Setahun yang Lalu dan Hari Ini

tentang-langit-juga-rindu
Ada sebuah pola yang cukup menarik jika saya memperhatikan bagaimana pola pikir saya dan orang-orang yang berada di sekitar saya dalam setahun ini. Sederhananya, dapat saya simpulkan bahwa saya dan orang-orang di sekitar saya hari ini dan di hari yang sama setahun lalu adalah orang-orang yang sudah berbeda. Khususnya dalam cara berpikir dan sudut pandang.

Katakanlah, setahun yang lalu, saya dan sebagian rekan laki-laki di sekitar saya adalah orang-orang yang sedang dipenuhi dengan kegalauan. Tepatnya, galau ingin segera menikah – meskipun rekan saya  lainnya di kampus tidak menghendaki, maaf maksud saya tidak selayaknya- seorang lelaki untuk galau.

Segala daya dan upaya saya kerahkan setahun lalu untuk segera menikah muda. Entah apa yang mendasari saya ketika itu. Sepenuhnya ingin menyempurnakan setengah agama kah ? rasanya tidak juga. Ingin menjaga hati dan lebih tenang beribadah ? Mungkin ini yang lebih tepat, mengingat ketika itu besarnya fitnah yang saya rasakan.

Saya lalu mencoba menghubungi sebagian orang yang saya kenali untuk katakanlah, membantukan mencari jodoh. Akan tetapi upaya itu saya jalani pada akhirnya terasa agak setengah hati mengingat saya ketika itu dibenturkan dengan kegiatan kuliah lapangan dan kuliah kerja nyata yang cukup menguras waktu dan tenaga.

Pasca Ramadhan pun saya mencoba menghubungi seorang ustadz, yang lalu beliau menyarankan saya untuk menghubungi rekannya yang lain. Namun upaya ini juga tidak berjalan begitu lancar, hingga pada akhirnya suatu ketika keinginan untuk segera menikah muda memudar, dan harus saya pikirkan berulang-ulang.

Hari itu adalah Senin Ba’da Magribh, selepas kajian yang diisi oleh salah seorang Ustadz yang masih sangat muda, di sebuah masjid di sekitaran Pogung. Saya menyempatkan di untuk bertanya kepada beliau. Sebuah pertanyaan yang serta merta membuat saya rendah diri setelah mendengar jawaban yang beliau utarakan

“Ustadz, kenapa ya, teman-teman yang di sini, yang kita ketahui ilmunya lebih dalam, ibadahnya lebih kuat, lebih taat, akhlaknya sudah ma’ruf sangat mulia, bahkan sebagian besar di antara mereka berasal dari keluarga kaya raya, tampaknya tidak begitu tergesa-gesa untuk segera menikah? ”

Beliau lalu tersenyum dan segera menjawab

“Itu karena mereka sedang sangat menikmati mencari ilmu (syar’i). Ketahuilah bahwa orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk ilmu, ia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa, sehingga  tak sadar ia mengabaikan hal yang lain. Itulah kenapa, sebagian ulama yang kita ketahui, menikah di usia yang tidak muda, atau bahkan sebagian belum sempat menikah karena sibuknya menuntut ilmu  dan berdakwah hingga wafatnya”

Saya tersenyum kecut. Senyum yang jelas-jelas dipaksakan. Dalam hati saya merenung. Hina sekali rasanya.

Dibandingkan dengan saya, mereka lebih pantas untuk mensegerakan diri untuk menikah. Mereka InsyaAlloh sudah memahami ilmu syar’i jauh lebih banyak ketimbang apa yang saya pahami. Hafalannya, baik Al-Qur’an ataupun hadits sudah sangat banyak. Ibadah ? Wallohu a’lam. Akan tetapi rasa-rasanya jelas mereka lebih taat dibandingkan dengan saya. Bacaan Al-Qur’annya, jauh lebih fasih ketimbang bacaan saya. Mereka rata-rata terbiasa menjadi imam di Masjid sekitaran Pogung. Kemampuan bahasa Arab mereka, tidak diragukan. Sebagian besar bahkan menjadi mentor Bahasa Arab di sebuah Ma’had. Yang lain membuka kelas Bahasa Arab sendiri di bawah manajemen sendiri.  Akhlaknya, masya Alloh. Mereka meski masih muda, namun terbiasa berbicara dengan ilmu. Bukan ucapan kosong.

Pada kesempatan yang lain saya juga berjodoh untuk kembali bertemu dengan seorang rekan yang telah lama tidak bersua, di Pondok Pesanteren Islamic Center Bin Baz. Ia becerita pengalamannya pekan lalu, di mana beberapa jam sebelum nadzor (bertemu untuk saling melihat dengan calon istri), ia bertemu dengan salah seorang asatidz di Bogor yang mengajaknya untuk mencari ilmu terlebih dahulu.

Seketika itu pula hasratnya untuk menikah hilang. Satu jam setelahnya, ia hanya datang ke rumah sang perempuan untuk menyatakan pengunduran dirinya karena merasa saat ini lebih memprioritaskan ilmu ketimbang segera menikah.

Maka tidak heran jika sekitar sepekan yang lalu, salah seorang rekan saya yang lain, yang juga ingin segera menikah berkata

“Mas, setelah saya mulai ikut kajian, saya merasa rendah diri sekali. Rasanya saya tidak tahu diri sekali ingin segera menikah, padahal ilmu saya masih sangat rendah, sementara mereka yang ilmunya jauh lebih tinggi saja masih ingin menunda”

Hasrat ingin menikah mudanya segera hilang. Pun, dengan saya.

Kami berdua lalu sepakat. Sementara ini, ilmu lebih penting akhi…

—————————————————–

Maaf. . .

 

Bilik Kaca III Sebelah Timur

Perpustakaan UGM Lantai IV

Jumat, 16 Mei 2014

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s