Alasan Wanita Itu Menangis

-di sebuah senja-

wanita-muslim-berdoa-_120503210642-348Selepas Magrib hari itu, aku menemukan seorang wanita tengah menangis setelah membaca Surat Ar-Rahman. Aku lalu mendekatinya dan bertanya, apa yang menyebabkan ia menangis, mungkinkah karena ekonomi keluarganya yang sedang tidak stabil ? atau karena sedang ada masalah dalam rumah tangganya ? Ah ternyata tidak keduanya. Wanita itu menangis kala itu untuk sebuah alasan yang sederhana. Dan tangisnya senja itu bukanlah sebuah tangis kesedihan. Melainkan sebuah tangis keharuan.

Ia berujar, ia bahagia hingga hari ini, di usianya yang kurang setahun menginjak angka 60 masih mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Lebih dari itu, ia kini bahkan tengah sedang menghafalkan Al-Qur’an. Padahal ia sangat sibuk seharian. Wanita itu bangun sekitar pukul 02:00 dini hari untuk mempersiapkan dagangannya, setiap hari. Dan dari seluruh pekerjaan rumah tangganya, ia hanya memiliki istirahat siang sekitar pukul 14:00 hingga menjelang ashar. Lalu kembali bekerja hingga menjelang istirahat malam pukul 22:00. Di antara waktu-waktu sibuk itu, wanita itu tidak pernah melainkan hanya sedikit, tertinggal untuk sholat lima waktu di awal waktu, beberapa sholat sunnah seperti dhuha dan qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, dan bahkan kini menyempatkan diri menghafalkan Al-Qur’an.

Ia terus bercerita, betapa ia bahagia masih bisa melafadzkan  huruf dengan sangat baik, sementara ia melihat betapa malangnya tetangga-tetangga yang berada di sekitar rumahnya, yang tak bisa membaca Al-Qur’an.

Mereka membaca Al-Qur’an dengan suara yang terbata-bata, padahal usia tak lagi muda. Sudah mendekati senja sementara ia tak tahu kapan malaikat maut akan mengetuk pintu rumahnya yang mewah. Ia lalu menutup tagisannya, tangis harunya dengan berkata

“sungguh aku bahagia dengan kondisi yang seperti ini”.

Aku jadi merenung dan berpikir, di usianya yang tak lagi muda, ia masih harus bekerja dalam jam kerja yang sangat padat namun kondisi ekonominya tidak sebaik kebanyakan orang yang bisa jadi beberapa tahun lebih muda, namun dengan jam kerja yang lebih sedikit. Sungguh malang nasibnya.

Akan tetapi, sebuah bisikan muncul di dalam benakku.

“barangkali sekiranya wanita itu memiliki harta yang melimpah, maka ia akan disibukkan dengan hartanya sehingga tak lagi sempat beribadah, tak sempat lagi berdoa, tak sempat lagi membaca Al-Qur’an atau menghafalkannya. Barangkali pula ia tak akan lagi memprioritaskan untuk sholat di awal waktu, atau bahkan sholat lima waktu. Bukankah Allooh adalah sebaik-baik Pengatur ? bukankah dalam sebuah riwayat yang shohih, adalah sabuah pekerjaan yang mudah bagi seorang wanita untuk memasuki surga ? ia hanya diwajibkan atas empat hal ; sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan patuh pada suaminya ? bukankah wanita itu telah melaksanakan semuanya dengan sebaik-baiknya ?”

Lalu betapa banyak orang yang kini terlalu disibukkan dengan dunianya. Ia tak lagi sempat mengingat Allooh melainkan hanya sedikit, hanya ketika sedang tertimpa musibah saja. Atau ketika sedang menunggui keluarganya yang sedang koma di rumah sakit. Betapa banyak orang yang telah lupa kapan terakhir kali ia menengadahkan tangannya, memohon pada Rabb-Nya. Betapa banyak mereka yang tidak mengenal ilmu dan memakan harta tanpa tahu dari manakah harta itu berasal sehingga berpengaruh pada buruknya akhlak anak-anaknya.

Betapa banyak wanita yang terlalu sibuk dengan dunia dan pekerjaannya hingga ia tak tahu kapan waktu senggangnya, atau waktu senggang suaminya. Atau ia tak punya waktu untuk mendampingi tumbuh kembang anaknya, mengajarkannya membaca Al-Qur’an, atau sekedar mendampingi tidur anak-anaknya yang tak selalu lelap. Betapa banyak mereka yang sukses di dunia, namun berantakan dalam mengurus keluarganya. Suami berlaku dayyuts kepada istri dan anak-anaknya, atau wanita yang berlaku nusyuz pada suaminya. Atau anak-anak yang tak tau apa itu berbakti pada kedua orangtua.

Aku lalu menghibur wanita itu dengan berkata

“ibu tahu, setiap pahala yang ibu dapatkan dari membaca Al-Qur’an atau dengan menghafalkannya, akan memberikan pahala yang sama banyaknya kepada orang-orang yang telah mengajarkan Al-Qur’an kepada ibu, tanpa mengurangi pahala ibu sedikitpun. Sebagaimana ibu akan mendapatkan pahala dari orang-orang yang telah ibu ajarkan membaca Al-Qur’an, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun”

Ia lalu tersenyum bahagia dan kembail bercerita bahwa muridnya selama ini telah berjumlah ratusan. Dua diantaranya telah sukses menjadi penghafal Al-Qur’an.

Ia lalu beranjak pergi untuk kembali melanjutkan persiapan untuk dagangannya esok. Dengan wajah yang cerah. Penuh senyum.

Jangan ragu keindahan skenario Allooh. Tiada yang lebih menginginkan kita bahagia dan selamat selain Dia yang Maha Baik

———————————————————————————

Ketahuilah, wanita itu adalah Ibuku.

Di rumah ibu

Plamo Garden – Batam Center – Batam

Ahmad Muhaimin Alfarisy

14 Maret 2014, 06:23

Advertisements

4 thoughts on “Alasan Wanita Itu Menangis

  1. Assalamualaykum,
    Mas, saya minta ijinnya untuk share tulisan2 mas ke teman2 saya dengan mencantumkan nama Mas didalamnya.
    Sebelumnya saya juga minta maaf karena ada beberapa tulisan mas yang sudah saya share (tentu dengan menyertakan sumber) tanpa ijin terlebih dahulu..

    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s