Perempuan-Perempuan PKS di Basement Bandara

Ada sebuah kalimat yang sangat terkenal dalam kelompok Ikhwanul Muslimin. Sebuah kelompok yang saya pegangi sejak menjadi ketua Rohaniah Islam di SMA sampai sebuah masa yang Alloh tentukan selama satu tahun setengah di kampus Gadjah Mada. kalimat ini terdengar sangat ampuh untuk memotivasi kader-kader Ikhwanul Muslimin untuk terus “berjuang” dalam perspektif mereka. Kalimat itu berbunyi kira-kira begini

“dakwah itu adalah sebuah keniscayaan. Ada atau tidaknya kita di dalamnya, ia tetap akan berjalan. Ia ibarat lokomotif. Tinggal kita mau berada di mana, menyertainya atau tertinggal”

Dalam kesempatan yang lain, kata “dakwah” dalam kalimat di atas bisa juga diganti dengan kata “perjuangan, atau pergerakan” oleh aktivis kampus baik yang berada di dalam Lembaga Dakwah Kampus, di Lembaga lain seperti BEM atau Himpunan Mahasiswa Jurusan, dan terutama di lembaga atau organisasi pergerakan kampus yang paling terkenal, KAMMI.

Kalimat di ataslah yang mejadi salah satu penyebab kenapa begitu banyak rekan-rekan Ikhwanul Miuslimin yang totalitas dalam bekerja. Totalitas dalam “berdakwah”, kata mereka. Namun totalitas dalam berdakwah ini tidak disertai dengan ilmu yang memadai sehingga pada akhirnya bermudah-mudahan dalam menabrak syariat yang seharusnya mereka junjung tinggi. Mungkin kisah ini bisa menjadi salah satu contoh dari apa yang saya maksudkan.

Beberapa pekan lalu ketika saya tengah dalam perjalanan menuju rumah ibu di Batam, saya berpapasan dengan 3 orang akhwat Ikhwanul Muslimin yang sedang berdiri sambil menyebarkan pamflet di basement Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Pamflet yang mereka sebarkan adalah berisikan promo dan kampanye PKS serta sejumlah pin yang merupakan ajakan untuk memberikan dukungan terhadap PKS.

Adisucipto-600x400

Foto Salah Satu Sudut di Bandara

Dari jauh, ketiga akhwat tersebut sudah melihat saya dengan wajah malu-malu. Saya memahami alasan kenapa mereka tampak malu-malu yang kemungkinan besar disebabkan karena ketika itu saya sedang memakai jaket FORSALAMM UGM, sebuah organisasi dakwah kampus yang memang salah satu tugasnya adalah menguatkan akar-akar dakwah PKS di kalangan mahasiswa. Tugas ini tentunya tidak tertulis dalam AD ART lembaga. Akan tetapi telah terbentuk sebuah sistem yang dipahami tanpa kesepakatan tertulis.

Sebagai kader PKS, mereka bertiga pastinya mengenal baik jaket yang saya gunakan ketika itu. Saya hampir berlalu beberapa langkah hingga akhirnya salah satu dari mereka –masih dengan wajah malu-malu – menghampiri saya dan memberikan pamflet yang mereka edarkan. Saya lalu mengambilnya dengan sedikit membungkukkan badan dan sedikit tersenyum. Salah satu akhwat yang lain lalu berani menawarkan kepada saya sebuah PIN kampanye PKS. Namun saya menolak sambil membungkukkan badan untuk kedua kalinya, lalu berlalu segera menuju gerbang keberangkatan. Dalam hati saya tertegun.

Sayang sekali, tiga orang wanita baik-baik, yang menggunakan hijab dengan baik harus berdiri di tengah keramaian bandara, berikhtilat (campur baur), tanpa mahrom, dan menawarkan pamflet kepada orang-orang bebas di sana. Menawarkan senyum cantik mereka yang seharusnya bernilai mahal dengan gratis kepada mereka yang tidak halal, atau suara-suara yang dilembutkan agar terdengar ramah dan menyenangkan untuk meraih simpati. Ah, betapa malangnya engkau.

Ini hanyalah salah satu bentuk hal yang tidak lagi saya sepakati dalam Ikhwanul Muslimin, yakni bermudah-mudahan dalam berikhtilat (walaupun juga saya sendiri tidak bisa total meninggalkannya sepenuhnya), seperti ketika berkampanye atau dalam sebuah aksi, pun dalam rapat. Termasuk pula dalam kegiatan kampanye akbar yang baru-baru ini dilakukan di Gelora Bung Karno Jakarta. Padahal dampak dari ikhtilat sangat besar. Maka tidak heran ketika saya pada akhirnya menemukan salah seorang di beranda facebook saya, seorang ikhwan yang memiliki tujuan lain dalam niatnya berangkat ke GBK, yang tentunya “tidak perlu saya jelaskan” .

Ketidaksetujuan saya sebenarnya masih banyak, seperti sekitar setahun lalu kampanye pemilihan Gubernur Jawa Barat, sebagian simpatisan ber “gangnam style” di depan umum. Yang paling tampak menyedihkan adalah salah satu dari dua foto yang beredar (yang saya lihat) adalah sejumlah akhwat tampak dengan riang tengah ber “gangnam style”. What ?? hati saya entah kenapa rasanya sakit sekali ketika melihat foto itu. Apalagi jika membayangkan yang ber “gangnam style” adalah adik atau mbak saya, atau calon ibu dari anak-ana saya nantinya ( ^_^ v ).

Jauh di dalam hati sebenarnya saya masih ingin memberikan pembelaan kepada mereka, yakni rekan-rekan dalam Ikhwanul Muslimin. Karena mereka adalah orang-orang yang menurut saya sholat ketika kebanyakan orang lain tidak sholat. Mereka adalah orang-orang yang membaca Al-Qur’an ketika kebanyakan manusia tidak membaca Al-Qur’an. Mereka adalah orang-orang yang sholat malam ketika kebanyakan orang tidak sholat malam. Sehingga jika mereka tidak melakukan penyimpangan dalam aqidah, mudah-mudahan Alloh akan mengampuni dosa-dosa mereka sebab ketaatan tersebut.

Namun dalam diskusi semalam, saya menjadi agak ragu setelah mendapat sentilan yang saya rasa ada benarnya juga. Sentilan itu hanya berupa satu kalimat

“bukankah kita mengenal orang-orang khawarij sangat ketat dan ahli ibadah ? ibadah mereka, sholat mereka, baca Al-Qur’an mereka, jauh lebih banyak ketimbang kita-kita semua namun mereka tetap dinilai menyimpang dan harus meninggalkan mereka karena banyaknya mereka dalam menyelishi ahlusunnah ?”

Dalam kesempatan diskusi semalam, salah seorang rekan saya juga bercerita,

Pada suatu ketika Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahullohu ta’ala mendatangi sebuah majelis orang-orang sufi yang biasa diadakan di rumah salah seorang sahabatnya. Setelah selesainya majelis, apakah yang terjadi ? ternyata Imam Ahmad menangis. Sungguh beliau menangis karena betapa ia tersentuh hatinya ketika dibacakan bait-bait, syair-syair indah karangan orang sufi. Namun betapapun hatinya tersentuh, ia tetap memerintahkan sahabatnya untuk meninggalkan orang-orang sufi. Karena mereka telah menyimpang, memilah-memilah syariat sesuai dengan hawa nafsu mereka. Sehingga hanya mengambil dan menerima sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain.

Kembali. Jauh di dalam hati saya, ada secercah harapan dan doa yang saya sematkan kepada rekan-rekan baik hati yang masih di sana. Semoga Alloh memberikan hidayah dan taufiq, dan ilmu yang haq, yang akan menyelamatkan kita di hari ketika tidak ada perlindungan selain-Nya, hingga kita bisa bersama-sama menuju Surga. Bukankah kita merindukan hal yang sama ?

———————–

 

 

Pojok Kamar Bercat Biru

Ahad, 13 April 2014 , 06:02 

Karang Asem, Caturtunggal, Sleman.

Yogyakarta Tercinta

Ahmad Muhaimin Alfarisy

———————————————————————————————————————————————————-

Permohonan Maaf

Bahwa banyaknya artikel ini dibaca pada pekan lalu membuat saya agak sedikit khawatir sekiranya pihak yang saya ceritakan dalam artikel ini telah membacanya dan menjadi tersinggung. Dengan sepenuh hati saya ucapkan permohonan maaf. Tidak ada maksud saya untuk memburuk-burukkan pihak yang saya ceritakan. Justru saya menuliskannya karena saya mencintai kalian, mencintai segenap kaum muslimin seutuhnya. Seluruhnya. Semoga Alloh berikan hidayah dan taufiq kepada kita semua. Aamiin.

Lantai III  Fakultas Teknologi Pertanian UGM

28 April 2014

16:18

Alfarisy

—————————–

Advertisements

45 thoughts on “Perempuan-Perempuan PKS di Basement Bandara

  1. maksudnya apa antum petik ini
    “bukankah orang-orang khawarij itu, ibadah mereka, sholat mereka, baca Al-Qur’an mereka, jauh lebih banyak ketimbang kita-kita semua namun mereka tetap dinilai menyimpang dan harus meninggalkan mereka ?”
    aah dengan mudahnya menuduh harokah lain khawarij

    • ‘afwan mas Anang. Jika mas anang baca baik-baik, maka jelas bahwa pada tulisan di atas saya tidak mengatakan bahwa harokah yang saya jelaskan di tulisan saya di atas sebagai khawarij.
      mohon dipahami ulang.
      barakallahu fiikum

      • sebenarnya itu kesalahan dalam penulisan. ada kata yang tidak perlu di dalam kalimat di atas yang ternyata berakibat fatal.
        penjelasan panjangnya begini : kalau hanya indikator ibadah saja, seperti sholatnya, baca Al-Qur’annya, puasanya, dan semua ibadah mahdah, tidak ada yang mengalahi orang2 khawarij. bahkan dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tampak pucat wajahnya dan hitam dahinya karena banyaknya ibadah mereka, hidupnya malam-malam mereka. Akan tetapi karena banyaknya penyimpangan dalam khawarij yang menyelisihi ahlusunah, maka mereka harus ditinggalkan.
        Maka jika Khawarij yang sedemikian itu saja ibadahnya namun menyelisihi ahlusunnah tetap harus ditinggalkan, apalagi yang lain.

    • Boleh saya sedikit menyanggah mas Anang?
      Mungkin mas Anang ada sedikit kesalahan dalam memahami. Memiliki kesamaan dalam satu sisi bukan berarti sama dalam hakikatnya.

      Misalkan begini. Mengapa Allah memberikan sifat kepada Nashrani sebagai umat yang tersesat? Karena mereka beramal tanpa ilmu. Nah, apabila ada kaum muslimin yang beramal tanpa ilmu apakah dia otomatis jadi Nashrani? Tentu tidak, tapi dua-duanya memiliki satu kesamaan, yaitu beramal tanpa ilmu.

      Begitu juga Allah memberikan sifat kepada Yahudi sebagai umat yang dimurkai karena mereka memiliki ilmu namun tidak mengamalkan. Apakah lantas orang yang sudah memiliki ilmu agama dia enggan melaksanakannya otomatis dia menjadi Yahudi? Tentu tidak, tapi dua-duanya memiliki satu kesamaan, yaitu enggan mengamalkan ilmunya.

      Nah, analogi seperti inilah yang digunakan oleh mas Ahmad Muhaimin Al-Farisy. Memiliki kesamaan dalam satu sisi bukan berarti sama dalam hakikatnya.

      ===

      Buat mas Ahmad Muhaimin Al-Farisy, saya juga izin nampilin link blog saya nggih, http://www.ashfiya.com

  2. Kalau anda seorang kader yang kecewa dan benci sama PKS maka sebaiknya anda jangan keluar dari PKS. Berada dalam PKS insya Allah lebih baik daripada karena kebencian dan kemarahan anda keluar. Karena anda akan jadi santapan makanan kaum takfiri yang bergentayangan di mana-mana.
    Saya sudah menyaksikan. Tak sedikit mantan PKS yang keluar karena benci dan marah pada akhirnya menganut paham takfiri/khawarij. Kebencian dan kemarahan tersebut menjerumuskannya untuk mencari paham dan gerakan yang bisa dijadikan amunisi untuk mengkritik, menghujat, dan bahkan menyerang pandangan-pandangan yang dianut PKS. Mereka berpindah dari NII sampai pada akhirnya menjadi pengikut Aman Abdurrahman. Saya juga mendengar dengan jalur yang shahih sebagian mantan itu mengkafirkan PKS, hammas, AKP, Mursi, Ismail Haniyyah, dan semua orang yang berjuang melalui parlemen. Saya juga lihat bahwa ketika sebagian mereka membangun sebuah gerakan maka gerakan itu lebih buruk dari PKS. Ah, lebih baik anda tetap dalam PKS saja daripada anda menjadi takfiri.
    Saya tidak memungkiri bahwa PKS telah menjadi beban yang berat dalam sejarah dakwah di Indonesia. Tetapi harus diingat betul-betul bahwa kesalahan-kesalahan PKS tidak boleh ditimpakan kepada Al-Ikhwaan Al-Muslimiin. Antara Al-Ikhwaan Al-Muslimiin dengan PKS memiliki perbedaan-perbedaan. Al-Ikhwaan Al-Muslimiin punya proyek besar untuk mewujudkan masyruu’ Islaamiy dan masyruu’ hadhaariy sedang proyek PKS semua diarahkan untuk memenangkan pemilihan anggota parlemen. Itupun setelah terpilih tak mampu mewujudkan klausal-klausal yang difatwakan ulama-ulama Islam yang dengannya boleh masuk dalam parlemen.
    Kedepan harus ada gerakan alternatif selain PKS. Sebuah gerakan yang mengusung masyruu’ Islaamiy dan masyruu’ hadhaariy secara total dan konsisten. Gerakan yang tidak tergoda dengan kepentingan-kepentingan prgmatis. Gerakan yang bisa mentarbiyyah umat dalam mustawa zaman dan diproyeksikan untuk bisa memikul taklif-taklif Robbaniy yang agung. Gerakan itu haruslah gerakan yang mengaplikasikan paradigma Al-Ikhwaan Al-Muslimiin dan dengan mengambil pilihan-pilihan rajih yang diijtihadkan para ideolog dan fuqaha dakwah di dalamnya. Bila dijalankan secara betul dan konsisten maka masyruu’ Islaamiy dan masyruu’ hadhaariy bisa menjadi sebuah kenyataan..

    • Jazakallahu khairan mas sudah menasehati saya.
      Pertama, bahwa saya tidak keluar dari PKS karena marah. Melainkan karena menemukan ada banyak penyimpangan dan perselisihan terhadap manhaj yang haq. Terhadap ahlusunnah.
      Hingga saat ini saya tetap menghormati pembina-pembina saya dulunya yang hingga hari ini masih di dalam manhaj ikhwanul muslimin.

      InsyaAlloh saya akan tetap berada dalam manhaj salaf, manhaj ahlusunnah. Dan mudah-mudahan Alloh tetap menjaga saya di dalam manhaj ini.

      semoga Alloh memberikan hidayah dan taufiq kepada saya dan antum, dan semua orang yang merindukan wajah Alloh… aamiin

  3. Sy memahami perasaan dan jln fikir antm, sy kira kita memiliki byk kesamaan dlm hal itu. Smoga bs mengenal lbh jauh dng antum akhi….

  4. spechleess..

    *akhawat PKS*

    JazaakaLlah Ahsanul Jazaa.

    sejatinya itu nasehat bagi kami.

    dan tentunya, kami merindukan nasehat-nasehat seperti ini.
    yang mengingatkan kami untuk berada dalam kebenaran.

    • assalamualaikum warahmatulloh wabarakatuh…

      sama2.. semoga Alloh berikan hidayah dan taufik kepada mbak

  5. Sejujurnya agak aneh ane melihat kenyinyiran mas ahmad melihat para akhwat yang sedang kampanye PKS di bandara. Bagaimana tidak aneh. Anda menilai mereka negatif dengan ikhtilath di bandara tapi anda pun mengakui diri anda pun berikhtilat. Aneh. Klo kata temen ane mah, “Gila lu ndro.”

    Jujur aj mas, klo anda sudah bercermin klo anda pun ikhtilath, ngapain menilai mereka para akhwat itu. Gak malu antum menilai-nilai orang lain tp antum sendiri ternyata melakukannya.

    Akan ane tanyain pula, bagaimana ribuan mahasiswi UGM luar wilayah yg kuliah di sana. Apa antum akan kenakan dalil tanpa mahrom pula?

    Oiy, klo antum dan teman2 antum mungkin bangga mengatakan sebagai ‘mantan ngaji tarbiyah”. Sekaligus menjawab gugatan antum klo orang2 tarbiyah itu gak faham agama.

    Ana cuma ingin bilang, ana dulunya belajar di ma’ had salafiy, bukan satu ma’had saja. Ana juga ngaji dari berbagai masyayeikh. Dan ana memilih jama’ah tarbiyah dengan ilmu pula. Terlpas dari segala kekurangan jam’ah dakwah. Buat ana justru jama’ah tarbiyah itulah yang bermanhaj ahlu sunnah waljama’ah ataw manhaj salaf. Ini hasil kesimpulan jaulah ana keliling ma’had dan syeikh. Dan mengamati berbagai harokah dan firqoh dakwah.

    Kita semua punya pilihan hidup. Antum dan teman2 punya hak mengklaim “paling” manhaj salafiy/ahlu sunnah. Ane pun sebaliknya punya hak mengklaim bahwa jama’ah tarbiyahlah yg paling “salaf” dan paling ahlu sunnah.

    Iya, buat ana “penafsiran” (konsep) islam jama’ah tarbiyah lebih kaa’fah dibanding “gerakan2” dakwah yg lain. Tentu saja, terlepas dari kesalahan yg diperbuat manusianya. Wallohu’alam..

    • 1. Telah saya jelaskan sebelumnya bahwa “saya tidak bisa total meninggalkan sepenuhnya” . Maksud saya sebenarnya sudah tersirat jelas bahwa saya sudah berusaha meninggalkannya walau pada kenyataan adalah tidak mungkin untuk benar2 meninggalkan sepenuhnya. Karena kampus , pasar, stasiun, dan bandara adalah tempat keramaian yang tidak bisa untuk tidak terlibat di dalamnya. Yang saya lakukan adalah sebuah upaya meminimalisir, Sekiranyapun harus berikhtilat, adalah dengan alasan yang bisa diterima oleh syari’at.

      2. Semoga Alloh berikan antum hidayah.untuk kembali ke jalan yang haq.

      jazakallahu khairan sudah berkunjung.

  6. Ha ha, yg satu bilang dirinya (dan media aktivitas dakwahnya) paling benar, yg satu lagi menyanggahnya dan mengklaim justru dirinya lah yg paling benar.

    Monggo dilanjut kawan-kawan perselisihannya toh hanya Alloh SWT yg akan memutuskan siapa yg benar diantara kalian nanti di Hari Pembalasan

    Hanya usul jgn smpai jd dendam dan gontok2an lah nanti yg paling untung oknum oknum non muslim loh he he

    Maaf kl ada salah kata, daku hnya numpang lewat mau belajar dan mengambil yg baik dan meninggalkan yg kurang baik ho ho ho

    Oh ya meski miris jg ya sesama penyembah Alloh SWT dan kitabnya Al Quran dr nabi yg sama pula tdk pernah bisa saling menerima. Daku dulu pernah ikut pengajian / tarbiyah / pergerakan (apapun namanya bagi saudara-saudara sekalian…). Faktanya begitu daku tdk aktif lg didalamnya, sahabat-sahabatku yg msh aktif kok sepertinya jijik ya denganku? Bahkan salam sj dijawab seperti menjawab salam pd non muslim ck ck ck fakta lho

    Okey lah sekian dulu guratan sy diblog Mas jk tdk berkenan mhn dimaafkan hnya buah kerinduan dr melihat kerukunan dr orang2 yg sama2 menyembah Alloh SWT tanpa bawa2 kelompoknya.

    =)

  7. Masyaa allah akh jd makin bingung ama perkembangan harokah. Jujur aku ikut liqo dan aktif dalam dakwah kampus, memang terlihat sekali mereka para kader dakwah sekaligus anak kader PKS kayaknya begitu sinis kalo urusan fiqrah dgn harakah yg lain. Tapi ibadah mrk insyaa allah bagus kok

    • Makasih Mbak Fauziyah.
      Betul
      Tidak saya katakan bahwa ibadah mereka tidak baik.

      Semoga Alloh berikan hidayah wat-taufiq untuk kita semua

  8. Setelah sekian lama menimbang dan istikharah, saya memutuskan utk tetap bertarbiyah.. tp apa yg mas ahmad jelaskan terkait fenomena akhwat2 tarbiyah diatas sungguh sangat saya setujui. Terima kasih atas nasihatnya. Doakan semoga saudara2 di tarbiyah bisa menjadi lebih baik lagi.aamiin

  9. Saya suka semua dgn artikel yg akhi buat, saya rasa smua tulisan dlm artikel ini tdk ada yg menyinggung, smua kenyataan koq krn saya jg telah lewati dlu sblm mengenal manhaj salaf ini…

    Barokallohu fiikum…

  10. Terimakasih akh,sepertinya artikel ini ditulis dengan hati hati sekali,sy kira kalo dibaca dgn hati terbuka jg tdk ada masalah (it’s ok)
    sy sepakat dg antum..sedikit curhat sy sering lht bahkan pernah satu atau dua kali ikut didalamnya,dengan alasan berdakwah,membangun opini umum.,,barisan akhwat dengan jilbab dan khimar yg panjang berjalan ditengah kota dengan membawa spanduk dan bendera tak jarang pula mengeraskan suara meski itu suara takbir,tp ah…rasanya sy kurang setuju dengan cara seperti itu.

  11. bener banget apa yg antum sampaikan. sebenarnya bukan hanya gangnam style, wktu demo pun kami para akhwat teriak2 bahkan loncat2.
    wktu demo pun jadi biasa senggol bhkan lbh parah dr itu antra akhwt & ikhwan.

    sy bisa bcr krna sy ngalami sendiri, brthn2 jd aktivis

    tapi y gimana lg, kebebasan wanita adalah seperti buku wajib,

    tanpa kami sadari feminisme mnjd kental disini
    awalnya hy utk ‘meperjuangkan hak2 wanita’ agar g trkungkung di rumah saja

    namun kami justru sprti dieksploitasi

    yg lbh parah skrg para ummahat pks, banyak rela meninggalkan anak2ny, suaminya utk kuliah lagi di luar ngri,,

    sy makin bingung jama’ah apa ini….

    belum lagi pada ke bioskop ktny utk meramaikn tontonan islami…

    sy ingin keluar dr jama’ah ini

  12. ohhh.. solusinya gampang aja. klo ga mau akhwatnya yg keluar.. kalian donk para laki2 yg keluar. simple right? ? kami merindukan kenyamanan di negeri sendiri. bayangkan ngr kt yg katanya mayoritas org mualim, tp lihatlah para pemimpinnya, brp bnyk org liberal disana? dll. . ah ya.. baru2 ini syiah jg makin merapat bukan? sepertinya halnya sebuah koin. semua punya dua sisi. tdk ada yg sempurna. setidaknya… ada org2 yg msh perduli dg kondisi ngr ini. liatlah sisi baiknya. jgn membuat opini yg memancing perdebatan sprti ini. sy tau mksdn kmu mungkin tdk bgt. tp..sekali lagi..jk laki2 sdh bnyk d luar sana..maka wanita ckp d rmh sja bukan? ?? so… lain kali bantu kalo pks kampanye. 😉

  13. Hati hati dengan lisan dan tulisan anda. Kue yang manis jika dilempar kemuka dan dilihat semua orang hilang rasa manisnya. Semoga pengajian yang anda ikuti mengajarkan adab yang benar juga.

  14. Assalamualikum,
    Dalam masa hidup saya sampai saat ini, saya berisisan dengan gerakan tarbiyah ini. Pada masa SMA, saya mengikuti liqo, tetapi tidak tuntas karena murobbi nya pindah mengikuti suami.
    Saat ini, saya baru saja menemukan yg biasa orang sebut salafy, padahal sebenarnya ya ahlu sunnah wal jamaah saja. Yang saya terima, mungkin sangat ketat untuk urusan halal haram, sehingga banyak orang yang ‘alergi’ untuk mengikuti kajiannya.
    Saya ngikutin kajiannya via youtube sih dateng langsung jika daerahnya terjangkau.
    Saya sependapat dengan penulis ini, bahwa ihktilat bagaimanapun tetap salah, mungkin fokus saja memperbaiki di titik itu. Teknisnya, mereka saya rasa jago kok mengkondisikan.
    Kebaikan itu kan harus sesuai kebenaran, menurut Islam tentunya. Karena banyak juga keburukan yang dikemas seolah merupakan kebaikan. Terima kasih.
    #imho
    #ntms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s