik. Vonis syirik yang berlaku di sini adalah syirik kecil, karena melakukan sebuah ibadah yang motivasinya adalah bukan semata-mata karena Alloh, melainkan menyertakan niat di dalamnya untuk sesuatu yang dipersekutukan dengan Alloh. Dalam sebuah hadits Qudsi dijelaskan bahwa Alloh subhanahu wata’ala berfirman

“Aku tidak membutuhkan sekutu-sekutu, barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan di dalamnya menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR Muslim)

Nah, untuk memudahkan, akan saya berikan sebuah contoh perbuatan yang sangat tipis dan sangat dekat dengan kesyirikan dalam perkara “memantaskan diri: ini. Seseorang yang lebih tua atau lebih dulu hijrah, atau lebih “paham” agama mungkin pernah berkata kepada kita dengan kalimat semacam ini 

Kalau bisa, jangan pacaran. Karena, kalau sekarang ini kamu sedang pacaran, maka boleh jadi jodohmu di sana sedang pacaran juga. Kalau saat ini kamu sedang bermaksiat, maka sangat mungkin jodohmu di sana sedang bermaksiat juga. Dan sebaliknya, jika kamu sedang men-sibukkan diri dengan ketaatan, maka boleh jadi dan sangat mungkin orang yang ditakdirkan jadi jodohmu juga sedang melakukan hal yang sama di sana”

MasyaAlloh bukan ? betapa manisnya kalimat ini. Tapi subhanalloh, kalimat di atas sangat berbahaya akhi fillah… terutama jika antum belum belajar aqidah dengan benar, secara khusus dan tuntas.

Saya rasa kalimat di atas tidak asing buat antum dan antunna sekalian. Apalagi jika antum dan antunna terbiasa dengan kehidupan dakwah di kampus. Misalnya ikut asistensi agama islam, sering ikut liqo’-liqo’ gitu, atau yang sejenisnya. Maka saya jamin, kalimat semacam ini adalah sebuah kalimat yang sangat mahsyur di telinga kita. 

Kenapa kemudian saya katakan berbahaya akhi fillah ? Perhatikanlah… dengan kalimat semacam ini, maka apa yang bisa terjadi ? Boleh jadi atau bahkan sangat mungkin, segala perbuatan kita, segala ketaatan kita, dipersembahkan bukan untuk Alloh Ta’ala. Melainkan untuk dia yang “dijanjikan” kepada kita. Maka ketika kita melakukan ibadah, kita melakukannya dengan harapan agar “si dia” juga melakukan ketaatan yang serupa. Sebagaimana ketika kita menjauhi maksiat, kita melakukannya dengan harapan “si dia” juga menghindari maksiat yang serupa. Dan ini adalah sebuah kesyirikan. Jika seluruhnya dipersembahkan untuk “si dia” maka ini adalah syirik besar, yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun jika hanya menyelipkan sedikit atau sebagian untuk “si dia” maka ini adalah syirik kecil, yang meski ia tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, akan tetapi tercatat sebagai dosa besar. Dan yang kebanyakan terjadi di lingkungan kita adalah yang ke dua ini, yakni syirik kecil.

Subhanalloh, betapa halus cara syaithon untuk menggelincirkan kita akhi…

Imam Adz-Dzahabi Rahimahullohu ta’ala dalam kitabnya Al-Kab’ir telah menghimpun 70 dosa besar, dan beliau telah menempatkan dosa syirik dalam kitab tersebut sebagai dosa besar yang pertama, dan termasuk pula di dalamnya adalah syirik kecil.

Penamaan syirik kecil di sini bukanlah berarti ia merupakan dosa yang kecil, melainkan untuk membedakannya dengan dosa syirik besar saja. Syirik kecil atau syirik asghor tidaklah kemudian mengartikan bahwa ia termasuk dosa kecil. Ia tetaplah termasuk dosa besar seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Bahkan syirik kecil dosanya melampaui dosa-dosa besar lainnya seperti membunuh tanpa haq, berzina, meninggalkan sholat dan sebagainya.

Saudaraku, pernahkah engkau mendengar langkah laki seekor semut? Suara langkahnya begitu samar bahkan tidak dapat kita dengar. Seperti inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kesamaran syirik kecil. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepada selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana engkau ini. Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.” (HR Abu Ya’la Al Maushili dalam Musnad-nya, tahqiq Irsya Al Haq Al Atsari, cetakan pertama, tahun 1408 H, Muassasah Ulum Al Qur’an, Beirut, hlm 1/61-62. dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Targhib, 1/91)

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah Rahimahullohu berkata

“Riya bagaikan jejak semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Hanya orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan cahaya Tauhid yang akan mampu keluar sebagai pemenang dari pertarungan yang selalu kita hadapi dalam setiap aktivitas ibadah kita”

Jika sebegitu samarnya dosa syirik bisa masuk dengan pelan-pelan ke dalam amalan kita, tentu tidak akan ada yang mampu selamat, kecuali orang-orang yang Alloh beri hidayah untuk terus mempelajari Tauhid dan memperbaiki kualitas imannya setiap hari.

———————————–

Tentunya adalah sebuah hal yang mulia ketika seseorang mulai menyadari pentingnya mempelajari Islam, baik sebagai bentuk kesadaran bahwa hidup di dunia tidaklah selamanya, atau untuk mempersiapkan diri menghadapi fase-fase yang biasa dihadapi dalam kehidupan, seperti halnya menikah yang butuh persiapan.

Akan tetapi, persiapan diri, pemantasan diri yang kita lakukan hendaklah sesuai dengan apa yang Alloh subhanahu wata’ala syariatkan.

‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami mohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.’” (HR. Ahmad)

 

———————————-

Dan seperti tulisan-tulisan sebelumnya, orang yang paling berhak dan paling wajib menjalankan nasehat ini adalah diri saya pribadi.

Sungguh Alloh-lah Dzat Maha Mulia, Pemberi ketenangan hati, Pengalung Hidayah pada jiwa-jiwa perindu surga.

Barakallohu fiikum.

Semoga bermanfaat.

———————————-

Rabu, 25 Juni 2014 07:44

Karang Asem, Depok, Sleman

Yogyakarta Tercinta

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Referensi

http://muslimah.or.id/aqidah/ketika-kita-ingin-dilihat.html

http://www.sunny-salafy.me/2012/05/syirik-kecil-adalah-dosa-besar-khutbah.html

http://rumaysho.com/aqidah/lebih-samar-dari-jejak-semut-di-atas-batu-hitam-267

 

Advertisements

10 thoughts on “Hati-Hati Syirik dalam Menanti Jodoh

  1. Reblogged this on Violet with Love and commented:
    “Kalau bisa, jangan pacaran. Karena, kalau sekarang ini kamu sedang pacaran, maka boleh jadi jodohmu di sana sedang pacaran juga. Kalau saat ini kamu sedang bermaksiat, maka sangat mungkin jodohmu di sana sedang bermaksiat juga. Dan sebaliknya, jika kamu sedang men-sibukkan diri dengan ketaatan, maka boleh jadi dan sangat mungkin orang yang ditakdirkan jadi jodohmu juga sedang melakukan hal yang sama di sana”

    Yang sering jadi nasihat…
    Dan ternyata.. Luruskan niat !

  2. Saya sanagt tercerahkan mas.. terima kasih. Cuman yg masih saya bingungka. Apakah sama konteksnya dengan beribadah mengharap pahala dan surga?? Mengingat mereka semua juga makhluk Allah. Mohon jawabannya….

    • boleh. boleh sekali. banyak sekali dalil yang membolehkan, bahkan memerintahkan-memotivasi kita untuk meminta surag kepada Alloh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s