Pesan Untuk Para Jilbabers/Hijabers : Jangan Mau Jadi Fantasi Seksual

no-old-facebook-profile-design
Tulisan saya kali ini mungkin akan berisi hal-hal yang sensitif. Sejujurnya butuh energi lebih untuk menuliskannya, karena sebenarnya saya tidak begitu suka untuk membahas topik ini. Menulis bahasan ini seperti sedang diperintahkan untuk meminum jus jengkol, atau seperti diperintahkan untuk melakukan hal yang tidak disukai lainnya. Antum mau ??

Akan tetapi hal ini rasa-rasanya perlu saya ungkap, yang harapan saya adalah memberikan kebermanfaatan. Ya, mudah-mudahan.

Sekitar satu pekan yang lalu, salah seorang teman baik saya akhirnya berkunjung lagi ke kediaman saya di dusun Karang Asem, Catur Tunggal. Seperti biasa jika kami bertemu, pembicaraan bisa menjadi sangat luas. Dan bahasan utama selalu bertemakan kehidupan. Sesekali juga membahas pernikahan, perkembangan penulisan skripsi kami berdua, teman-teman Prodi Pembangunan Wilayah 2010, bisnis, keluarga, atau sebuah media yang tengah ingin kami kembangkan. Selang berapa lama, saya lalu menyampaikan sebuah keluhan pada rekan saya tadi. Keluhan yang sebenarnya terdengar tidak seperti keluhan umumnya.

Saya mengeluhkan pada teman saya mengenai banyaknya preferensi atau kata-kata kunci yang tidak senonoh, berbau vulgar dan porno, saru dan sebagainya yang muncul dalam statistik pada blog saya. Padahal blog yang saya miliki jelas-jelas bukan blog “panas” lho. Ini sudah jelas!

Setelah saya perhatikan, ternyata preferensi semacam ini menjadi salah satu hits yang paling banyak digunakan oleh pengguna dunia maya ketik di google atau search engine lainnya yang kemudian mengarahkan ke blog saya. Dan tahukah anda seperti apa contoh preferensi yang saya maksud ? Silahkan lihat di sini

1

Statistik yang saya tampilkan di atas adalah istilah-istilah mesin pencari atau preferensi yang ada pada satu hari yang lalu. Kemudian berikut adalah preferensi yang muncul dalam satu pekan ini

2

Dalam waktu satu pekan saja, terdapat 7 kunjungan yang mengarah ke blog ini dengan preferensi yang bersifat saru. Pola yang tidak jauh berbeda juga bisa ditemukan dalam preferensi selama periode sebulan, triwulan, setahun dan sepanjang masa. Bahkan kata kunci semacam ini menjadi salah satu preferensi terbanyak yang ada dalam statistik blog yang saya punya, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut.

6

Inilah yang sempat saya keluhkan kepada teman saya yang berkunjung malam itu. Jika dianalisis dengan baik, dapat disimpulkan bahwa oknum-oknum yang menulis kata kunci semacam itu sedang mencari cerita (atau boleh jadi sebenarnya juga gambar) bersifat po*no yang berbau perempuan sholehah, perempuan baik-baik yang berjilbab syar’i, akhwat gitu.

Menyikapi pertanyaan saya, ia kemudian menjawab dengan sebuah argumen, bahwa deteriorasi moral dewasa ini sungguh sangat-sangat memprihatinkan.

Mohon maaf, bahwa sebagian kalangan menjadikan wanita-wanita berjilbab –terlepas apakah jilbab tersebut syar’i atau tidak – sebagai fantasi seksual mereka. Subhanalloh.

Itulah kenapa kemudian kata-kata kunci atau preferensi semacam ini bisa ditemukan pada dashboard sebagian blog atau situs yang sebenarnya sama sekali tidak berisikan konten yang bersifat saru.

Pada kesempatan yang lain, sebuah tulisan dari salah seorang penulis lainnya turut mengeluhkan hal ini, di mana sebagian kalangan menjadikan wanita-wanita berjilbab sebagai fantasi seksual mereka. Bisa dicek di sini

http://arimdayuchan.wordpress.com/2014/04/08/apa-itu-ikan-bagaimana-hubungannya-dengan-jilboobs/

(Demi Alloh saya hanya menyarankan antum maksimal untuk membuka link di atas. Saya berlepas diri di hadapan Alloh apabila antum nekat mengetik kata terakhir pada judul tulisan di atas di search engine atau situs apapun)

Akhirnya saya menemukan sebuah fakta dari sumber lain bahwa, sebagian orang memang memiliki kecenderungan untuk menjadikan wanita-wanita berjilbab sebagai fantasi seksual mereka.

Lalu bagaimana caranya ?

(Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak suka menuliskan hal ini namun rasa-rasanya tetap harus saya tuliskan)

Caranya adalah dengan menjadikan foto wanita-wanita muslimah berjilbab tersebut sebagai alat bantu fantasi seksual dalam (mohon maaf), mas**rbasi.

Menjijikkan bukan ?

Secara tidak sadar, wanita-wanita itu telah dizinahi tanpa ia sadari. Sebagian wanita pada masa kini, terlepas apakah ia berjilbab ataupun tidak, berjilbab syar’i ataupun tidak, tak jarang atau banyak sekali yang gemar mengunggah foto pribadinya ke dunia maya, seperti jejaring sosial facebook, twitter, instagram, dan sebagainya.

Foto-foto semacam inilah yang memungkinkan bagi mereka untuk digunakan sebagai alat untuk berfantasi seksual.

Salah mereka ?

Betul. Jika kita sedang main salah-salahan, jelas mereka salah. Akan tetapi tentu saja beban kesalahan tidak sepenuhnya diberikan kepada para lelaki hina tadi, karena wanita-wanita demikianlah yang memberikan kesempatan pada mereka.

Sebagian wanita dengan mudahnya berbangga-bangga diri, menarsiskan diri, menampilkan betapa indah cantik wajah dan tubuhnya lalu mengupload foto pribadinya begitu saja untuk dipamerkan di dunia maya. Padahal pada kenyataannya ia tidak tahu siapa saja yang melihat fotonya ? atau siapa saja yang mendownload fotonya ? atau siapa saja yang telah menjadikan dirinya sebagai fantasi seksual dan alat bantu untuk mas**rbasi ? boleh jadi ada belasan lelaki yang telah menyimpan fotonya di masing-masing gadget mereka ? sehingga boleh jadi tanpa sadar ia telah dizinahi berkali-kali oleh orang yang tidak ia ketahui siapa ? atau bahkan orang yang sebenarnya sangat biasa ia temui di kampus atau di sekolahnya ? atau bahkan teman dekatnya ? boleh jadi bahkan musuh yang ia benci ? padahal ia wanita baik-baik yang terhormat ! dan menjaga kehormatannya ! Bahkan, ia berjilbab ! Sebagian bahkan berjilbab syar’i yang menutup aurat dengan sempurna!

Maka dari itu, saya sangat menyarankan sekali kepada wanita-wanita yang ingin kehormatannya lebih terjaga, untuk tidak lagi bermudah-mudahan dalam mengunggah fotonya di dunia maya, atau membiarkan fotonya terlihat dengan mudah pada akun jejaring sosial miliknya. Karena sungguh, ia tidak tahu apa yang orang lain lakukan terhadap foto-foto yang biasa mereka unggah. Dan karena boleh jadi, anda sebenarnya sedang dizinahi (secara virtual) ketika sedang membaca tulisan ini.

Sumber front photo : http://www.dakwatuna.com/2011/03/10/11308/fenomena-akhwat-facebook-ers/

—————————————————–

Pojok Kamar Bercat Biru, Karang Asem, Yogyakarta Tercinta

16 May 2014, 16:38

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

3 thoughts on “Pesan Untuk Para Jilbabers/Hijabers : Jangan Mau Jadi Fantasi Seksual

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s