Akhlak Mulia, Penunduk Hati

(101)Saya rasa semua sepakat, bahwa hal yang pertama kali akan membuat kita jatuh cinta pada seseorang adalah karena keindahan akhlak. Indahnya akhlak seseorang akan membuat hati mereka yang melihatnya akan tertunduk, lalu patuh dan pada akhirnya muncul sebuah simpati. Sebuah simpati yang boleh jadi akan berujung pada perasaan cinta.

Mengapa bisa demikian?

Saya rasa, ini adalah fitrah manusia. Fitrah manusia di aman Alloh menitipkan pada jasad kita sebentuk hati yang lembut. Yang padanya hanya akan menerima kelembutan.

Pada sebuah hari dalam kajian Sabtu Pagi, guru kami, Ustadz Aris Munandar Hafidzhohulloh menyampaikan bahwa “manusia adalah hamba kebaikan”.

Maksudnya adalah manusia adalah hamba atas kebaikan, yakni apabila ada orang yang berbuat baik padanya, fitrah yang Alloh tetapkan atasnya membuat ia akan berterimakasih dan memberikan sikap ketundukan. Kepatuhan. Sehingga mau tidak mau, tidak bisa tidak ia akan menjadi tunduk pada yang telah berbuat baik padanya.

Dan kebaikan yang paling utama, kebaikan yang paling mudah terlihat oleh orang lain adalah melalui mulianya akhlak.

Maka tidak heran, suatu ketika diceritakan kepada kami, di sebuah perkampungan di Nusa Tenggara, dakwah Islam berkembang dengan pesat bukan semata-mata karena materi yang haq yang disampaikan oleh sang da’i. Melainkan karena mulianya akhlak sang da’i. Dikatakan bahwa setiap kali bertemu dengan orang-orang yang meskipun tidak ia kenal, sebentuk senyum lembut tak pernah lekang dari bibirnya. Pun ia selalu berdiri di depan pintu masjid ketika menjelang sholat jamaah untuk menyambut mereka yang menghadiri panggilan Alloh, juga ketika sholat jamaah telah usai.

Ia menunjukkan betapa tinggi ilmunya dengan kemuliaan akhlak yang ia miliki. Ia memang menjadi yang paling tegas dalam dakwahnya, namun pula ia menjadi yang paling lembut dalam meletakkan kebaikan-kebaikan tersebut ke dalam hati setiap mad’unya. Lalu dengan itu, Alloh ta’ala mengusap hati mereka dengan hidayah. Maka tidaklah pula heran jika da’i-da’i yang dikenal luas justru adalah mereka yang mulia akhlaknya, yang santun perangainya.

Dikisahkan pula pada kami, bahwa majelis yang diisi oleh Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh pada masanya dihadiri oleh sepuluh ribu jama’ah. Tapi ketahuilah, hanya sekitar dua ribu yang datang dengan niat untuk mencari ilmu. Sedangkan sisanya datang lebih kepada untuk melihat bagaimana kemuliaan akhlak beliau.

Semoga Alloh berikan pada kita kemuliaan akhlak. Karena sungguh, diantara yang paling banyak menyelamatkan manusia di hari perhitungan nanti, adalah akhlak yang mulia.

—————

Sembari menanti Romadhon

Pojok Kamar Bercat Biru,

Karang Asem, Sleman. 19 Juni 2014, 08:16

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s