Mencari Hidayah, Jangan Salahkan Mereka yang Eksklusif

Ketika masih menjadi kader dakwah dulu, pun ketika masih berada pada struktur kepengurusan Lembaga Dakwah Kampus, saya sering sekali dijejali dengan pernyataan yang isinya kurang lebih seperti ini

“Kader dakwah itu tidak boleh meng-eksklusifkan diri. Karena jika berlaku eksklusif, bagaimana cara kita mampu menjangkau orang untuk didakwahi. Jangankan mau didakwahi, mereka justru akan ilfeel duluan, lalu menjauh. Karena itu kita harus inklusif dan tidak segan-segan untuk bersama mereka”

dakwah-adalah-cinta-semangatPada hakikatnya saya sepakat dengan kalimat di atas. Sebab sikap eksklusif akan membuat pelakunya terkesan sombong, tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar, dan justru membuat ia menjadi golongan yang terpinggirkan. Alih-alih mampu menebar kebaikan, ia justru menjadi kalangan yang diabaikan.

Akan tetapi saya tidak pula menyatakan orang-orang yang tampil meng-eksklusifkan diri sebagai pihak yang tidak benar dalam hal ini, sebab boleh jadi ada banyak hal yang melatar belakangi sikap eksklusif pada orang-orang yang dalam hal ini adalah kader dakwah yang terlihat tidak terlalu ingin bergaul bersama orang-orang yang belum beraqidah, bermanhaj, beragama dengan benar.

Karena itu, di sini akan saya berikan beberapa uzur yang mungkin saja menjadi penyebab sikap eksklusif tersebut

Pertama, Boleh jadi itu memang karakter pribadinya yang merupakan bawaan, atau merupakan sebuah kebenaran subjektif yang telah ia pengangi dari kecil. Kita sering bisa toleran dengan orang-orang yang memiliki sifat antisosial (terutama kalau ia setampan So Ji Sub atau Sasuke, bahkan terlihat cool) jika ia bukan dari kalangan pencari ilmu, lalu kenapa terlalu risih dengan mereka yang bersikap demikian dari kalangan pencari ilmu ?

Kedua, boleh jadi ia masih baru belajar mengenal Islam yang haq. Sehingga ia tidak ingin sekiranya pergaulannya kembali terbuka, maka ia akan kembali terkenang atau bahkan terjerumus dalam kemaksiatannya di masa lalu. Masa seseorang untuk beradaptasi meninggalkan kejahilannya di masa lalu semacam ini berbeda-beda. Ada yang dalam jangka setahun, ia sudah bisa memproteksi dirinya dengan baik. Namun ada pula yang sudah bertahun-tahun mengenal Islam dengan benar, namun ia masih dijangkiti ketakutan akan keterjerumusan menuju lembah masa lalu yang penuh dengan maksiat.

Ketiga, boleh jadi ia tengah mengamalkan hadits yang berkaitan dengan pentingnya memilih teman, misalnya

  • Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927) – dalam hal ini ia benar-benar memilah temannya karena khawatir agama yang ia pegangi akan dirusak oleh temannya.

Atau pada hadits yang lain,

  • Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628) – dalam hal ini boleh jadi ia benar-benar memilah siapa temannya dengan pertimbangan manfaat dan mafsadat yang akan didapatkannya, atau permisalan pada hadits yang lain
  • Potongan hadits dari Anas Bin Malik Radiallahu anhu yang sebagian teks haditsnya berisi “ “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”­ dalam hal ini boleh jadi ia khawatir terjerumus dalam pergaulan terlalu jauh hingga tumbuh cinta pada orang-orang yang akan menjauhkannya dari surga.

Hal yang menjadi aneh kemudian adalah, apabila ada sebagian orang yang mengatakan ingin mempelajari Islam, ingin mengenal Islam, akan tetapi tidak jadi ia lakukan dengan mempersalahkan orang-orang yang terlihat eksklusif yang membatasi pergaulan dirinya. Dalih yang ia katakan kira-kira begini

“Sebenarnya saya mau belajar Islam, namun saya baru mendekati si dia (orang yang sudah lebih dulu menerima hidayah) tapi merekanya agak kaku, kurang terbuka. Jadi saya mau belajar apa sementara dia menutup diri dan tidak mau mendekati kami”

Klaim semacam ini adalah klaim yang tidak tepat. Jika memang niat tersebut tulus untuk mempelajari Islam, mencari hidayah Islam, maka yang dilakukan adalah mendatangi majelis ilmu, bukan berharap didatangi orang yang berilmu. Sebagaimana dalam sebuah kisah yang agung pada masa Khalifah Abbasiyah

“Dari Abul Qosim at-Tafakur, aku mendengar Abu Ali al-Hasan bin ‘Ali bin Bundar al-Zanjani bercerita bahwa

Kholifah Harun ar-Rosyid -rahimahullloh -mengutus seseorang kepada Imam Malik bin Anas –rahimahulloh- agar beliau berkenan datang ke istana supaya dua anak Harun ar-Rosyid yaitu Amin dan Makmun bisa belajar agama langsung kepada Imam Malik.

Imam Malik menolak permintaan Kholifah Harun ar-Rosyid dan mengatakan,

“Ilmu agama itu didatangi bukan mendatangi.”

Begitulah. Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Ilmu itu dikejar, bukan diam ongkang-ongkang kaki lalu berharap ada yang mengajari, sebagaimana yang dikatakan oleh Yahya bin Abi Katsir rahimahullohu- yakni

“Ilmu tidak dapat diperoleh dengan bersantai-santai”. (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi : 1/91, Ibnu Abdil Barr).

Jika terhadap dunia saja kita mau bersusah payah, berpeluh darah untuk datang menjemputnya, lalu kenapa terhadap akhirat kita bersantai-santai ? Jika untuk mendapatkan IPK 3,9 saja kita mau berlarut-larut mengerjakan laporan atau survey lapangan untuk sebuah tugas, lalu kenapa untuk mempelajari Tauhid saja, yang diajarkan di Masjid yang selisihnya hanya berapa rumah, kita sangat malas sekali ? lalu kemudian dengan klaim sepihak mencari kambing hitam pada mereka yang terkesan eksklusif. Sungguh aneh.

—————————-

Kembali pada pembahasan eksklusif dan inklusif.

Saya boleh jadi sepakat dengan sebagian orang-orang yang berilmu di mana sebagian dari mereka sudah mampu menjamin keselamatan dirinya ketika sedikit membuka pergaulan. Apalagi jika hal tersebut diniatkan untuk menebar dakwah.

Yang menjadi masalah adalah, ketika ada sebagian orang yang sebenarnya masih sangat kurang dalam berilmu, namun ia terburu-buru meng-inklusifkan diri dengan dalih ingin menebarkan dakwah, sementara ia sendiri belum berada pada posisi yang aman. Sehingga yang malah terjadi adalah inklusifitas yang kebablasan. Bukan menebar dakwah, melainkan justru terseret arus menuju lembah fitnah.

—————————-

Semoga Alloh memberikan faedah atas tulisan ini.

Sungguh hanyalah Alloh, Dzat yang Mengusap Hati dengan Kelembutan Cahaya Hidayah.

—————————-

Dan sesugguhnya, orang pertama yang paling perlu mendapat nasehat dari tulisan ini adalah saya pribadi.

Barakallohu fiikum.

—————————-

Pojok Kamar Bercat Biru

Kocoran, Karang Asem, Catur Tunggal, Depok, Sleman

Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat

Selasa, 24 Juni 2014, 06:58

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Mencari Hidayah, Jangan Salahkan Mereka yang Eksklusif

  1. wah, tulisan2mu pas kaya yang saya maksud. Saya sering kepikiran tentang hal ini, tentang akhwat di bandara, dll. Tapi belum bisa menuliskannya. Dulu, ngiranya cuma saya punya pikiran kayak gini. Ternyata ada juga orang lain yang sepikiran. Langsung deh klik follow. Kapan2 kopdar utk diskusi yuk. Mumpung saya masih di Jogja. Besok2 mau ke Jakarta soalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s