Ketika Harus Berurusan dengan Bank (Mandiri & Mu’amalat)

Beban skripsi berangsur-angsur akhirnya berkurang dan membuat keadaan terasa menjadi lebih baik. Hari ini, Rabu 11 Juni 2014 seperti yang telah saya rencanakan sebelumnya, ingin mengurus rekening tabungan saya yang mengalami masalah, akibat beberapa waktu yang lalu kartu ATM saya hilang tanpa bekas. Mungkin terselip, jatuh atau entah bagaimana. Saya hanya terakhir kali mengingatnya pada saat beberapa pekan lalu, mengambil sejumlah uang untuk menyerahkan biaya jasa pembuatan desain sebuah buku pada salah seorang rekan saya.

 

Pagi-pagi sekali saya berangkat menuju Bank Mandiri KCP UGM dan tiba 10 menit sebelum Bank Mandiri memulai pelayanan yakni tepat pukul 08.00. Tentu saja saya menjadi customer pertama yang stand by di depan pintu Bank Mandiri. Akan tetapi, yang namanya Indonesia, budaya antre memang masih rendah. Antrian pertama saya diserobot oleh seorang lelaki paruh baya yang sepertinya bekerja di UGM, yang sebenarnya datang ke tiga, dan menempatkan saya pada nomor urut 2. But It’s okay

Photo-0167

Saya hanya menanti sekitar 1 menit untuk dipanggil bertemu customer service dan menyampaikan keluhan saya. Seorang wanita muda berusia tengah kepala dua, berpakaian khas biru dan rok mini dengan dandanan menor petugas bank umumnya. Seperti biasa, sebagai bentuk hospitality, beliau mencoba menghulurkan tangan untuk menjabat tangan saya yang saya balas dengan menangkupkan tangan di dada (?). Setelah berdiskusi sejenak, akhirnya saya dapati bahwa mengurus ATM yang hilang agak sedikit menyulitkan mengingat harus menyertakan surat keterangan hilang dari kepolisian. Sebenarnya mungkin saja saya urus, hanya saja rekening saya yang bermasalah hari itu saya prediksi hanya akan bertahan beberapa bulan lagi, mengingat fungsi rekening tersebut hanya bersifat satu arah, yakni menerima beasiswa dikti.

Saya lalu memilih alternatif kedua, dengan meminta pihak Bank untuk memindahkan seluruh saldo yang tersisa secara manual saja (kalau istilah ini benar), yakni pemindahbukuan dengan menggunakan dua buku rekening dari 2 rekening saya yang berlainan. Prosesnya tidak lama, hanya harus mengisi beberapa lembar form dan hanya harus berhadapan pada dua meja. Pada kesempatan diskusi bersama pihak Customer Service, saya menyempatkan diri untuk bertanya terkait “bunga” a.k.a riba yang masuk ke dalam rekening yang saya miliki. Sebab, selama ini saya melihat tidak ada rekaman bunga yang masuk dengan berpijak pada kode transaksi yang tertera pada buku rekening. And, finally beliau menyampaikan bahwa

“Sebenarnya tetap ada mas, hanya jumlahnya kecil sekali dan diakumulasi tiap bulan. Ini contohnya”

Beliau menunjukkan satu rekaman kode transaksi bernomor 14 yang merupakan kode bunga yang luput dari pengamatan mata saya. Hanya sejumlah Rp.62,59.-. Tidak cukup untuk beli apa-apa. Tapi riba tetaplah riba. Haram.

Photo-0173

Proses selanjutnya adalah pemindahan manual dan berpindah meja dari meja customer service menuju meja teller. Di sana, saya kembali bertemu dengan orang-orang yang sudah sangat familiar mengingat sering sekali rasanya berurusan dengan pihak Bank Mandiri Cabang UGM. Ada mbak Neysa, Mbak Ita, Mbak Tina, Mas Rezki, dan lain-lain. Wajah-wajah tak asing, benak saya setiap datang ke sini. Seperti biasa, prosesnya cepat. Pada kesempatan ini saya menyempatkan diri bertanya pada Mabk Neysa, yakni memungkinkanah bagi saya untuk melihat seluruh data transaksi yang terjadi pada rekening saya selama ini. Karena, saya hendak mengeluarkan seluruh uang riba yang bercampur, terhitung sejak rekening saya berlaku pada tahun 2010 hingga hari ini. Beliau lalu menjawab

“Oh ya Mas, Itu hanya bisa di customer service, cetak rekening koran dengan biaya Rp. 2.500,- per lembarnya”

Saya mengiyakan. Dan mengingat jadwal saya cukup senggang hari ini, saya memilih untuk mengantri kembali untuk mencetak rekening koran saya selama ini, yang konsekuensinya adalah, saya harus kembali mengantri di customer service lagi. Namun sebelum kembali ke meja Customer Service, saya menyempatkan diri mengambil sejumlah uang tunai melalui ATM tepat di sebelah utara ruang utama Bank Mandiri KCP UGM.

Sekembalinya, kali ini, saya mendapatan nomor urut 008. Persis dengan kode nomor tokoh Pahlawan wanita sewaktu saya masih kanak-kanak. Kali ini saya hanya perlu menanti sekitar 5 menit. Tidak terlalu lama bukan ? wajar, saat itu masih pukul 08:30 pagi.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini saya dilayani oleh seorang petugas customer service  yang berusia sekitar tengah kepala empat bernama ibu Yuni. Dari gelar yang ada di depan namanya, saya ketahui boleh jadi ia merupakan keturunan darah biru.

Setelah menyampaikan keinginan, saya dijelaskan bahwa maksimal rekaman data transaksi yang bisa dicetak dalam rekening koran hanya dari tanggal 28 Agustus 2013 hingga hari ini. Tidak genap satu tahun. Kalau menginginkan data rekaman seluruhnya, atau dari tahun 2010 saya hanya bisa melakukannya di Bank Mandiri KC Yogyakarta yang berada di Jl. Jenderal Soedirman.

Photo-0174

Berkali-kali ibu Yuni mencoba meyakinkan saya bahwa bunga yang masuk dalam rekening saya tidak terlalu besar sehingga tidak terlalu berarti. Mungkin beliau ingin meberi nasihat bahwa apa yang saya lakukan tidak terlalu penting, bukan masalah besar, bukan hal yang perlu ditakutkan dan intinya

“yaudahlah mas, segitu aja kok mau dihitung banget. Buat registrasi senilai Rp. 3000 perbulannya saja mash nombok”

Akan tetapi, berkali-kali pula saya akhirnya meyakinkan kepada beliau bahwa ini bukanlah masalah kecil atau besarnya bunga. Melainkan perkara halal dan haram. Perkara harta yang bercampur padanya zat yang haram. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba meyakinkan bahwa hal ini penting bagi saya, maka beiaupun akhirnya mengalah dan mencetak rekening koran untuk rekening saya. Hasilnya, tercetak empat lembar yang kesemuanya tidak menunjukkan adanya data bunga atau riba yang berarti. Bahkan jumlah bunga hampir tidak ada.

Akan tetapi, sebagai bentuk berjaga-jaga, saya telah berencana untuk mengeluarkan uang sekitar Rp. 5.500,- pertahunnya, mengingat data transaksi kedua reening saya tidaklah jauh berbeda. Sementara pada rekening saya yang lain, telah saya dapatkan bahwa bunga kumulatif dalam setahun yang saya peroleh adalah Rp. 5.000,-

Pada kesempatan yang sama juga saya bertanya terkait besaran dana minimal Rp. 100.000,00 yang diendapkan oleh Bank Mandiri. Mencoba menelusuri apa yang akan dijawab oleh pihak Customer Sercives, mengingat salah satu Bank Konvensional yang cukup terkenal di Indonesia (Bukan Bank Mandiri), menggunakan dana endapannya untuk peternakan Babi di China. Setidaknya demikan yang diceritakan oleh alah seorang rekan saya yang kuliah ekonomi di sebuah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Namun, beliau tidak mau menjawab. Justru mencoba untuk mendistraksi pikiran saya dengan memutar-mutar pembahasan seolah-olah saya buta seluruhnya dengan dunia perbankan. Terus coba saya kejar hingga akhirnya beliau menyampaikan bahwa pembicaraan semacam ini bukanlah wewenangnya. Apaboleh buat, saya juga harus bersikap maklum mengingat pembicaraan semacam ini boleh jadi akan sangat sensitif.

Akhirnya proses pencetakan rekening koran selesai dan tercetak 4 lembar dengan masih-masing lembar dihargai Rp. 2.500,00. Saya membayar tunai kala itu dan bergegas menuju Bank Muamalat. Kantornya tidak terlalu jauh. Tidak sampai 1 KM di sebelah timur, tepatnya di Sayap Utara Masjid ampus UGM. Saya ingin segera membuka rekening pada Bank Syariah. Yang tidak ada bunga di dalamnya.

Tidak banyak antrian di Bank Mu’amalat KCP UGM meskipun saat itu sudah memasuki pukul 09:00 pagi, tidak seperti halnya di Bank Mandiri tadi. Hanya ada tiga orang nasabah, termasuk saya. Sambutan lembut yang halus sekali

“Assalamu’alaykum” oleh petugas security yang saya jawab sempurna.

Saya mendapatkan nomor antrian pertama dan duduk sekitar 4 menit untuk menunggu. Tidak lama, seorang yang wajahnya sudah tidak asing berlalu di hadapan saya dengan seragam Bank Muamalat. Ah, Mbak itu, gumamku.

Photo-0169

Seorang perempuan berkacamata berusia tengah duapuluhan, dengan jilbab yang dipadankan dengan seragam ungu Bank Muamalat. Tingginya hanya sebahu saya. Tidak memakai high-heels seperti halnya pada petugas Bank Mandiri. Dan yang lebih penting, beliau tidak menghulurkan tangan untuk menjabat tangan customer, menyapa dengan salam, dan memakai pakaian yang menutup aurat yang jauh lebih baik ketimbang petugas di Bank Mandiri yang saya temui satu jam sebelumnya.

Perempuan tak asing yang wajahnya tak asing. Mata kami sering bertatap pada sejumlah waktu atau pada sejumlah pertemuan. Tapi boleh jadi beliau lupa akan saya. Akan tetapi saya tidak mungkin melupakannya mengingat wajahnya persis dengan wajah kakak ipar saya yang kini telah beranak dua. Saya pernah melihatnya beberapa kali pada sejumlah kesempatan di Masjid Kampus UGM. Utamanya pada jam-jam makan siang.

Beliau segera menjelaskan produk yang ada atau yang ditawarkan oleh Bank Mu’amalat. Saya lalu memilih produk yang dikenal sebagai “wadiah”. Sebuah produk tanpa bagi hasil dengan biaya administrasi Rp. 5.000,- per bulannya. Ada sejumlah berkas formulir yang harus saya isi. Sekitar 5-6 berkas. Saya sempat sedikit tersenyum ketika ia berkata

“Karena Mas masih single, di sini ditulis identitas orangtua saja”

Dalam hati saya menjawab

“Ehm. Emang mbak sudah nikah gitu -_- ?” . Lagipula, darimana beliau tau bahwa saya masih single ? boleh jadi kan saya sudah…. Ah sudahlah….

Photo-0176Prosesnya ternyata cukup lama. hampir berlangsung sekitar 40 menit dari awal kedatangan, hingga buku rekening beserta ATM berpindah ke tangan. Sore ini, rekening sudah aktiv dan mudah-mudahan Alloh mengizinkan turunnya rezei yang baik dan halal melalui rekening syar’i ini.

Alhamdulillaah, akhirnya hari ini, tanpa saya rencanakan sebelumnya, kini saya sudah memiliki buku tabungan yang syar’i. Yang tidak memungkinkan tercampur riba di dalamnya.

Teruntuk dua rekening saya yang lain yang keduanya adalah rekening dari Bank Mandiri, kemungkinan besar selepas menyelesaikan studi S-1 di UGM, akan saya tutup. Atau minimal hanya memfungsikan salah satunya dan menutup yang lain. Meski dengan resiko tiap bulan harus membersihkan riba yang muncul darinya.

Ditulis di Ruang American Corner

Lantai IV Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta, 11 Juni 2014

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

6 thoughts on “Ketika Harus Berurusan dengan Bank (Mandiri & Mu’amalat)

  1. ‘afwan saya juga merupakan salahsatu penerima bidik misi, saya agak kurang paham tapi krn tulisan ini saya jadi tahu bahwa di rekening bidikmisi juga ada bunga nya, saya kira selama ini tidak ada bunga, mengingat saldo atm tak pernah bertambah…

    mohon dijelaskan sekali lagi bagaimana caranya saya membersihkan uang riba tersebut… jazaakallaah khair

    • boleh jadi beda-beda mekanismenya mbak, tergantung bank apanya. Karena boleh jadi setiap Univ kerjasama dg Bank yang beda-beda mungkin ya ?
      coba datang ke CS, ntar tanyain apakah ada bunganya atau tidak. Sambil bawa buku rekening tentunya
      kalau ada, minta dicetakin rekening koran.
      baru dihitung bunganya dari sana

  2. Maaf OOT.
    Agan ktp nya jogja atau bukan? Soalnya setahu saya kalau mau buka rekening itu harus yg satu kab/kota. Atau khusus mahasiswa bisa beda kota gitu? Thanks

    • khusus mahasiswa bisa gan. asal ada surat keterangan mahasiswa gitu. tapi kalau bank Muamalat engga gan. cuma nunjukin KTM doang.
      yang butuh surat setau ane cuma bank BNI syariah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s