Pinogu, Bumi Kenangan dan Secercah Harapan

Siang ini, selepas Sholat Jum’at aku kembali menyambangi perpustakaan UGM lantai 4 untuk melanjutkan penulisan skripsiku yang bertemakan nelayan. Tidak seperti biasanya, hari ini koneksi internet di lantai 4 cukup baik. Sebelum membaca draft skripsi yang akan aku tulis, seperti biasa, aku menyempatkan diri untuk membuka laman facebook sekedar melihat notifikasi, atau perkembangan berita terakhir, atau hanya sekedar inspirasi.

1150859_10200594781615519_2042739647_n

Ternyata ada beberapa notifikasi, berasal dari sebuah foto yang aku ditandai di dalamnya. Sebuah foto yang penuh kenangan. Foto yang dibuat di sebuah pagi, setelah pelaksanaan Upacara Bendera Hari Proklamasi 2013 lalu. Sebuah foto yang serta merta menerbangkan kenanganku tentang indahnya bumi Pinogu. Sebuah kenangan selama lebih dari 50 hari di sana. Di sebuah desa terpencil, di tengah hutan yang tak semua orang tahu, atau sekedar mau tahu.

———

Pagi itu, di sebuah MCK milik kecamatan yang belum genap 2 bulan selesai dibangun. Baru pukul 8 pagi, kakiku masih menyimpan rasa keram yang luar biasa, selepas perjalanan membelah hutan selama 15 jam. Hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Bone Bolango Gorontalo, menuju lokasi KKN kami di bumi Pinogu, sebuah kecamatan terpencil dan nyaris terisolasi. Ada sedikit perasaan sebal, dan banyak perasaan tidak nyaman setelah sampai di Pinogu kala itu. Memasuki dunia tanpa teknologi, tanpa listrik yang memadai, tanpa sinyal dan tanpa kenyamanan yang bisa ditemui di bumi Sultan – Yogyakarta, atau bumi Melayu Modern- Rumah ibu, di Batam.

“Mas Abay, aku sudah ga akan mau ke sini lagi, lepas KKN ini” Ceritaku, pada salah seorang rekan KKN dari fakultas Biologi.

“Kenapa e fa’ ?” tanyanya.

“Capek mas, hari pertama saja aku sudah ndak tahan”

Kira-kira begitu keluhanku pada Mas Abay, rekanku yang sudah tiga kali menginjakkan kaki di sana, ketika pertama kali tiba di Pinogu hari itu. Keluhanku berlanjut ketika hari-hari KKN memasuki hari ke dua dan ketiga. Air minum di lokasi menginap sementara kami hari itu berkualitas sangat buruk. Tidak jernih, berpartikel, dan agak berbau. Ditambah lagi dengan lidah ku dan sebagian besar lidah kami yang tidak cocok dengan masakan pertama yang terhidang di sana. Aku lupa namanya. Namun ia berbentuk seperti kue nagasari di pulau Jawa. Namun rasanya, jangan ditanya. Kurang lebih isinya adalah : pisang mentah yang dihaluskan, tepung, jeroan, dan bumbu perasa yang terasa aneh dan berbau anyir. Bayangkan sendiri rasanya.

Butuh waktu satu minggu untukku beradaptasi dan menyamankan diri. Untunglah Allooh berkenan memberikan kedamaian pada hatiku setelah memasuki hari ke 7. Dan yang timbul kemudian adalah rasa cinta, haru, dan kedamaian.

Siang ini, aku kembali melihat wajah-wajah mereka. Wajah-wajah sederhana yang mengharapkan sentuhan dunia luar dengan lembut, yang akan membangun peradaban bumi Pinogu dengan tanpa merusak tatanan indah desa tengah hutan yang alami, atau tatanan sosial. Banyak diantara mereka yang tak pernah mengenal dunia luar selain Pinogu, atau selain Gorontalo.

Suatu ketika, aku bertanya pada Tuan rumah pemilik rumah tinggal kami. Nama beliau adalah Pak Marjan Datu. Datu adalah  marganya.

“Pak, kenapa bapak… baik sekali terhadap kami ber enam yang tinggal di rumah bapak ?” Rumah tinggal kami memang dikenal adalah yang paling sejahtera, dan paling baik tuan rumahnya jika dibandingkan dengan rumah tinggal atau homestay sub unit lain.

Beliau lalu menjawab

“Karena saya tahu, kemungkinan besar saya tidak akan bertemu kalian lagi. mungkin hanya kali ini saya bisa ketemu mas Alfa dan teman-teman. Karena itu, saya ingin didik anak saya, Fajrin, supaya bisa sekolah, dan boleh jadi nanti bisa ketemu mas alfa dan teman-teman, di Jawa”

Pembicaraan siang itu berlangsung dengan sederhana. Hanya antara aku dan beliau, Pak Marjan itu. Ia sengaja terjaga dari tidur siang kami yang semuanya tengah kelelahan setelah sebuah kegiatan. Untuk menjaga barang-barang kami, katanya.

Ada banyak kabar berita yang datang kepada kami setelah kepulangan KKN agustus lalu. Seperti selesainya pembangunan jembatan penghubung di Poholongo – sebuah titik 20 KM dari kota dan 10 KM dari Pinogu- , permasalahan di tingkat pemerintah kecamatan Pinogu, satu atau dua orang warga yang meninggal dunia, hingga anak-anak TPA yang sudah tidak mau lagi mengaji karena kami telah pulang.

Apapun kondisi yang sedang terjadi di sana, ada secercah harapan dan doa yang tetap aku sematkan untuk mereka. Semoga Allooh memberikan kebaikan pada mereka, mengenalkan ilmu yang haq, memperbaiki kualitas kehidupan dan penghidupan mereka, dan semoga Allooh membalas jasa-jasa baik mereka. Semua…

Pojok Kamar Bercat Biru

Dusun Karang Asem, Desa Caturtunggal, Sleman

Kota Yogyakarta Tercinta

11 April 2014,  15:52

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s