Pentingnya Beramal dengan Hati dan Badan

Pentingnya Beramal dengan Hati dan Badan

(Intisari Kajian Bersama Ustadz Abu Yahya Badrussalam Lc)

Jumat, 13 Juni 2014, 20:00 – 21:00

Kediaman Dokter Fauzi, Godean, Yogyakarta

Qodarulloh, Alloh menghendaki saya untuk kembali menjumpai Ustadz Abu Yahya Badrusalam malam tadi, 13 Juni 2014. Beliau memang direncanakan untuk mengisi beberapa tabligh akbar di kota Jogja dan sekitarnya pada akhir pekan ini, salah satunya adalah di kediaman Dokter Fauzi yang terletak di daerah Godean. Kajian dimulai pukul 20:00 dan berlangsung hanya selama setengah jam. Alhamdulillah selama kajian, saya menyempatkan diri untuk mencatat beberapa poin penting yang mudah-mudahan akan bermanfaat. Kajian kali itu bertemakan “Pentingnya Beramal dengan hati dan badan”.

obat-hatiSering sekali kita beribadah hanya dengan memperhatikan anggota badan. Kita begitu perhatian dengan perkara-perkara yang hanya tampak fisiknya saja, di mana anggota tubuh kita, anggota badan kita tampak beribadah akan tetapi hati kita tidak ikut menyertainya. Seperti halnya diri kita sering sekali disibukkan dengan mencari ilmu namun sangat jarang kita memiliki kesadaran untuk membersihkan tempat ilmu itu, yakni hati.

Di dalam tubuh kita, yang mempengaruhi ibadah kita sesungguhnya adalah hati. Hati ibarat sebuah bejana yang menampung ilmu, yang kita peroleh dan kita terapkan selama ini. Di dalamnya terkumpul ilmu-ilmu yang bermanfaat, ilmu yang kurang bermanfaat, ilmu yang tidak bermanfaat, dan bahkan ilmu yang berbahaya. Dari jenis-jenis ilmu ini, tentunya yang kita inginkan dan kita harapkan ada di dalam bejana hati kita hanyalah ilmu yang bermanfaat. Yakni ilmu yang memberikan kebermanfaatan kepada pemiliknya dalam bentuk amalan. Akan tetapi, sungguh ilmu yang bermanfaat tidak akan masuk pada bejana hati yang dipenuhi dengan keburukan, yang dipenuhi dengan kemaksiatan.

dari sahabat yang mulia Abu Musa Al-asy’ari Radiallahu anhu, Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, namun tidak bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas menjelaskan bahwa hati yang subur, akan tumbuh di atasnya tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak, yang pada hakikatnya adalah tampaknya amalan-amalan pada dirinya, yakni semakin banyak dan berkaulitas amalannya, serta semakin mulia akhlaknya. Pada sebagina hati, selain ia mengamalkannya, ia juga membagikannya dengan mengajarkan ilmu pada orang lain. Sedangkan hati yang tandus atau tidak subur, tidak berpengaruh padanya ilmu dan kebenaran yang datang padanya, sehingga meskipun ilmunya telah bertambah, tidak berubah sedikitpun hati dan amalan-amalannya. Sehingga hadirnya ilmu tersebut tidak lain hanya akan membinasakannya.

Sebagaimana yang disabdakan bahwa

“kelak Al-Qur’an akan dijadikan hujjah atas seseorang yang akan menyelamatkannya dari adzab, sedang pada sebagian yang lain Al-Qur’an akan dijadikan hujjah yang kuat atas seseorang yang justru akan membinasakannya,” yang maksud dari kalimat yang kedua adalah seseorang yang datang padanya kebenaran, ia mengetahui dan meyakininya akan tetapi tidak mengamalkannya.

Adanya penyakit-penyakit hati, atau buruknya hati seseorang adalah salah satu diantara penyebab seseorang memungkinkan untuk mati dalam keadaan su’ul khotimah, sebagaimana yang dijelaskan pada sebuah hadist yang shohih bahwa ,

Sesungguhnya ada salah seorang dari kalian yang benar-benar mengerjakan amalan penduduk surga sebatas apa yang tampak oleh manusia hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sejengkal, namun karena isi catatan takdir yang telah ditulis (sebelumnya) mendahuluinya, maka dia pun melakukan amalan penduduk neraka dan akhirnya masuk ke sana . Dan sesungguhnya ada pula salah seorang di antara kalian yang mengerjakan amalan penduduk neraka sebatas apa yang tampak pada manusia hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sejengkal namun karena isi catatan takdir yang telah ditulis (sebelumnya) mendahuluinya maka dia pun melakukan amalan penduduk surga dan akhirnya dia masuk ke sana .” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mungkinnya seseorang mengalami sepertihalnya yang dijelaskan pada hadist di atas, yakni ia mengamalkan amalam-alan surga akan tetapi pada akhirnya ia terjatuh dan melakukan amalan penduduk neraka, adalah karena semasa hidupnya, ada yang tidak beres pada kondisi hatinya, sehingga mempengaruhi amalannya.

Al-hasan Al-Bashri Rahimahullohu ta’ala berkata, bahwa tidaklah para salaf, generasi terbaik ummat ini dianugerahkan pada mereka kemudahan dalam melakukan amalan-amalan. Akan tetapi mereka dianugerahkan kebeningan dan kekuatan hati.

Abdullah bin Mas’ud Radiallahu anhu berkata tentang pada sahabat Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam, bahwa mereka adalah orang-orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya.

Di dalam Al-Qur’an sendiri Alloh bersumpah sebanyak sebelas kali pada Surat Asy-Syams.

Demi Matahari [1] dan sinarnya pada pagi hari [2] ; Demi bulan apabila mengiringinya [3] ; demi siang apabila menampakkannya [4] ; demi malam apabila menutupinya (gelap gulita) [5] ; demi langit [6] serta pembinannya (yang menakjubkan) [7] ; demi bumi [8] serta penghamparannya [9]; demi jiwa [10] serta penyempurnan [11] (ciptannya) ; maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya ; sungguh beruntung orang-orang yang menyucikannya (jiwa itu) ; dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

Perhatikanlanh bahwa di atas, Alloh subhanahu wata’ala bersumpah hingga 11 kali, dan perkara yang disampaikannya setelah itu adalah masalah hati. Yakni sungguh beruntung orang-orang yang senantiasa menyucikan hatinya, yang menyucikan jiwanya. Dan begitupun sebaliknya, sungguh merugi orang-orang yang mengotori hatinya, yang mengotori jiwanya.

Jika seorang manusia berbicara dengan bersumpah, maka sebagaimana yang berlaku umumnya di masyaraat, dapat kita ketahui jika pembicaraan seseorang tersebut adalah sebuah perkara yang penting.

Apalagi jika manusia tersebut bersumpah beberapa kali. Maka tentulah hal tersebut, yakni perkara yang disumpahinya adalah perkara yang teramat sangat penting. Katakanlah jika manusia yang bersumpah adalah seorang yang terbiasa berbohong, akan tetapi dengan beberapa kali bersumpah, maka kita bisa sedikit akan percaya padanya. Berbeda halnya apabila seorang yang dalam hidupnya, ia selalu berlaku jujur. Maka dengan sekali bersumpah, kita akan segera percaya dengan apa yang dikatakannya.

Akan tetapi di sini Alloh lah yang bersumpah. Rabb yang maha benar apa yang dikataan-Nya. Rabb yang tidak mungkin berlaku zalim dengan mengatakan hal yang tidak benar. Sementara di sini Alloh subhanahu wata’ala melakukan sumpah sebanyak 11 kali yang dilanjutkan dengan membahas perkara hati. Perkara jiwa seseorang. Maka tentulah perkara hati yang bersih dan hati yang kotor patut mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh. Karena pada hatilah tempat tumbuhnya iman. Tempat tumbuhnya keyakinan.

Mulianya hati, bersih dan beningnya hati akan mampu menaikkan derajat seorang hamba di hadapan Alloh jauh ketimbang seseorang yang boleh jadi amalannya lebih banyak.

Sebagaimana Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam yang mengambarkan kepada para Sahabatnya tentang seorang lelaki terbaik pada generasi tabi’in, bernama Uwais Al-Qoroni Rahimahullohu ta’ala. Ia bukanlah generasi tabi’in dengan segudang ilmu dan dengan banyak amalan ketaatan. Akan tetapi kebeningan hatinyalah yang membuatnya menjadi yang paling mulia dari kalangan para tabi’in. Biografi Uwais Al-Qoroni dapat dibaca pada link berikut ini

http://www.firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/17-tabiin-terbaik-uwais-al-qoroni

Oleh karena itulah, Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullohu ta’ala berkata bahwa ilmu itu bukanlah terletak pada banyaknya kitab, hafalan atau periwayatan. Akan tetapi ilmu adalah semakin bertambahnya rasa takut di hadapan Alloh subhanahu wata’ala.

Ibadah yang tanpa disertai rasa takut, dikhawatirkan ibadahnya tidak akan diterima. Sebab ibadah yang Alloh terima hanyalah ibadah yang dilakukan oleh orang-orang yang bertaqwa. Sedangkan kunci ilmu yang akan menciptakan rasa taqwa adalah hati yang bening. Oleh karena itu, tentu penting bagi kita untuk terus mengevaluasi dan terus memeriksa kebeningan hati kita.

Pada sebuah riwayat yang lain, dikisahkan bahwa rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam pada sebuah majelis, beliau menyampaikan tentang seseorang yang akan menjadi penghuni surga, pada tiga kali majelis beliau berturut-turut. Salah seorang sahabat yang mulia, yakni Abdullah Bin Amr Bin Ash kemudian menyelidikinya untuk mengetahui amalan apa yang dilakukan oleh sang lelaki sehingga membuat ia dikatakan oleh Rasululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam akan menjadi penghuni surga. Kemudian pada akhirnya, tidaklah ia dapati padanya amalan yang utama. Hampir-hampir Abdullah Bin Amr Bin Ash menyepelekan amalannya hingga kemudian diceritakan oleh sang lelaki bahwa tidaklah ia memiliki perasaan iri maupun dengki kepada sesama muslim terhadap kenikmatan yang Alloh berikan pada mereka. Itulah yang kemudian membuat ia memiliki kedudukan yang mulia di hadapan Alloh subhanahu wata’ala.

Diantara hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membeningkan hati kita adalah membersihkan hati kita dari penyakit mencintai dunia serta menuruti hawa nafsu. Apabila seseorang menuntut ilmu akan tetapi ia tidak berhenti untuk terus mengikuti hawa nafsunya, maka Alloh subhanahu wata’ala akan menyesatkan ia di atas ilmu. Yakni, ia mengetahui dengan baik perkara-perkara yang halal dan perkara-perkara yang haram, akan tetapi ia menyelisihinya.

Sedangkan beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengetahui kondisi hati kita saat ini, yakni

Pertama, hendaknya kita tidak pernah merasa memiliki hati yang sempurna. Atau dengan kata lain hendaknya kita tidak pernah merasa cukup dengan kondisi kebeningan hati kita, dan kondisi keimanan kita. Sebagaimana para salaf terdahulu, yang tidaklah semakin bertambah ilmu dan amal mereka, melainkan membuat mereka semakin bertambah tawaddhu’, dan rendah hati.

Para salaf di masa lalu, ketika semakin bertambah ilmu dan amalnya, mereka akan semakin sering berkata “siapalah saya”. Maka bandingkanlah dengan kita di zaman ini, ketika tampak sedikit kelebihan kita di mata manusia, maka serta merta kita akan berkata “inilah saya” meskipun ucapan tersebut hanya terbesit sedikit di hati.

Kedua, hendaknya kita mengenali tanda-tanda penyakit hati, seperti penyakit riya’, sombong, nifaq, iri dengki dan hasad, serta penyakit-penyakit hati lainnya. Tidak mudah sombong dengan ilmu atau amal yang Alloh subhanahu wata’ala titipkan kepada kita, tidak pula beribadah karena mengharapkan ridho manusia, tidak mudah tersinggung ketika dinasihati atau dikritik orang lain, dan penyakit-penyakhit hati lainnya.

Imam Adz-Dzahabi Rahimahullohu ta’ala berkata bahwa tanda seseorang yang ikhlas diantaranya adalah ia tidak panas ketika dinasihati. Bahkan mendoakan mereka yang menasehatinya.

 

Semoga Alloh memberikan hidayah dan taufiq kepada kita.

Barakallahu fiik.

—————————————————————————————————————————————————————–

Karang Asem, Kocoran, Depok, Sleman.

Sabtu, 14 Juni 2014, 09:53

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

Advertisements

One thought on “Pentingnya Beramal dengan Hati dan Badan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s