Jika Ia Tidak Mau Menerima Kebenaran

khusyu-solatSuatu ketika di tahun 2011, ketika saya masih duduk di semester II, kami sempat diajar oleh seorang Profesor yang sudah lanjut usia. Ketika itu beliau sudah menginjak usia 78 tahun. Sebuah angka yang fenomenal mengingat beliau masih duduk di meja dosen dan mengajar sebuah mata kuliah yang sebenarnya kemudian saya sukai setelah pengajar berikutnya dilannutkan oleh Dekan Fakultas Geografi saat ini.

Dosen yang berusia lanjut tersebut kemudian kembali kami jumpai pada tahun 2012 saat beliau mengampu mata kuliah Pengembangan Masyarakat. Namun satu hal yang sama dari kedua kelas yang beliau ampu adalah : beliau sama sekali tidak mengajarkan mata kuliah yang dimaksud. Lalu taukah anda apa yang beliau ajarkan ? Agak miris memang, tapi percayalah : PLURALISME.

Tentu saja tidak semua mahasiswa menyadarinya bahwa yang beliau ajar adalah pluralisme, karena barangkali sebagian dari kami tidak terlalu peduli dengan mata kuliah yang diajarkan pada masa itu. Bukan apa-apa, hanya saja suara beliau terkadang tidak begitu terdengar hingga baris ketiga jajaran bangku kelas kami. Namun pada akhirnya tampak juga hasil didikan beliau pada salah seorang rekan kami, yakni pada sebuah kesempatan yang lain, saya sempat mendengar seorang rekan yang berbicara dengan sebuah kalimat yang saya tau pasti ia dapatkan dari kuliah bersama beliau. Kalimatnya kurang lebih seperti ini

“Kebenaran yang mutlak memang berasal dari Tuhan, tapi penafsirannya oleh manusia kan bisa beda-beda Alfa…”

Sebuah kalimat yang sangat menyedihkan sekali. Setidaknya itu yang pertama kali terlintas oleh saya ketika pertama kali mendengar kalimat yang sebelumnya sudah pernah saya dengar dalam sebuah kelas.

Jawaban untuk membantah kalimat menyimpang seperti di atas sebenarnya cukup sederhana yakni

“Penafsiran manusia itu berbeda-beda. Karena itu jika penafsiran diserahkan pada masing-masing manusia maka akan timbul kekacauan. Sebab manusia ada yang berilmu dan tidak berilmu. Maka penafsiran Al-Qur’an harus dikembalikan kepada Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat, atau para tabi’in yang paling memahamai penafsiran Al-Qur’an. Bukan lalu dengan menafsirkannya sendiri-sendiri.
————————

Pemikiran-pemikiran merusak pada kenyataannya lebih mudah menjangkiti orang-orang di kalangan akademisi ketimbang orang-orang yang biasa-biasa saja. Saya berasumsi semacam ini karena mungkin inilah yang menurut saya terlihat pada kenyataan. Orang-orang yang –merasa- dirinya cerdas dan terdidik di lingkungan akademis cenderung lebih sulit untuk menerima kebenaran, karena dirinya sudah dididik bahwa kebenaran sering sekali merupakan hal yang relatif, atau tidak benar-benar mutlak. Namun pada akhirnya pemahaman ini mencapai taraf yang kebablasan. Sehingga apa-apa saja dikatakan relative.

Lalu banyak pula di antara mereka, yang dengan kemampuan akademisnya, merasa bahwa apa yang diajarkan dalam agama adalah sesuatu yang sangat-sangat bisa ditoleransi. Kenapa ? lagi-lagi karena latar belakang akademis mereka yang pada akhirnya menimbulkan perasaan sombong. Sehingga ia dengan mudahnya menolak kebenaran.
———————–
Salah satu yang menghambat seseorang untuk mampu berubah dan menerima kebenaran adalah adanya perasaan sombong di dalam dada. Ia menolak kebenaran hanya dengan alasan,

“saya nyaman dengan apa yang saya lakukan sekarang. Lagipula, itu belum tentu benar”

Padahal telah ditegakkan hujah padanya. Telah ditegakkan dalil yang tegas padanya. Dan taukah antum kenapa bisa seperti ini akhi?

Iman.

Orang-orang yang beriman akan menerima kebenaran tanpa terlalu mempersoalkan apakah hal tersebut menyelisihi atau sejalan dengan kepentingannya, sebab ia bukanlah penurut hawa nafsu. Ia memiliki sifat “aku dengar, dan aku taat”
Berbeda halnya dengan orang-orang yang menuruti hawa nafsu, maka ia cenderung untuk menyeleksi terlebih dahulu kebenaran yang datang padanya. Apakah sesuai dengan keinginannya atau tidak. Apakah sejalan dengan hawa nafsunya atau tidak. Jika iya, maka akan ia terima dan lakukan. Namun jika tidak, akan ia tinggalkan. Bahkan ia tolak mentah-mentah.
———————-
Ah. Sungguh menyedihkan…
Saya berharap, agar semakin banyak orang yang mempelajari agamanya. Khususnya mereka yang berada pada lingkungan akademisi, yang justru lebih rentan disusupi pemikiran-pemikiran menyimpang.
———————-
Sungguh hidayah ada di tangan Alloh…

———————-

Pojok Kamar Bercat Biru
Kocoran, Karang Asem, Catur Tunggal, Depok, Sleman
Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat
Selasa, 24 Juni 2014, 05:34
Ahmad Muhaimin Alfarisy
————————-

Lengkap banget lokasinya mas Alfa ^_^”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s