Pendengar yang Baik ≠ “Tempat Sampah”

Menjadi Pendengar yang Baik

Siang ini setelah kelas tahsin, saya mengitari hampir 4 dusun yang ada di sekitaran kampus UGM hanya untuk mencari makan siang. Namun saya benar-benar tidak menemukan tempat makan yang cukup menarik. Indikator menariknya sederhana : masakannya enak, tidak terlalu pedas, dan tidak manis. Setidaknya ada 4 tempat makan favorit yang saya kunjungi dan semuanya tutup. Mungkin karena ini hari sabtu.

Akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk makan di warung terdekat saja, sebuah Warung Padang yang cukup populer, hanya 15 meter dari rumah (baca kos-kosan) saya. Ternyata pada jam itu pengunjungnya ramai sekali. Dari belasan pengunjung, ada dua orang pengunjung yang cukup menarik perhatian saya. Mereka sepertinya adalah teman akrab yang sedang berkesempatan makan bersama. Salah seorang dari mereka terus bercerita tanpa jeda. Dan satunya lagi hanya mendengarkan, hanya saja ia sudah tampak tidak tertarik lagi mendengarkan cerita lawan bicaranya.

Menjadi pendengar yang baik memang tidak mudah. Kita harus benar-benar rela menghabiskan waktu hanya untuk turut mendengarkan cerita mereka. Menjadi tempat berkeluh kesah, menjadi tempat sampah, dan bahkan bisa jadi pada akhirnya terlibat dalam masalah. Namun ketahuilah bahwa jumlah pendengar yang baik populasinya sangat sedikit di dunia. Ada banyak orang yang sangat pandai berbicara dengan bahasa-bahasa yang sungguh luar biasa, di muka umum, di mimbar-mimbar, atau sekedar di mulut sebuah megaphone dalam sebuah unjuk rasa. Akan tetapi ketika ia diminta untuk mendengarkan, ia justru kembali memotong.

telepon-kaleng

Saya pada awalnya tidak tau istilah “pendengar yang baik”. Sampai pada suatu malam sekitar dua tahun yang lalu, saya pulang ke rumah di kawasan Sendowo, sebelah selatan RS Sardjito UGM dengan wajah yang tampak kusut. Setidaknya begitu kata Mas Rich, tetangga saya yang baik hati. Ia lalu bertanya tentang masalah yang tengah saya hadapi, lalu meminta saya untuk bercerita lepas. Hingga akhirnya saya merasa lebih baik.

Hari-hari berikutnya pun menjadi seperti itu. Selepas pulang dari kampus dengan setumpuk kegiatan, ia akan selalu meluangkan watu untuk sekedar mendengarkan cerita saya. Dan ada kenyamanan di sana. Belakangan kemudian baru saya ketahui bahwa ia melakukannya –mendengarkan cerita saya- adalah karena menjadi pendengar ternyata sesutu yang menyenangkan. Hingga akhirnya sejak saat itu saya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik.

Di keluarga saya sendiri, setidaknya ada tiga anggota yang merupakan pendengar yang baik. Yakni ibu saya, Mbak saya, Aisyah dan terakhir, adik saya, Zahrah. Apakah itu memang naluri kewanitaan ? ah, saya rasa tidak. Pada kenyataannya wanitalah yang lebih banyak mengeluh dan butuh untuk didengarkan.

Salah satu hal yang saya pelajari dari menjadi seorang pendengar yang baik adalah, pada suatu ketika rekanmu bercerita hal yang sebenarnya telah pernah ia ceritakan. Maka jangan potong ceritanya dengan berkata :

“sebenarnya, kamu sudah pernah cerita itu”

Tapi biarkanlah ia bercerita. Dan tetaplah tunjukkan antusiasme sembari mendengarkan ceritanya. Mendengarkan dengan seksama, memberikan eskpresi dan mimik muka yang terpengaruh dengan cerita. Memperhatikan dengan detail juga bermanfaat untuk melatih empati. Setidaknya begitu. Tapi sayangnya ini bukanlah sesuatu hal yang bisa dibuat-dibuat. Antusiasme yang artificial hanya akan memburukkan suasana.

Jika kemudian ia bertanya

“Aku pernah cerita ini belum ?”

Akan sangat baik jika kita menjawabnya dengan berkata

“Sebenarnya sudah, tapi nggak apa-apa cerita lagi” atau “Sebenarnya sudah, tapi cerita lagi aja”

Namun kita bisa melihat situasi dan kondisi. Karena dalam keadaan tertentu bisa jadi lawan bicara akan menjadi tidak senang.

Menjadi pendengar yang baik tentunya sangat menyenangkan, karena itu adalah salah satu bentuk ekspresi kasih sayang. Namun kita juga harus paham dan mengetahui posisi. Apakah lawan bicara sebenarnya hanya ingin didengarkan ? atau ia sebenarnya juga menuntut sebuah solusi ? atau bahkan menginginkan kita terlibat dalam masalah? untuk yang terakhir, harus benar-benar hati-hati.

Di dalam buku berjudul “Women are from Venus and Men are from Mars” karya John D Grey PhD, dijelaskan bahwa salah satu penyebab buruknya hubungan rumah tangga sebuah keluarga, atau pasangan suami istri adalah sang suami tidak bisa menjadi pendengar yang baik untuk istrinya. Sang suami tidak bisa menunjukkan kepedulian dan rasa empati. Maka mari bersama-sama, selain belajar bagaimana menyampaikan bahasa dengan baik, ada baiknya pula kita belajar menjadi seorang pendengar yang baik.

Terakhir, saya hanya ingin mengutip ucapan dari salah seorang rekan saya dari Fakultas Biologi yang membuat saya sempat teringat untuk menuliskan hal ini

kenapa harus berebut untuk bercerita ? bukankah lebih menyenangkan jika bergantian satu bercerita dan yang lain mendengarkan? (Status Mbak Pipit Lankton, several weeks ago )

Ditulis kemarin siang, 12 April 2014.

Diselesaikan 13 April 2013, 14:41

Pojok Kamar Bercat Biru

Karang Asem, Catur Tunggal, Sleman

Yogyakarta Tercinta

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s