Cerita Di sebuah Senja,

coffee_splash_in_cup_on_wooden_table-wideAkhirnya aku tiba juga pada sebuah masa. Masa yang telah lama aku rindukan. Senggang. Lengang. Damai ?? Ah, agaknya aku belum bisa begitu damai pagi ini. Ku lihat senyum itu masih terlalu muram. Mungkin agak terpengaruh dengan belasan cerita sedih yang datang padaku minggu-minggu terakhir ini. Hampir semuanya dari rekanku. Laki-laki. Tapi sebagian lainnya cerita dari rekanku yang wanita. Aku tidak tahu kenapa, sebagian wanita merasa nyaman bercerita padaku. Atau mungkin hanya perasaanku saja ? Namun yang pasti, mereka bilang aku “pendengar yang baik”. Orang-orang yang konon katanya, jumlah populasinya semakin menipis di jagat raya.

Namaku Alfa. Alfarisy. Sebuah nama singkat yang mungkin suatu hari akan merepotkanku jika harus berkunjung ke negara-negara yang mengharuskanmu memiliki dua atau tiga nama. Maka tak jarang akhirnya aku menambahkan kata “Affan” di depan namaku. Nama dari sebuah tokoh berkacamata yang pernah aku hidupkan dalam sebuah novel ketika SMA.

Kehidupan yang cukup keras membuat aku terbiasa “dibanting” oleh lembar-lembar kehidupan. Hidup adalah rangkaian masalah yang harus diselesaikan. Namun aku lebih suka memverbalisasikan “masalah” sebagai sebuah “pekerjaan”. Agar tidak terbebani hanya karena sebuah kata yang bernada pesismistik. Inilah pentingnya membangun sebuah mindset, kata dosenku. Jika telah selesai dengan sebuah pekerjaan, maka beralihlah kepada pekerjaan lainnya.

Aku terbiasa sendiri. Melakukan semua pekerjaan dan kebutuhanku sendiri. Mungkin itu adalah ciri lelaki yang tangguh ? Ya, mungkin saja. Aku tak punya banyak waktu untuk memperdebatkan ego lelaki tentang kesendirian. Pun, terkadang aku merasa aneh, melihat orang-orang yang selalu bersama, berdua ke mana saja mereka melangkah. Tidakkah mereka tahu bahwa hal itu akan menciptakan sebuah ketergantungan ? Sebuah keterikatan ? Bagaimana jika tali pengikat itu putus ? atau simpul ikatannya mengendur sehingga melepaskanmu dan jatuh ? Atau pohon tempatmu bersandar tiba-tiba mati atau hangus terbakar ? apa yang terjadi denganmu, apakah ikut terjun bebas dan tenggelam ? Aku tidak suka terikat. Aku lebih suka menciptakan hubungan yang baik kepada semua, lalu menjadi pembahagia untuk banyak orang.

Hari ini lagi-lagi. Aku melihat kedua orang itu bersama. Bergandengan tangan menuju perpustakaan. Entah apa yang dilakukan. Hampir saja aku tidak peduli sekiranya salah satu dari mereka tidak sengaja menjatuhkan segepok berkas yang belum sempat dijilid, tak jauh di hadapanku.  Setahuku, mereka mulai dekat sejak setahun lalu, atau lebih ? saking seringnya mereka terlihat berdua, intonasi bicara, perilaku, dan gaya berpakaian mereka tampak serupa. Pun dengan langkah kaki, warna gamis dan jilbab, atau pun sepatu. Sampai-sampai sebagian rekanku terkadang salah menyebut nama mereka. Tertukar, maksudnya.

Tiba-tiba aku teringat sebuah puisi yang pernah dituliskan oleh seorang pahlawan aktivis mahasiswa yang mati karena menghisap gas beracun di atap tanah Jawa.

Apakah kau masih selembut dahulu …. ?

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap…. ?

Sambil membenarkan letak leher kemejaku … ?

Sebuah puisi yang sangat lembut yang mengisyaratkan seorang yang tengah merindukan kehangatan. Apakah aku pun demikian ? atau aku hanya iri dengan kemesraan dua orang yang baru saja berlalu di hadapanku dengan canda tawa yang telah bertahan lebih dari 360 hari ?

Terkadang muncul pula di dalam benakku di tengah kekosongan. Apakah aku harus menyerah dengan prinsip yang telah lama aku genggam dan mencari seorang teman berbagi ? setidaknya seorang sahabat ?

Ah, tidak-tidak. Lelaki harus tegas pada dirinya. Tegas pada prinsipnya. Ia harus menjadi cliff yang tegas menantang ombak kepedihan. Bukan menjadi daun putri malu yang bersegera mengatup hanya karena disentuh  dengan ujung jari. Lemah ! dengan ketegasan dan keteguhan berprinsip itulah kemudian ia akan dihargai. Meski tampak egois. Tapi siapa lagi yang bisa menjadi sandaran selain lelaki gagah yang tegas pada dirinya?

Senyumku mungkin terlihat mesra. Setidaknya itu kata mereka. Tapi kosong. Tapi sendu. Meski kekosongan dan kesenduan hanya bisa aku teriakkan dengan petir yang menyala-nyala di dalam dada. Dada yang kekar, katanya.

Hampir pukul 4 sore. Aku harus bergegas menuju foodcourt yang ada di selatan kampus. Temanku yang sering memanggilku sebagai sahabat terdekatnya semalam berkata ingin bertemu denganku. Hm. Sahabat ? Yang benar saja.

Ia ingin curhat, dan meminta pendapatku, katanya. Mungkin tak jauh-jauh dari kesibukannya sebagai aktivis kampus. Atau wanita-wanita penggalau yang menggilainya. Atau bisa jadi, ia ingin bercerita tentang tekadnya untuk maju menjadi anggota Majelis Wali Amanat dalam pemilihan rektor nanti. Entahlah, tapi aku rasa ia sedang sangat membutuhkanku saat ini.

[ini adalah tulisan semi-fiksi. Terinspirasi dari Buku Men are from Mars, and Women are from Venus Karya John Gray]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s