Peminta-Minta Tolong di Sekitaran Kampus. Beneran atau Penipu yaa ?

Pada suatu ketika di pertengahan oktober tahun 2010, saya sedang dalam perjalan pulang dari arah Malioboro menuju rumah (baca : kos) saya di sekitaran Pogung Kidul, utara Fakultas Teknik UGM. Sore itu saya baru kembali dari membeli sebuah kamus dan sejumlah buku di shopping center yang dikenal dengan harga buku-bukunya yang relative miring. Untuk pulang, saya menggunakan moda transportasi bis jalur 2 dan menunggu di perempatan yang tidak jauh dari shopping center. Tidak lama bis segera datang dan di dalam bis hanya ada tiga atau empat orang penumpang, dengan salah seorang di antara mereka adalah laki-laki berpenampilan usang yang duduk agak jauh di belakang.

Tidak lama, laki-laki berpenampilan usang tersebut lalu menghampiri saya, memperkenalkan diri dan bertanya banyak hal yang membuat saya risih mengingat hal yang ditanyakannya banyak yang bersifat pribadi. Pada akhirnya ia kemudian mengaku bahwa anaknya tengah sakit di RS Dokter Sardjito UGM dan ingin meminta bantuan sejumlah uang kepada saya. Awalnya saya tolak dengan halus dengan berdalih bahwa saya tidak punya uang sejumlah ratusan ribu yang ia hendak pinjam. Dan memang begitu adanya. Sampai kemudian ia terus meminta dan meminta meskipun hanya Rp. 20.000,00 saja. Untung saja tidak lama kemudian, bis yang saya tumpangi sudah tiba di sekitaran Kampus dan mengharuskan saya turun. Terakhir, saya kembali menolak permintaan laki-laki berpenampilan usang itu, walaupun ia terus merayu saya untuk meminjaminya.

mengemis-e1357804355319

Kejadian semacam ini mungkin tidak terdengar asing bagi anda yang bertempat tinggal di Yogyakarta, ataupun di wilayah lain yang memiliki banyak pendatang. Yakni kisah seorang yang mengaku sedang kesulitan, mungkin sedang membutuhkan uang untuk pengobatan anaknya, atau ia mengaku baru saja kecopetan, atau meminta bantuan untuk ditunjuki jalan ke stasiun atau terminal, dan terakhir yang saya alami, meminta sejumlah uang untuk membantunya menengok anak istri di kampung. Namun pada akhirnya kalimat terakhir yang disampaikan oleh orang-orang semacam ini katakan adalah sama, yakni: Mas, boleh pinjam uang ?

Saya sendiri, sebagai mahasiswa yang sudah agak lama menetap di Kota Jogja, sudah berulang kali mengalami hal semacam ini. Modusnya beragam. Namun ujung-ujungnya sama. Akhirnya kemarin (15 Juni 2014) saya melakukan audiensi di jejaring social facebok saya untuk bertanya, apakah ada yang pernah mengalami hal yang serupa? (bisa diakses di sini https://www.facebook.com/ahmad.m.alfarisy/posts/10202383639534193?comment_id=10202385217933652&offset=0&total_comments=65&ref=notif&notif_t=feed_comment ).

Dari 19 komentator, 17 diantaranya mengaku pernah mengalami kejadian semacam ini. Modusnya sangat beragam. Diantaranya ada yang mengaku baru kecopetan, kehabisan bekal, ingin pulang tapi tidak tahu arah, sampai yang ingin bantuan uang sekolah seperti yang dituturkan oleh salah satu komentator status facebook saya itu.

Hal yang kemudian menjadi masalah adalah, tentu saja tidak semua yang meminta bantuan semacam itu adalah benar-benar asli peminta tolong. Sebagian di antara mereka adalah penipu yang pura-pura sedang kesulitan dan butuh bantuan. Sebagai contoh, kasus pertama yang saya ceritakan di awal, terindikasi jelas adalah penipuan. Bagaimana mungkin ia begitu memaksa saya untuk memberikan uang dari ratusan ribu rupiah dan terus menurunkan nilai tawar hingga dua puluh ribu rupiah? Anehnya laki-laki di bis hari itu, meminta bantuan dengan wajah yang agak cengegesan, sementara baru saja ia bertutur anak gadisnya tengah kritis di Rumah Sakit Sardjito. Sebuah hal yang tidak logis.

Salah seorang rekan pengomentar juga menceritakan bahwa ia bertemu seorang ibu yang sama, yang telah bertemu dengannya sebanyak tiga kali dan meminta uang untuk pulang kampung (mungkin). Untuk yang pertama, ia mengaku memberikan sedikit bantuan. Namun ketika bertemu yang kedua kalinya, ia lalu bertanya “Lho, kok ibu masih di Jogja ?” . Lalu serta merta ibu-ibu tersebut pergi menjauh, melarikan diri. Dalam kasus ini, sang ibu-ibu penipu bahkan sampai lupa wajah korbannya. Kasihan rekan saya ini, Menolong, lalu dilupakan.

Komentator yang lain juga becerita, ia pernah bertemu seorang ibu-ibu yang meminta sejumlah uang padanya di sekitaran kampus FK UGM dengan dalih butuh sejumlah uang untuk membelikan susu untuk anaknya. Namun setelah dibantu hari itu, esoknya ia kembali melihat ibu yang sama di sekitaran lokasi yang sama. Dan untuk pelaku satu ini, saya termasuk yang pernah melihatnya.

Menurut penuturan rekan yang lain yang pernah mengalami kasus semacam ini, salah seorang yang terindikasi penipu pernah meminta sejumlah uang padanya akibat abu vulkanik gunung api merapi telah membuatnya sakit. Rekan saya tidak memberinya uang,  melainkan hanya memberikannya sebuah masker. Namun setelah berpisah, dari kejauhan ia melihat masker yang telah diberikannya justru dibuang.

Namun diantara kasus semacam ini, juga ada sebagian komentator yang mengatakan menemukan sebagian yang terindikasi bukan penipu, yakni menurut penuturan salah seorang kakak tingkat saya yang menceritakan rekannya yang pernah menemukan kasus serupa. Kisahnya masih seputar kehabisan uang dan butuh bantuan untuk pulang ke Solo. Rekan dari kakak tingkat saya itu lalu berinisiatif untuk mengantarkan peminta tolong ke Janti (sebuah terminal di Jogja) dan memberikan sejumlah uang untuk ongkos bis menuju Solo. Untuk kali ini, kemungkinan besar asli, tuturnya.

Berdasarkan cerita yang disampaikan oleh rekan-rekan saya di facebook ketika menanggapi status saya hari itu, maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua orang yang meminta bantuan di jalan adalah orang-orang yang jujur dengan cerita sedihnya atau dengan keluhannya. Namun tidak pula semuanya adalah penipu. Karena itu, sudah sepantasnya kita bersikap lebih waspada, mawas diri dan lebih selektif dalam memberikan bantuan. Kenapa harus selektif ? karena sudah kita sepakati bersama bahwa “Rasa belas kasihan kini sudah menjadi komoditas yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang malas bekerja, malas mencari nafkah dengan cara yang halal”.

Ketika mengemis sudah barang tentu akan terkesan menghinakan diri, maka dengan berpura-pura menjadi peminta tolong dengan beragam alasan terlihat jauh lebih bergengsi. Padahal hakikatnya sangat berbeda. Uang yang didapatkan dari hasil mengemis adalah halal meskipun ia barang yang hina, dan adalah sebuah keniscayaan akan membuat ia terhina. Akan tetapi uang yang didapatkan dari menipu adalah uang yang haram yang tidak halal untuk dimanfaatkan, yang darah dan daging yang tumbuh darinya adalah haram. Dalam hal ini saya tidak mengatakan bahwa lebih baik menjadi pengemis ketimbang menjadi penipu, karena keduanya tetaplah pekerjaan yang hina, dan perbedan anatar keduanya di zaman ini sangatlah tipis mengingat sangat banyak juga pengemis yang menipu.

Salah seorang komentator lalu menanggapi untuk tetap membantu orang-orang semacam itu. Urusan benar atau tidak, itu adalah urusan dia dengan Alloh tabaaroka wa ta’ala, yang penting adalah sikap kita untuk mendahulukan berhusnudzon, berbaik sangka, tuturnya. Sebagian lagi menyarankan jika menemukan kasus demikian lagi, untuk meniatkannya hanya untuk bershodaqoh jika memang sedang punya kelebihan uang. Jika tidak, ya apa boleh buat. Dengan itu, mudah-mudahan Alloh ganti dengan yang lebih baik.

Secara umum saya sepakat dengan rekan-rekan yang memberikan saran di atas. Akan tetapi di sisi lain kita juga bertanggungjawab untuk mengurangi semakin bertambahnya jumlah penipu semacam ini. Jika memang berniat bershodaqoh, maka perhatikanlah baik-baik, apakah ia benar-benar jujur dengan apa yang dikatakannya. Jika iya, maka wajib bagi kita membantunya. Jika tidak, yakinkan diri sekali lagi apakah ia penipu atau bukan. Misalnya dengan mengajak ia ke Pos Polisi terdekat dan meminta bantuan di sana. Atau mengantarnya menuju kantor Badan Amil Zakat terdekat, misalnya jika anda menemukannya di sekitaran kampus UGM, lembaga zakat terdekat ada di Masjid Kampus UGM. Biasanya jika sudah diperlakukan semacam ini, akan terlihat yang mana di antara mereka yang berbohong, dan yang mana jujur dengan pengakuannya. Penipu akan enggan di bawa ke Lembaga Zakat atau kantor Polisi. Sedang yang jujur cenderung akan mau. Apalagi ditemani mahasiswa, yang InsyaAlloh jago bicara. Hehe

Saya rasa itu.

Nah, sekarang, apakah anda pernah menemukan yang semacam ini ? Apa yang anda lakukan sejauh ini ? Dan apakah anda punya trik jitu untuk mengatasi kasus yang serupa, atau mengenali manakah yang penipu dan yang bukan? Mohon berbagi yah jika berkenan : )

———————–

Pojok Kamar Bercat Biru, Karang Asem, Caturtunggal, Sleman

Senin, 16 Juni 2014. 07:06

Ahmad Muhaimin Alfarisy – Abangnya Nona Zahrah

 

Advertisements

12 thoughts on “Peminta-Minta Tolong di Sekitaran Kampus. Beneran atau Penipu yaa ?

  1. aku juga pernah mas, ibu ibu jualan pisang. kejadian di sekitaran fisipol – kehutanan UGM. beliau biasanya ada saat waktu jogging pagi. maksa pisangnya dibeli semua. alasannya mo pulang ke rumahnya di solo atau klaten saya lupa (ngapain jualan jauh-jauh ke jogja ya :)) ),karena anaknya kecelakaan masuk rumah sakit dan dia harus pulang. waktu itu beliau kaya tergesa-gesa dan istilahe nderedeg gitu loh. ngomongnya juga pake “tolonglah” gitu gitu. saya ga sanggup beli se bakul (org jogging bawa duit berapa sih :)) ) trus saya beli sesisir, kalo ga salah 50rb. itupun saya bela – belain urunan sama teman saya :)) (niatnya sih buat ongkos bis cukup lah ya).
    eh weekend depan pas jogging lagi, lewat situ si ibu itu ada lagi dan masih jualan pisang. dan lagi njualin pisang nya ke mbak-mbak, bukannya suudzon tapi saya lihat cara dia pegang pisang kaya ga santai gitu dan sikap tubuh mbak yg beli kaya ga mantep, seakan cuma kasian. mungkin kejadiaannya sama kaya saya kemaren (mungkin lho 😀 )
    weekend depannya lagi saya lihat ibu itu lagi bawa pisang lagi muterin sekitar ftp dan kehutanan. entahlah ya mas :)) wallahualam.

    • hehehe. manda.. manda…
      yaudah lain kali jangan ditolongin.
      kayaknya aku kenal deh dengan ibu-ibu yang kamu maksud.
      di grup 2013, ada juga yang ngaku begini.
      dengankisah yang sama persis.
      bisa-bisa dagangan ibu itu gak laku lagi nanti haha 😀

  2. Saya juga mengalami kejadian seperti Mbak Irmanda, tapi disini posisinya saya sebagai saksi bukan “korban”.

    Nah jadi kejadian ini baru terjadi hari Minggu kemaren, 15 Juni 2014. Lokasi di GSP sayap timur depan FEB UGM. Jadi saya dengn 5 teman lainnya sedang jualan minuman dilokasi tersebut. Sekitar jam 10an ada ibu-ibu jualan pisang yang udah muter 2 kali didepan kami. Waktu itu kami sedang ngobrol dengan Bapak2 yang ternyata berasal dari Padang (kami anak2 Padang). Saat lagi asik ngobrol, si Bapak manggil Ibu yang jualan pisang. Trus ditanyain dari mana, dibilang dari Bantul. Udah berapa lama jualan, sejak suaminya meninggal abis gempa Jogja 2006. Trus dengan perbincangan yang lebih lanjut si Bapak nanya kenapa mau jualan begini, ibunya bilang dengan memelas buat uang sekolah anak cucunya. Akhirnya si Bapak beli pisangnya dan ngasih 300 ribu langsung ke si Ibu buat uang sekolah anak cucunya. Si Bapak nawarin ke kita mau gak, soalnya Bapak juga gak ngambil siapa yang mau ngolah. Awalnya kami nolak, tapi ngambil 1 sisir pisang. Si Bapak bilang ambil aja mau berapa. Waktu Bapaknya udah pergi kita mau minta sesisir lagi buat bikin gorengan, eh malah Ibunya bilang gini. “Uang tadi buat cucu saya, kalo mau pisang bayar ke saya”. Trus kami dengan perasaan jengkel se jengkel2nya ngatain2 Ibu antara sesama kita. Ternyata si Ibu hebat acting, di depan si Bapak melasnya minta ampun, eh pas si Bapak udah pergi sombongnya minta ampun.

    Jadi hati-hati aja buat masyarakat sekitar UGM kalo ada Ibu Ibu penjual pisang yang gendong bakul. Ciri-cirinya rambut diiket sanggul, kulit agak gelap.

    • wah, ibu-ibu yang sangat fenomenal 😀
      terkenal jadi ibu ini setelah banyak yang membicarakannya 😀

  3. Yang ibu-ibu itu berulang-ulang emang disitu posisinya
    Dia selalu memelas, beralasan bahwa membutuhkan uang untuk pulang, memelas gitu, dan besoknya begitu lagi, minggu depannya lagi dan besoknya begitu lagi
    Jadi biasanya sabtu minggu pasti disitu
    Awalnya sih kasian sama alasannya, tapi kok besok ada lagi, minggu depan lagi, jadi bertanya-tanya kalo emang perlu uang untuk pulang, kok masih disitu jualan dengan cara yang sama, knp gak begitu dapet rejeki dipakai sesuai kata-katanya
    Ya akhirnya kesimpulan pribadi emang ibu itu jualan dengan cara begitu, bukan terpaksa jualan sesuai dengan kata-katanya yang butuh biaya sebagai alasan untuk menaikkan harga jual barangnya 😀

    No offense, itu kesimpulan pribadi sih, silakan dicoba cari tahu 😀
    Selalu putar-putar GSP, sekitar klaster agro, fisipol, hukum 😀
    Dibalik itu, ya pisang dagangannya yang waktu itu sempet saya beli enak juga sih, dibikin pisang goreng enak tuh :))

    • hehehe. memang yah.
      kalau menurut saya, si ibu itu boleh jadi awalnya jujur. tapi kaget kokk penghasilannya melimpah ruah.
      akhirnya dijadikan kebiasaan menjual diri dan kehormatan

  4. saya juga pernah bos di depan gedung FKG ugm, masnya dengan alasan pesan tiket kereta yang salah dan ga punya uang buat beli tiket baru. pas saya minta di tunjukin tiketnya dianya malah kabur, saya panggil-panggil ga noleh…
    :v

  5. saya juga pernah mas waktu saya masih MABA dulu.. pertama, nolongin bapak-bapak jalan di Jalan glagahsari,, mulanya keliatan kaya orang kelaperan. pas ditanya ga mau brenti (mungkin takut korban sbelumnya) tapi pas sya paksa brenti baru dia mau berenti, ngakunya udah 2hr ga makan, dompetnya dicopet di terminal giwangan. asalnya dari banyuwangi tapi mau pulang kampusng abis kerja dari Kulonprogo.. terus saya beliin dia makanan. n akhirnya dia minta dana seiklasnya buat pulang ke banyuwangi. ktanya 200rb jg cukup, yaudahlah niatnya saya nolongin pas kebetulan ada rezeki. terus dia minta dianter ke janti buat naiki bisnya (disitu curiga kok orang banyuwangi bisa tau janti, terus bisa tau juga kalo ke janti kudu lewat jalan glagahsari, sbelumnya dia jga minta ditinggal di halte Trans di Jl kusumanegara juga gpp katanya.. anehh saya pikirr ) tapi sudah niat saya nolong itu bapak2. akhirnya saya anterin itu ke janti..
    . ehhhh… 1 bulan kemudian saya liat bapak2 itu lagi jalan di Glagahsari dengan akting yang sama.. jiaannnn ketipu..

    dan saya masih punya 2 cerita lainnya.. tapi yang 2 ini saya ngga berani sya bilang kena tipu mas.. soalnya saya ga punya buktinya.. saya cuma berfikir kalo ga ada salahnya memberikan bantuan sama seseorang., selama saya bisa bantu siapapun orang itu pasti saya akan bantu semampu saya.. masalah dia asli atau palsu itu sudah bukan urusan saya, yang penting saya niat ikhlas membantu demi mengharap Ridho Alloh SWT.

  6. dalam 2 minggu mengalami hal yg serupa,, 2x, yg pertama ketuk rumah mengaku habis kecopetan mau pulang ke jawa barat gak punya ongkos minta nasi sisa aja klo ada, sy gak menaruh curiga soalnya dia bawa keluarga (mungkin juga ini beneran) kasian ya kukasi tambahan, yg kedua mencegat di jalan (tamsis) mengaku kecopetan mau pulang solo minta ditunjukkan jalan ke giwangan minta ongkos sambil menunjukkan surat kehilangan dr polsek, karena gelagatnya kurang enak akhirnya gak kukasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s