Layang-Layang : Sebuah Cerita, Sebuah Memori

Sepulang dari rekaman semalam, saya menemukan sebuah layang-layang terjepit tepat di bawah ban belakang sepeda saya. Saya lalu memungutnya dan meletakkan layang-layang tersebut di teras Masjid Pogung Raya. Ingin sebenarnya saya menyerahkan pada anak-anak saja malam itu. Akan tetapi, saat itu telah mendekati pukul 22:00. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja sudah hampir tidak terlihat kecuali satu atau dua orang takmir.

Sepanjang perjalanan pulang, memori kenangan masa lalu kemudian muncul. Menjadi sebuah pita-pita kaset yang berputar di kepala saya yang mendingin karena hembusan angin malam itu. Malam selepas hujan.

———————

Saya tidak ingat, apakah saya pernah membeli layang-layang atau tidak semasa kecil dulu, mengingat layang-layang adalah barang mewah yang tidak mungkin terbeli oleh saya yang ketika itu tumbuh kembang dalam sebuah keluarga miskin. Namun itu semua tidak menghalangi saya untuk tetap bermain layang-layang. Hehehe.

Untuk bermain layang-layang, saya berprinsip tidak harus beli. Setidaknya ada dua alternatif yang bisa dijadikan pilihan yakni

  • Mengejar layangan yang putus
  • Atau membuat layang-layang sendiri.

LAyangan-4Tentu saja saya memiliki keinginan seperti halnya anak-anak lain yakni bermain dengan layang-layang penuh warna-warna cantik. hijau, merah, cokelat, kuning, dengan bahan dasar kertas berwarna putih. Itulah kenapa pada awalnya, saya cenderung lebih suka mengejar layang-layang putus.

Ah, betapa menyenangkannya kala itu. Ngangeni.

Tapi itu tidak berlangsung lama. Tubuh saya rupa-rupanya terlalu kecil untu berlomba mengejar layangan yang kompetitornya rata-rata berusia lebih tua dari saya yang masih duduk di kelas 4 SD. Strategi menggunakan bambu panjang juga tidak terlalu berhasil mengingat tubuh saya yang kecil mungil tidak terlalu mampu mengendalikan bambu yang panjangnya bisa hingga lima meter. Dalam seminggu, paling-paling saya hanya mendapatkan satu buah layangan yang putus. Tentu ini tidak mampu mengakomodir kebutuhan bermain layang-layang yang jika diterbangkan, senarnya rentan diputus sepihak oleh pemain layang-layang lain.

Lelah, saya akhirnya memutuskan untuk membuat layang-layang sendiri.

Oh, ternyata bahannya sangat simple. Saya hanya membutuhkan dua batang lidi sebagai rangka, dan kantong plastik hitam atau putih atau bening yang berukuran besar sebagai bahan dasar tubuh layang-layang. Entah saya boleh dikatakan berbakat atau tidak, atau Alloh Zat yang penuh kasih berada di pihak saya kala itu, semua layang-layang yang saya buat mampu terbang dengan baik. Bahkan ia membumbung dengan tinggi dan jauh, menembus sebagian awan yang kebetulan terbang rendah.

Tentu saja saya sangat bahagia kala itu. Layang-layang yang dibuat dengan sederhana, bahkan tanpa biaya, mampu terbang dan menjadi penghias langit desa kami. Ia mungkin tidak tampil dengan cantik mengingat warnanya hanya terbatas hitam, putih, atau bening, namun ia cukup awet. Ketika hujan misalnya, saya tidak perlu menariknya untuk turun. Sebab ia terbuat dari plastik yang tidak akan rusak karena hujan. Bandingkan dengan layang-layang kertas. Hehehe.

Selain itu, saya juga tidak perlu merasa takut untuk diputus oleh pemain layan-layang lainnya mengingat layang-layang dengan bentuk semacam ini tidak membuat pemain layang-layang lain merasa tersaingi. Alih-alih, mereka boleh jadi justru kasihan, prihatin. Hehehe.

Pada masa itulah saya mulai belajar. Bahwa kebahagiaan itu tidak selalu dicari, melainkan diciptakan.

——————————

Mengingat layang-layang adalah permainan tradisional yang meng-Indonesia, saya rasa antum juga punya kenangan indah dengan permainan layang-layang di masa kecil. Bahkan boleh jadi, kenangan antum jauh lebih indah ketimbang kenangan saya…

Betul tidak? hehe

——————————

Semoga beberapa tahun ke depan, kota yang saya tinggali –di manapun itu- masih memiliki ruang terbuka hijau yang luas. Agaknya menyenangkan bisa kembali membuat layang-layang, mengajarkannya kepada anak, dan menerbangkannya bertiga, bersama ia, dan ibunya.

—————————–

Pojok Kamar Bercat Biru

Kocoran, Karang Asem, Catur Tunggal, Depok, Sleman

Ahad 22 Juni 2014, 17:26

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s