Cerpen : Sayap-sayap Mimpi

Oleh

Badrun Mahera Agung

(108)Malam terasa mengerikan. Aku berjalan cepat-cepat melintasi jalan kampus yang mulai senyap, sendirian. Napasku yang menggumpal tampak melayang sesaat, kemudian menguap di udara yang mulai dingin. Angin yang menyerbu tampaknya terlalu beku sehingga aku gemetar meskipun jaket Rohis SALAM yang kupakai terlampau tebal. Hanya lantunan Asmaul Husna dengan merdu berkumandang dari headset yang menempel di telingaku, membuatku sedikit tenang walau kegelapan di sekelilingku tampak menyeringai menunjukkan taring.

Aku menengadah ragu, cemas. Langit tetap sehitam jelaga sejak aku meninggalkan kampus lima jam lalu, seakan ia hendak menangis. Tak satupun bintang berani menampakkan dirinya. Bulan purnama berusaha mempersembahkan cahaya terbaiknya meskipun sekawanan awan gelap membingkai tepinya, pemandangan yang fantastik namun menggentarkan.

 

Malam ini aku pulang tergesa-gesa, persis malam-malam sebelumnya yang melelahkan dan menyisakan milyaran tugas kuliah. Beban berton-ton menggelayuti pikirku. Dalam sekejap, secepat perpindahan foton, perasaanku terhadap kota ini berjungkir 1800. Kulirik sejenak bangunan besar berkubah di ujung sana, tampak mengesankan karena setiap sisi tersamarkan kegelapan. Temanku yang lain mungkin sedang shalat Isya berjamaah di sana, setelah menuntaskan tugas kelompok, tapi aku berpaling, tak tertarik. Boleh saja semua orang di dunia menganggapku aneh, tapi ada beberapa alasan logis sehingga aku tidak pernah lagi shalat berjamaah di tempat itu.

Hal pertama yang selalu sukses membuatku merasa terasing di antara spesies-spesies rohani ini adalah, mazhab yang mereka anut berseberangan dengan keyakinanku. Di dunia nyata, aku selalu menghargai perbedaan dan aku bukanlah seorang yang gemar memilah-milah golongan. Perbedaan itu wajar, asalkan tidak keterlaluan, dan seharusnya ini bukan masalah besar jika saja mereka tidak memaksaku terjerumus dalam ritual miring mereka. Mereka kerap memaksaku begini dan begitu. Betapa tidak, tatacara Shalat yang mereka amalkan aneh. Bacaan Al-Quran banyak yang salah, tak sesuai panjang pendeknya, atau tasydid yang tidak pada tempatnya. Ada beberapa orang yang bacaannya lebih bagus tapi lebih memilih jadi makmum. Jadi jika bacaan si imam salah mereka pun asal ikut saja, tanpa sedikitpun memberi teguran.

Palestinian_FreedomFighter_by_StiflerAssassinKini aku terjebak di sini. Ada semacam pertempuran dalam kepalaku, dentuman-dentuman yang memaksaku untuk sadar bahwa ada yang tidak beres dengan orang-orang ini. Perasaan kesal tak tertahankan yang kupendam bagaikan gunung berapi yang siap memuntahkan magmanya. Trilyunan nasihat yang kuluncurkan ke jantung mereka tak pernah mempan karena makhluk-makhluk bodoh yang merasa dirinya tinggi ini telah membentengi akal mereka dengan berbagai dalil dan hadits-hadits palsu. Sialnya, filsafat kaum minoritas ini terlanjur meracuni penduduk sekitar yang semula bermazhab netral dengan ajaran-ajaran yang menyimpang dan cepat menular.

Jika ditanya tentang sumber, mereka selalu berdalih kata ustad saya. Ustad bilang begini dan begitu. Aku tak habis pikir, sebenarnya siapakah penipu yang lihai memerankan tokoh ustad ini. Ketika kuselidiki, ternyata orangnya biasa saja, sama sekali tidak berilmu dan tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Seperti ustad dadakan yang hanya mengusung popularitas dan sering bergentayangan di televisi. Ada lagi yang ustadnya canggih, berotak encer, mengetahui semua informasi tapi tak bisa membedakan mana yang benar atau salah, yaitu Mbah Google. Mereka mengunduh artikel-artikel islami berlandaskan hadits-hadits yang padahal belum tentu benar, lalu seenaknya dijadikan pedoman hidup. Mereka malah menuduhku yang seorang lulusan pesantren sebagai pengikut ajaran yang salah. Mereka bilang ajaran pesantren hanyalah ilmu usang, kuno, tak berguna, dan tidak layak disandingkan dengan ilmu agama kontemporer yang mereka anut. Betapa tragis. Aku tak percaya hidup di dunia yang seperti ini.

Kadang aku termenung sendiri, sedih mengingat para ulama yang di zaman ini mulai berkurang. Yang menjamur hanyalah manusia berotak kosong yang sok pintar dan merasa benar, membuat fatwa tanpa ilmu, mengarang hadits-hadits palsu. Para Kiai di pesantrenku sudah memperingatkan akan hal ini. Ulama adalah pewaris para Nabi. Kitab-kitab yang mereka tulis bukanlah sekadar karya tanpa makna, meskipun orang-orang zaman sekarang menuduh isinya bid’ah semua. Padahal para ulama bukan orang bodoh. Mereka lebih paham mana yang bid’ah atau bukan. Mereka sudah belajar puluhan tahun, lebih lama daripada ustad-ustad dadakan yang belajar secara instan lewat buku-buku modern tanpa adanya pembimbing, yang cukup bermodal buletin saja sudah merasa paling ustad. Jelas para ulama lebih paham, dan buah pikiran yang mereka tulis di kitab-kitab kuning adalah hasil syuro dengan ulama lain, tidak mungkin asal mencetuskan fatwa seperti perkiraan banyak orang.

Namun ada hal lain yang mendorongku agar segera pindah dari fakultas ini. Masalah perbedaan madzhab hanya problem kecil jika dibandingkan dengan problem yang satu lagi. Masalah terberat yang tidak memberiku pilihan selain meninggalkan fakultas atau bahkan universitas ini. Aku berpaling. Malam ini aku menggendong ransel menjauh dari kemegahan UI yang susah payah kudapatkan, seraya berjalan gontai menuju Terminal Rambutan tanpa menoleh lagi.

******

“Cita-citaku adalah menghancurkan Israel!” ucapku lantang. Para peserta seminar terperangah, panitia yang memintaku maju ke panggung ikut tercengang. Mereka menatapku lekat-lekat seakan tak percaya yang kukatakan. Aku agak malu, tapi aku tak menyesal dengan perkataanku. Aku ingin seperti Rasulullah yang menaklukkan Mekkah, atau seperti Salahuddin Al-Ayyubi yang merebut Jerusalem, atau Muhammad Al-Fatih yang menguasai Konstantinopel. Mereka adalah para pemimpin besar pada generasi mereka, mereka sumber inspirasiku.

Cita-cita itu memang harus tinggi, toh bermimpi itu gratis. Semustahil apapun, Tuhan pasti mendengar doa kita. Dalam kitab Ta’lim Muta’allim disebutkan, cita-cita itu hendaknya harus setinggi mungkin, karena cita-cita itu bagaikan sayap. Jika sayapnya besar maka terbangnyapun akan tinggi, dan sebaliknya jika sayapnya kecil maka terbangnya akan rendah. Semua yang mendengar ternganga, dan kemudian, seperti dikomando, mereka serempak bertepuk tangan riuh, membuat hatiku melambung. Namun gairahku surut saat terdengar suara tawa seseorang, membahana menyaingi suara aplaus yang mulai mereda. Najid, anak dekan yang sok berkuasa itu terbahak bersama teman-teman tengiknya. Selama ini, dia memang selalu mengejekku hanya karena aku anak kurang mampu.

“Menghancurkan Israel katanya. Bayar taksi aja dia nggak sanggup, gimana mau ke Israel? Mau naik apa dia ke sana? Jalan kaki? Dasar miskin!”

Aku merengut menahan marah. Dia hanya berbisik, tapi aku bisa menangkap ucapannya. Padahal sesama anggota Rohis, tapi kelakuannya bejat tak terkira. “Lihat saja nanti, akan kubuktikan kalau aku bisa!” kataku penuh tekad.

Sepulang seminar, aku menyempatkan diri menjenguk ibu di rumah sakit. Seperti biasa, senyumnya mengembang saat melihatku datang. Ia menanyakan kabarku dan kelancaran kuliahku. Keadaannya semakin memprihatinkan. Ia semakin kurus seakan tak berdaging. Ia selalu berpura-pura tegar di depanku, padahal aku tahu penyakitnya parah. Kasihan ibuku. Sejak ayah meninggal, ibu membanting tulang seharian sebagai penjual kue demi membiayai kuliahku. Namun sejak ia sakit, ia merelakan sawah warisan kakek dijual agar aku bisa terus kuliah. Kami tak punya apa-apa lagi. Ibu telah merelakan semuanya untukku. Namun, apa yang bisa kuperbuat untuknya? Dengan air mata berurai, aku menggenggam tangannya. Suatu saat, budi baiknya selama ini pasti akan kubalas.

Hdnetworldreport-YemenThePiedPiperOfJihad661

Langit terasa suram, angin terasa jahat, dan udara terasa menyesakkan, panas bagai dihembus dari neraka. Hari itu rasanya ada yang berbeda. Di kampus, beberapa orang memandangku dengan tatapan tajam, sadis, menusuk. Aku tak tahu mengapa. Tanpa alasan yang jelas, semua yang kulewati memperlihatkan sorot mata menuduh, sesuatu yang biasa kusebut “muka rusuh”. Tiba di kampus, aku melihat Astri, teman sekelasku, sedang berdiri di samping pilar.

“Hei, Astri!” sapaku ramah. “Tugas dan laporanmu sudah semua?” Astri diam saja, bertingkah seakan tidak mendengarku. Dengan cuek dia melenggang pergi, meninggalkan aku yang membeku. Senyum tulusku berubah menjadi seringai salah tingkah. Ada apa ini? Apa bicaraku yang salah ya?

Bukan hanya itu. Di kelas, aku seperti diabaikan, seakan tak ada yang ingat namaku. Nama Abbas Gunawan seperti hanya pelengkap di daftar absen kelas. Semua berseliweran sok sibuk, bersikap cuek, tak ada satupun yang menyapa, bahkan melihatku pun sepertinya tidak. Ah, mungkin harus aku duluan yang bertanya. Namun, ketika kusapa, mereka hanya menjawab seadanya, malas-malasan, dan kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Lebih parah lagi, saat aku mencoba nimbrung di obrolan mereka, dengan kompaknya mereka malah membubarkan diri. Karena tak ada yang peduli, aku memutuskan untuk membaca buku saja. Namun huruf-huruf di buku itupun seperti menertawakanku. Celotehan teman-temanku amat berisik dan menusuk-nusuk telinga. Hatiku remuk redam mendengar mereka tertawa, tanpa melibatkanku dalam obrolan mereka.

Ah, apakah aku harus benci saat mereka bahagia? Aku memaksakan senyum, menyemangati diri meski hati terasa berat. Aku menoleh mengamati sekitar. Barisan tempat duduk di sebelahku kosong, seolah tak ada yang mau dekat-dekat denganku, bahkan anak yang tadi duduk di sebelahku mendadak pindah ketika aku datang. Masya Allah, cobaan apa lagi yang harus kuhadapi. Aku mengelus dada, coba menyemangati diri. Ayo maju, pikirku, keluarlah kalian wahai rintangan, coba halangi aku kalau bisa! Kalian pikir dengan perkara semacam itu bisa menghancurkan hidupku? Serangan kalian tak akan membunuhku! Toh seberat apapun dunia tak mungkin lebih buruk dari neraka.

Aku duduk sendiri di luar, membiarkan teman-teman sekelasku berlalu di depan wajahku. Aku memang sedang menguji keramahan mereka, dan tak ada satupun yang lulus. Bernapas berat, aku memutuskan untuk tilawah di mushala saja. Di jalan, aku menyapa Wulan, yang pura-pura tak mendengar. Ini aneh sekali, padahal biasanya dia ramah padaku. Beberapa teman yang lain sengaja berpaling, atau buru-buru mengobrol dengan temannya ketika aku lewat. Lebih buruk lagi, malah orang di sebelahnya yang disapa, padahal yang disapanya itu berasal dari kelas lain. Memangnya kalian pikir aku ini siapa? Aku teman sekelas kalian kan? Ah, apa aku ini tak ada artinya bagi kalian? Hari ini sungguh aneh. Seakan seluruh umat manusia di bumi ini berkomplot untuk menjauhiku. Aku ada di tengah keramaian tapi tetap merasa sepi. Aku pria yang terlupakan.

Matahari telah naik ke puncak cakrawala. Aku beringsut ke mimbar untuk menyalakan speaker dan mengumandangkan azan, setelah itu duduk menanti para jemaah. Aneh sekali, tak ada satupun mahasiswa yang datang, bahkan dosenpun tidak. Padahal biasanya mereka rajin berjamaah di mushala ini. Hanya Malik, sahabat setiaku yang datang. Apa boleh buat, shalat zuhur siang itu hanya kami lakukan berdua.

“Kok tumben sepi,” katanya. “Eh, Abbas, mau ke mana?”

Malik memanggilku, tapi aku terus berlari. Aku tak tahan lagi. Aku merasa marah, sedih, sekaligus murka. Rasanya ingin sekali aku menangis darah, hatiku sakit. Hari ini, orang-orang di sekitarku seolah menghukumku. Aku dengar bahwa Najid menghasut semua orang agar mengucilkanku. Bukan hanya para mahasiswa tapi juga para dosen. Tampaknya ayahnya ikut terlibat dan turun tangan langsung. Sungguh rencana yang keji. Apakah kekuasaannya sebesar itu?

Besoknya hal yang sama terulang kembali, aku dilupakan teman sekelasku dan tak ada yang datang ke mushala setelah aku mengumandangkan azan. Namun aku tak peduli. Aku meneruskan azan meski perasaanku remuk. Aku sadar suaraku bergema di sekeliling mushala, bergetar karena pilu, menyayat hati, dan tetap saja tak satupun jemaah datang. Aku heran jangan-jangan Najid juga yang menghasut orang-orang agar tidak shalat di sini. Malik seperti membaca pikiranku. Ia tersenyum. Di antara semua teman kuliah, memang dia yang paling peduli padaku. Dialah sahabat sejatiku.

“Dakwah itu memang berat,” ia menghiburku. Ia kemudian membisikiku ide gila. Mulanya aku tak setuju, tapi setelah dijelaskan akhirnya kuiyakan juga.

Esoknya aku menjalakan taktik Malik. Tak ada hujan tak ada angin, pukul sembilan pagi azan dilantunkan lewat pengeras suara. Tentu saja seisi kampus geger, dan dalam sekejap orang-orang berkumpul di halaman mushala. Mereka berteriak-teriak marah. Malik menghadapi mereka dengan tenang.

“Mau apa kalian kemari? Kemarin kami azan di waktu shalat kalian tidak datang. Sekarang kami azan pukul sembilan kalian malah datang beramai-ramai. Mau shalat apa kalian? Yang bodoh kami atau kalian?”

Para mahasiswa terdiam, malu atas kesalahan mereka sendiri. Najid sang provokator bersungut-sungut karena merasa dipojokkan. Namun aku tak peduli karena handphoneku berbunyi. Dengan wajah pucat aku bergegas ke rumah sakit. Kondisi ibuku kritis. Aku tak kuasa menahan haru saat ibuku memberikan wasiat terakhirnya. Hatiku sesak mendengarnya, ibu merelakan cincin pernikahannya dengan ayah, hartanya yang paling berharga itu untukku. Aku tak sanggup menerimanya, tapi ibu bersikeras memberinya agar aku dapat meraih cita-citaku. Aku merasakan genggamannya mengendur, matanya mulai terpejam, dan akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya dengan wajah damai. Ibuku telah pergi. Aku gemetar menahan tangis. Ibu sudah berusaha sejauh ini demi aku. Aku sedih karena belum sempat membahagiakannnya.

Dunia serasa runtuh. Kini aku sebatang kara, tak punya siapa-siapa lagi. Aku sangat bersyukur punya sahabat seperti Malik. Ia merasa prihatin melihat keadaanku. Ia berbaik hati mengajakku bekerja hingga aku bisa mandiri. Aku bersedia bekerja apa saja asalkan halal. Selain mengajar anak-anak mengaji, aku juga berjualan roti di kampus. Uang yang terkumpul kugunakan sebaik mungkin untuk membiayai hidup. Sisanya kutabung untuk mewujudkan cita-citaku. Ya, demi cita-citaku yang selangit itu, karena itulah janjiku pada ibu.

Ejekan demi ejekan mengalir silih berganti tiap harinya, terutama dari Najid dan komplotannya, namun aku terus bersabar.

“Jualan nih yee” Najid merokok dan menghembuskan asapnya di depan mukaku. Aku berkeriut menahan batuk.

“Ayo pindah ke tempat lain,” Malik mengajakku pergi, tapi Najid mengikuti kami.

“Boleh coba nih? Kubeli semuanya!” dia menabur uang kertas ribuan di atas kepalaku, merebut semua donat di pangkuanku, mencampakkannya ke tanah, lalu tanpa ampun menginjak-injaknya. Aku geram, semalaman aku membuat donat-donat ini. Ingin rasanya kuhajar dia, namun Malik memegangi dan menepuk pundakku. “Sabar, Innallaaha ma’asshobirin,” katanya. Aku mengelus dada, mencoba menganggapnya sebagai angin lalu, kemudian berbalik pergi. Hal sepele itu takkan mematahkan semangatku.

“Kau memang melarat dan layak tinggal di tempat sampah, sama seperti ibumu,” Najid memancing api.

BUK! Aku hilang kendali. Najid terlempar setelah menerma pukulanku. Pipinya bengkak. Kata-katanya sudah keterlaluan.

“Aku tak peduli jika kau menghinaku!” kataku murka, suaraku meninggi dalam kemarahan. Aku tak peduli dia anak dekan. Aku tak peduli orang-orang berkerumun menonton kami. “Kau boleh merebut teman-temanku, kau boleh mengurangi jamaah mushala, tapi jangan pernah sekali-kali kau menghina ibuku!”

Najid tersurut mundur melihat ekspresi wajahku. Ia ketakutan bagai melihat hantu, kemudian berlari menjauhiku, menabrak siapapun yang menghalanginya, dan tiba-tiba, BRAK! Mobil menghantam tubuh Najid hingga terpelanting. Orang-orang berteriak panik. Aku terpaku di tempatku berdiri. Aku khilaf, alpa. Kemudian, aku tak tahu apa yang kulakukan. Tubuhku bergerak sendiri. Tahu-tahu aku berlari ke arahnya, membungkuk di atas tubuh yang berdarah-darah itu, memangkunya dan membawanya ke klinik kampus. Najid membuka matanya perlahan, dia seakan tak percaya melihatku, orang yang dibencinya, yang selama ini disakitinya, malah justru menolongnya.

“Abbas, maafkan aku,” katanya pelan, air matanya mengalir.

*****

Rasanya sudah berjuta-juta tahun sejak aku lulus kuliah dulu. Kini aku duduk mantap di atas kudaku, tangan kanan memegang pedang, tangan kiri perisai baja. Di belakangku berderet ribuan prajurit mujahid berpakaian putih, bersenjatakan tombak dan pedang, menanti perintahku untuk bergerak. Aku tak menyangka impianku sejak kecil ini akan terwujud, terlibat dalam misi penting menghancurkan Israel, negara yang paling kubenci. Imam Mahdi, pemimpin tertinggi kami menugaskanku untuk memimpin satu batalion menjaga perbatasan timur. Sungguh misi yang berat. Sorban yang melilit leherku berkibar terkena angin ketika aku memandang lurus ke depan. Sekitar seratus meter dari kami, berderet sekitar seratus ribu tentara gabungan Israel dan negara sekutu bersenjata lengkap, berupa senapan gatling dan rompi anti peluru. Di belakang mereka berderet tank-tank raksasa dan beberapa pesawat jet supersonik.

jihad__by_wikimia-d48l13f

“Kau bersamaku?” aku menatap pria di sebelahku.

“Sampai mati,” kata Najid. Ia duduk mantap di atas kudanya meski sebelah kakinya buntung karena diamputasi setelah kecelakaan waktu itu. Namun sekarang ia pria yang jauh lebih baik. Ia dan Malik adalah dua orang kepercayaanku dalam peperangan ini, sahabat terbaikku.

no-terrorism-in-islam - 2

Musuh berderap semakin dekat. Aku meneriakkan takbir, memacu kudaku berderap maju. Para prajuritku balas berteriak dengan bersemangat, berlari maju menyambut serangan musuh. Hari itu, impianku yang paling mustahil berubah menjadi kenyataan. Tuhan memang tak pernah tidur.

 

SELESAI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s