Cerpen : Dia Se Ra

Oleh : Nena Fauzia

 

Semburat sinar matahari senja itu, menggodaku untuk menatapinya dari balik jendela rumah. Daun pohon ketapang kemerahan berguguran di depan rumahku—mengingatkanku pada musim gugur di negeri ginseng. Kim Se Ra, sosok perempuan Korea yang akan selalu kukenang, tokoh utama dalam kisahku selama berjuang menjadi muslimah perantau di negeri penyebar hallyu1.

21031336

***

Lima tahun yang lalu…

Aku tak pernah bermimpi untuk menginjakkan kaki di Korea, sebuah negeri oriental yang saat ini memiliki pengaruh budaya yang sangat kuat pada remaja di kawasan Asia. Namun Allah menghendakiku untuk menjalani satu babak penting di sana, dengan menakdirkanku menerima beasiswa program master (S2) dalam bidang ilmu holtikultura lingkungan untuk periode musim semi.

Universitas memfasilitasi kami. Aku tinggal di lantai 3 sebuah dorm2. Banyak teman dari berbagai negara, namun sepertinya hanya aku yang terlihat menonjol. Aku adalah muslimah, berjilbab, lebar. Seiring dengan citra buruk Islam yang menyebar ke seluruh dunia, wajar bila aku sedikit khawatir untuk menelusup hidup di antara orang-orang liberal itu. Dan memang, banyak mahasiswa Korea asli yang terkesan menghindariku.

Mungkin karena itulah, seorang mahasiswi Korea asli yang menjadi anggota klub jurnalistik kampus suatu hari datang menghampiriku. Secara fisik ia sungguh cantik. Sekejap, saat aku memandanginya ketika berjalan mendekatiku, aku membayangkan tubuhnya terbalut gamis dan kepala hingga dadanya tertutup jilbab. Subhanallah, cantik luar biasa. Namun sapaan lembut khas Korea-nya segera membuyarkan lamunanku yang tampak mustahil itu.

Jeoneun Kim Se Ra imnida3. Saya dari klub jurnalistik kampus yang bernama Campus in News,” katanya memperkenalkan diri, menggunakan bahasa campuran Korea-Inggris. Kemudian ia menjelaskan bahwa untuk buletin edisi bulan ini, mereka tertarik untuk membahas tentang mahasiswa penerima beasiswa internasional yang beragama Islam. Ialah yang diberi tugas untuk mewawancaraiku.

Saat kupikir ini adalah kesempatan untuk bisa sedikit mengenalkan indahnya Islam pada orang Korea, maka aku pun menyetujui tawarannya.

***

Wawancara pertama pun dilaksanakan keesokan harinya. Seperti dugaanku, pertanyaan pertama Se Ra adalah tentang alasanku memeluk Islam. Saat itu aku diam sejenak.

“Karena Islam adalah agama yang benar,” akhirnya kupilih jawaban itu. Dan memang itu jawaban yang paling tepat.

“Jadi, dengan kata lain kau mengatakan bahwa agama lain salah?” lanjutnya dengan dahi berkerut.

Aku tersenyum. “Aku tidak perlu mengatakan itu, cukup kukatakan bahwa Islam adalah agama yang benar,” jawabku tegas.

Se Ra tampak sedikit mengedikkan bahu, lalu beralih ke pertanyaan selanjutnya. Semuanya mengalir begitu saja. Aku pun tak melebih-lebihkan setiap jawaban yang kulontarkan. Saat berhadapan dengan kawan lain agama, selalu ada semangat syi’ar di sana. Namun kali ini aku mencoba meredamnya, karena ia bertanya bukan semata-mata atas rasa ingin tahunya. Maka, kupegang kuat-kuat firman Allah Surat Al-Kaafirun ayat terakhir, lakum diinukum waliyadiin4.

***

“Apakah kau nyaman dengan posisimu saat ini? Mmm, dengan penampilangmu yang… aneh?” tanya Se Ra pada hari terakhir jadwal wawancara.

Seperti biasa, jika menemui pertanyaan seperti ini, aku memilih berpikir sejenak. “Aku menjalaninya apa adanya. Karena seperti inilah seharusnya penampilan seorang muslimah. Citra buruk memang banyak menghinggapi Islam, tapi kurasa jauh lebih banyak orang-orang cerdas di dunia ini,” jelasku. “Ya, orang-orang cerdas, yang tahu bagaimana cara menilai sesuatu. Orang-orang cerdas tidak akan berani menilai suatu hal sebelum mereka melihat hal itu dari berbagai sisi,” tambahku.

Se Ra mengangguk-angguk. “Jadi menurutmu, mereka yang menilai bahwa Islam itu salah mungkin saja belum melihat Islam dari berbagai sisi?” ujarnya.

Aku hanya tersenyum, membiarkan Se Ra menyimpulkan sendiri. Ia pun balas tersenyum, lalu berterima kasih dan segera mengakhiri proses wawancara itu.

Ingin kupanjatkan do’a untuknya, tapi aku ingat, semua do’a akan sampai kecuali untuk selain muslim. Hanya satu do’a yang dapat dipanjatkan dalam kondisi seperti itu, berikanlah ia hidayah, ya Allah…

mesjidkorea

***

Sekitar satu minggu kemudian, buletin Campus in News benar-benar terbit, dan berhasil kembali menjadikannya sebagai buah bibir. Se Ra pun memberi kabar lewat SMS dan menyatakan kembali rasa terima kasihnya padaku.

Tak ada pertemuan lagi antara aku dan Se Ra setelahnya, hingga musim semi berganti menjadi musim panas. Namun saat suatu hari aku sedang menunggu subway5 di subway station6 setelahberjalan-jalan dengan teman keturunan China asal Malaysia bernama Jessica ke Menara Namsan, aku melihat sosoknya tengah terduduk lemah di lantai. Wajahnya pucat dan ia terlihat sangat kesakitan.

Kim Se Ra-ssi7!” panggilku. Aku segera merangkul pundaknya. “Kwaencanhayo8?” tanyaku cemas.

***

Kami bergegas ke rumah sakit setelah Se Ra jatuh pingsan di pangkuanku. Setelah secara pribadi aku mendapat penjelasan dokter tentang kondisi Se Ra, aku segera masuk ke ruang perawatannya. Se Ra tertidur, dan tampak sangat lemah.

Tiba-tiba ponselnya yang kuletakkan di meja berdering. Dari layar ponselnya, aku melihat nama Park Min Hyuk—mungkin temannya.

Yoboseyo…9” sapaku mengangkatnya.

Yoboseyo. Se Ra-ya?10” balas suara laki-laki dalam telepon itu.

Jeoseong hamnida, jeoneun Haira, Se Ra-ui chingu11,” jelasku.

Nugu? Se Ra-neun odisseoyo?12” tanyanya bingung.

Jigeum, Se Ra-neun pyongwone isseoyo…13

Mwo?!14

Kurang dari satu jam kemudian, laki-laki bernama Park Min Hyuk dan teman-temannya yang ternyata merupakan rekan Se Ra di klub Campus in News datang ke rumah sakit. Saat melihat sosokku, aku bisa menangkap ekspresi kekagetan yang begitu jelas dari wajah mereka. Jadi, yang orang yang menolong Se Ra adalah wanita berpenampilan aneh ini? Mungkin kalimat itu yang sedang muncul dalam benak mereka.

Aku segera menjelaskan semuanya pada Park Min Hyuk, yang ternyata merupakan ketua klub. Dan ketika mengetahui ada teman Se Ra yang bersedia menginap menemaninya, aku pun memutuskan pamit pulang. Saat itu Se Ra telah sadarkan diri. Sepertinya ia ingin mengucapkan sesuatu padaku, namun yang keluar dari mulutnya hanya kata keomawo15.

***

Seminggu berlalu sejak Se Ra dirawat di rumah sakit. Aku tak pernah mendapat kabarnya lagi. Namun sapaan lembut darinya tiba-tiba mengagetkanku di suatu sore, saat aku sedang duduk menyendiri di taman kampus.

Annyeong, eonni16,” sapanya. Ia menyerahkan sekotak nasi gulung. “Tenang saja, itu halal. Aku membuatnya sendiri,” lanjutnya seraya tersenyum.

Aku tersenyum kecil. “Lama tidak bertemu, bagaimana keadaanmu?”

Ia hanya menyunggingkan senyum, lalu mengalihkan pandangan ke arah sekitar. “Kenapa eonni tetap bertindak seperti ini?” tanyanya kemudian. “Eonni telah menceritakan bagaimana baik dan indahnya Islam, eonni juga telah menolongku, dan eonni… telah menutupi keburukanku. Ada infeksi di perut… sebuah kamuflase jujur yang sempurna, tak eonni katakan yang sebenarnya bahwa waktu itu aku terkena infeksi akibat aborsi ilegal…” lanjutnya. “Eonni tinggal menyuruhku masuk Islam, kenapa eonni belum juga melakukannya?”

Infeksi akibat aborsi ilegal. Pernyataan dokter saat itu membuatku jijik, marah, dan pilu. Ya, waktu itu Se Ra harus menjalani perawatan karena menderita infeksi akibat aborsi ilegal, dan aku memang tak mengatakannya karena kewajibanku sebagai seorang muslim untuk menutupi aib orang lain. Tapi kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti ini?

“Kenapa, eonni?” tanyanya lagi.

Aku segera menguasai diri. “Saat itu, aku hanya melakukan kewajibanku. Bersikap baik, menolong sesama manusia, dan menutupi aib orang lain. Sedangkan ke-Islam-an, ia datang dari hati, bukan dari sikap baik yang orang lain berikan,” jelasku. “Kami diajari untuk bertoleransi, tak memaksa, karena itu hanya akan memicu perpecahan. Tetapi sebagai seorang muslim, kami diajari untuk mensucikan Islam, dan mengajak pada kebaikan serta mencegah dari keburukan. Kami punya tugas untuk menyampaikan, dalam Islam kau bisa menyebutnya dengan da’wah, tapi itupun kami lakukan dengan cara yang baik, bukan dengan paksaan. Sekali lagi, karena Islam datang dari hati, yang dikendalikan oleh-Nya,” lanjutku.

Se Ra menatapku penuh perhatian, lalu tersenyum. “Jawaban eonni tak pernah tak memuaskanku,” ujarnya sembari menunjukkan kedua matanya yang menjadi garis. Ia lalu mengajakku jalan-jalan. Setelah memastikan bahwa hari itu aku tak ada agenda dan juga karena mendengar rengekannya, aku pun memilih menerima ajakannya. Aku memang butuh refreshing lagi, dan aku percaya pada Se Ra ia tak akan berani macam-macam padaku.

Ternyata Se Ra mengajakku ke Namdaemun Market, tempat berbagai pernak-pernik khas oleh-oleh dijajakan. Setelah puas melihat-lihat dan berbelanja, ia mengajakku ke tempat lain. Jurus rengekannya pun kembali meluluhkanku.

Namun ia mengajakku ke sebuah tempat tak terduga. DISKOTIK. Kakiku langsung berhenti melangkah begitu melihat papan reklame di depan pintu masuk.

“Kenapa, eonni? Kau tidak mau masuk?” tanya Se Ra. “Oh! Aku tidak akan memesankan alkohol untukmu, kita hanya akan melihat-lihat…” lanjutnya.

Entah dia pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu, saat itu darahku benar-benar mendidih karenanya.

“Kau…” ucapku marah. “Ternyata masih banyak hal yang belum kau pahami tentangku, tentang hidup kami sebagai muslim, tentang Islam. Dan setelah apa yang kau alami, kau masih berani masuk ke tempat seperti ini, bahkan mengajakku yang kau tahu adalah seorang muslim?!” kataku—menatap Se Ra dengan tajam. “Lihatlah kaki, lengan, leher, dan wajahmu. Seluruh tubuhmu. Kau seharusnya merasa jijik ketika para lelaki memandanginya dengan penuh nafsu. Bahkan seorang lelaki telah mengeksploitasinya dan membuatmu menderita karenanya…”

Se Ra hanya diam, mematung menatapku.

***

Setelah malam yang buruk itu, kembali lagi, aku tak pernah menemui Se Ra, atau mendapat kabar darinya. Kuputuskan untuk membiarkannya berpikir sendiri. Sudah selayaknya wanita dewasa dapat menggunakan logikanya. Hari itu juga ia menyalakan harapanku untuk bisa membimbingnya menuju Islam, tetapi hari itu juga ia memadamkannya. Cukup bagiku, tak perlu lagi berharap tentangnya.

***

Saat minggu datang di musim gugur, cuaca begitu cerah. Aku memilih tak bepergian. Di atas rerumputan taman belakang dorm, aku membaringkan tubuhku dengan nyaman. Aku ingin menikmati udara Korea perlahan-lahan, karena sekitar sebulan lagi aku akan segera pulang ke Indonesia—tesisku sudah rampung. Kubiarkan ponsel Korea-ku mati di kamar. Toh ini minggu pagi, profesor tak akan menghubungiku. Namun tak lama kemudian kedamaianku terusik. Aku mendengar Jessica berteriak memanggilku keras dari arah dorm.

“HAIRA!” teriaknya.

***

Lalu aku hanya diam mematung. Aku harus menenangkan diri selama beberapa menit dan menunggu air mataku reda sebelum akhirnya memutuskan untuk menelepon Park Min Hyuk, untuk mengetahui kebenaran kabar yang kudengar, serta kapan dan di mana Se Ra akan dimakamkan. Ya, innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Jessica mengatakan bahwa Se Ra baru saja meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang ia naiki dari arah kawasan Itaewon.

Entah kenapa tak seperti kebiasaan masyarakat Korea umumnya, ternyata jenazah Se Ra akan dimakamkan hari itu juga. Aku pun bergegas pergi menghadirinya. Saat aku tiba di sana, sepertinya pemakaman telah usai. Namun yang menarik perhatianku, aku melihat sesosok laki-laki tua dan beberapa orang negro yang mengenakan gamis, celana, dan berkopyah juga turut keluar bersama rombongan itu. Tidak salah lagi, mereka adalah Syekh pimpinan dan para pengurus Grand Mosque Itaewon17—tempat pertama yang kukunjungi di Seoul. Tanpa pikir panjang, aku mendekati rombongan itu.

Salah seorang dari mereka menyapaku, lalu berbisik-bisik. Aku sendiri tak menyangka mereka mengenaliku.

“Apakah kau orangnya, wanita yang Nona Kim Se Ra sebut-sebut sebagai penunjuk jalannya menuju Islam?” ujar Sang Syekh kemudian.

Aku tak bisa berkata-kata. Apa maksud semua ini? Apakah…?

“Do’akanlah ia di atas makamnya. Semoga kalian dipertemukan oleh Allah di jannah-Nya,” ucap Sang Syekh, kemudian berlalu bersama rombongannya.

Aku kembali tak bisa berucap sepatah katapun. Kaki dan tanganku gemetaran, namun aku harus memaksanya melangkah menuju makam Se Ra. Daun yang berguguran saat itu menemani langkah gemetaranku. Tangisku mulai pecah. Ya Allah, nyatakah ini…? Kau pertemukan aku dengannya yang telah menjadi saudara seimanku ketika kami telah berbeda dunia…?

Masih ada seorang wanita yang berdiri di samping makam. Ia segera menyadari ketika aku datang mendekat. Wajahnya pucat dan basah oleh air mata. Ia mirip dengan Se Ra. Tak salah lagi, ia adalah ibunda Se Ra.

“Ini adalah pilihannya…” kata ibu Se Ra. “Do’akanlah dia jika kau memang orang yang benar,” lanjutnya. Kemudian ia berlalu meninggalkanku.

Aku langsung jatuh terduduk di samping makam. Kuseka air mataku, kupegang nisannya. Se Ra… Setidaknya aku tenang… Meski aku tak bisa melihatmu dalam balutan gamis dan jilbab… Kau telah beristirahat dengan tenang dalam rumah abadimu yang dibangun sebagaimana layaknya seorang muslim… Selamat jalan, Se Ra… Semoga kita dipertemukan di jannah-Nya…

***

Aku pulang ke dorm ketika hari hampir petang. Segera kubaringkan tubuhku, kupejamkan mata, dan kuatur irama nafasku. Satu menit, dua menit… Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ponsel Korea-ku. Dengan perasaan berkecamuk, aku menyalakannya.

Benar saja. Aku menerima 21 SMS pemberitahuan panggilan masuk dari nomor Se Ra pada pukul 9 pagi. Dan aku juga menerima… 1 pesan suara darinya. Tanpa pikir panjang, aku segera membuka pesan suara itu.

Assalamu’alaikum…” itu dia, kudengar Se Ra mengucapkan salam dalam pesan suaranya. “Eonni, kenapa nomormu tidak juga bisa dihubungi? Sebentar lagi aku akan sampai di Grand Mosque Itaewon. Ya, eonni, tadinya aku ingin memberimu kejutan dengan mengundangmu ke Grand Mosque untuk melihatku berikrar, tapi nomormu tidak juga aktif. Sebentar lagi aku akan mengucapkan dua kalimat syahadat, aku akan masuk Islam, eonni. Tidak apa-apa jika kau tidak bisa datang ke Grand Mosque, tapi setelah resmi menjadi muslimah, aku akan segera menemuimu. Aku akan menunjukkan kecantikanku padamu dengan jilbab dan baju panjang yang kupakai. Aku akan menceritakan padamu tentang perjuanganku selama ini menghadirkan ke-Islam-an di hatiku. Kau tahu tidak? Sepulang dari diskotik terkutuk itu, aku memandangi diriku dalam cermin, aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri. Aku sadar, eonni, aku benar-benar kotor, dan aku tak mau terus hidup seperti ini.

“Seiring beralihnya musim panas menuju musim gugur, aku belajar banyak tentang Islam dan meminta diajari isi Al-Qur’an kepada Syekh di Grand Mosque. Eonni, aku ingin sekali menceritakan semuanya padamu. Aku ingin kau tahu, bahwa aku telah menyadari, Islam itu sangat indah. Aku ingin kau tahu bahwa aku telah menyadari, Islam tidak seperti yang selama ini orang-orang pikir.

“Wah, sebentar lagi aku sampai di Grand Mosque! Do’akan aku ya, eonni. Aku janji nanti aku akan menemuimu. Wassalamu’alaikum…”

Bersama dengan berakhirnya pesan suara dari Se Ra, tangisanku pecah.

***

Masa-masa akhir program masterku justru dipenuhi kenangan tentang Kim Se Ra. Ada rasa sesal, namun aku tahu jaminan surga telah ia genggam. Kenapa aku harus menyesal ketika Se Ra berakhir sebagai seorang muslim?

Sebelum terbang kembali ke Indonesia, aku menyempatkan diri mampir ke Grand Mosque Itaewon. Tak kusangka, salah seorang pengurus memberikanku sebuah foto yang diambil setelah Se Ra resmi menjadi mualaf. Dan saat itulah aku bisa melihat bayanganku di awal aku bertemu Se Ra menjadi kenyataan. Dalam foto itu, Se Ra mengenakan gamis dan jilbab. Wajahnya memancarkan senyum yang begitu cerah. Subhanallah, jika aku boleh sok tahu, akan kukatakan bahwa kau seperti bidadari, Se Ra…

Kudekap erat foto itu sambil berdiri menatap langit di depan Grand Mosque. Angin yang bertiup lembut mengugurkan daun-daun dari pohon yang berada di hadapanku. Ya Allah, kaulah Sang Pemilik Hati… Di mana Kau takdirkan iman tertanam, di situ ia akan bersemi… Ampunilah segala dosa saudara seimanku, Kim Se Ra… Masukkanlah ia ke jannah-Mu…

Kuucapkan do’a dalam hatiku dengan khusyuk, karena aku tahu, kini do’aku akan sampai untuknya. Pasti.

SELESAI

 

Footnote

1 Gelombang trend budaya Korea

2 Dormitory: asrama mahasiswa

3 Saya Kim Se Ra

4 Untukmu agamamu, dan untukku agamaku

5 Kereta bawah tanah yang menjadi salah satu transportasi umum masyarakat Korea

6 Tempat pemberhentian subway

7 Nona Kim Se Ra!

8 Tidak apa-apa?

9 Halo…

10 Halo, Se Ra?

11 Maaf, ini Haira, teman Se Ra…

12 Siapa? Se Ra di mana?

13 Sekarang, Se Ra sedang berada di rumah sakit…

14 Apa?!

15 Terima kasih

16 Hai, Kakak (panggilan untuk kakak perempuan dari adik perempuan/panggilan untuk teman perempuan yang lebih muda kepada

teman perempuan yang lebih tua

17 Masjid di daerah Itaewon, Seoul, yang merupakan masjid yang pertama dibangun di Korea dan merupakan pusat kegiatan umat Muslim

di Korea

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s