Hidayah, Engkau adalah Da’i. Bukan Seorang Qodi

sujud-cinta

Baru saja, beberapa menit yang lalu, saya berpapasan dengan seorang wanita paruh baya yang cukup menarik perhatian. Setidaknya itu yang pertama kali terlintas di kepala saya ketika itu. Ia sepertinya baru kembali dari sebuah Mushollah yang terletak di lantai dua Perpustakaan Pusat UGM, karena saya sempat melihat sebuah tas kain yang di taentengnya dengan tangan kanan yang kemungkinan besar berisi sebuah mukenah.

Sebenarnya semuanya tidak menjadi aneh jika saja ketika ia berpapasan jalan dengan saya, ia tampil dengan berpakaian yang menutup aurat dengan sempurna. Alih-alih, ia justru memakai rok pendek sebetis, pakaian casual dan tidak memakai jilbab. Aneh kan ?

Terus terang saja, di zaman ini saya katakan, ada banyak sekali wanita yang memakai jilbab [ yang rata-rata tidak syar’i ] yang masih enggan melaksanakan ibadah yang menjadi ciri khas ummat Islam ini. Sementara, hari ini saya bertemu dengan seorang perempuan yang sudah menua, yang tidak berpakaian syar’i, bahkan tidak menggunakan jilbab dan rok yang menutupi betisnya, yang baru saja keluar dari musholla perpustakaan kampus.

Kejadian hari ini serta merta mengingatkan saya pada suatu ketika di majelis ilmu yang diisi oleh guru kami yang juga merupakan dosen kami, beliau adalah seorang sarjana lulusan Universitas Islam Madinah. Ia bertutur kepada kami sore itu,

Suatu ketika saya mendampingi seorang syaikh yang sedang mengisi safari dakwah di Jakarta. Qodarulloh, beliau dan rombongan –entah bagaimana kejadiannya- terpaksa melakukan sholat fardhu di sebuah Mushollah yang berada dekat dengan pasar. Pada saat itulah, kami dan sang syaikh kemudian mendapati seorang wanita yang berpenampilan cukup terbuka, menjadi salah satu di antara jamaah yang hendak melakukan sholat. Serta merta sang Syaikh berkata:

“Sungguh malang wanita itu. Sesungguhnya ia adalah seorang yang baik. Hanya saja ia belum tahu” .

Lihatlah, betapa sang Syaikh mampu menyikapi apa yang dilihatnya dengan sangat lembut. Beliau tidak serta merta menyalahkan sang wanita yang masih berpenampilan demikian di antara para jamaah Mushollah yang hendak sholat. Justru beliau menaruh uzur kepadanya, yakni dengan beranggapan sang wanita belum tahu syariat Islam dengan baik.

Bandingkan dengan sebagian di antara kita yang biasanya akan segera memicingkan mata atau menjustifikasi pelaku jika melihat hal semacam itu. Boleh jadi kita akan berkata

“sholat kok masih begitu penampilanne. Mbok taubat. Njuk buat apa sholatmu mbak nek kelambimu masih kayak ngono ??”

Ya.. boleh jadi kita memang tidak mengucapkannya di lisan kita. Akan tetapi apakah kita menjamin kalimat picingan semacam itu tidak keluar dari hati kita ?

Pada kesempatan yang lain, guru kami juga kembali bercerita

Suatu ketika ada seorang syaikh yang ditanya oleh muridnya yang redaksinya kurang lebih seperti ini

   “ Wahai syaikh, apa hukumnya seseorang yang tidak mengerjakan sholat ?”

Sang syaikh yang ditanya lalu menjawab

“Ajaklah ia sholat…”

Subhanalloh. Itu adalah jawaban yang paling tepat di zaman ini.

Hukum sebenarnya memang telah jelas dan kita ketahui bersama. Di masa salaf, yakni pada masa Sahabat, tidak ditemukan adanya perselisihan hukum atas seseorang yang meninggalkan sholat. Yakni ia terjatuh dalam kekufuran. Perselisihan kufur atau tidaknya seseorang dalam meninggalkan sholat baru kemudian terjadi pada masa ulama-ulama setelahnya, yang membedakan penyebab dari seseorang yang meninggalkan sholat dengan alasan malas atau karena ia menolak syari’at.

Guru kami lalu melanjutkan

kita ini da’i, yang menyeru kepada Alloh. Maka yang kita lakukan hendaknya adalah perkara-perkara yang mendekatkan seseorang kepada Alloh. Lain halnya jika kita adalah seorang Qodi. Yang berhak mengatakan atau memutuskan kafir atau tidaknya seseorang.

Seketika itu kami semua terenyuh. Perasaan kami tersentuh. Sebuah perasaan yang teringat kembali setelah hari ini, saya melihat seorang wanita paruh baya dari sebuah Mushollah.

Semoga Alloh berikan kita hidayah dan taufiq , dan terkhusus kepada sang wanita paruh baya yang hari ini saya temui di sisi Mushollah.

Sungguh hanyalah Alloh Al-Aziz,

Tempat berlindung dan sebaik-baiknya Pembela.

—————

Perpustakaan UGM lantai I

19 Juni 2014, 13:10

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s