Mereka yang Jatuh Hati pada Al-Qur’an

al-quranJujur saja, selepas kajian Fiqih Bulughul Marom tadi malam, aku tak bisa berhenti tersenyum. Aku menyebutnya senyum takjub. Seukir senyum yang sudah mengukir sejak sholat Isya yang diimami oleh Mas Asep. Seorang Mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM yang tengah menyelesaikan koas guna mendapatkan gelar dokter. Malam itu, seperti biasa beliau membaca Surah Al-Fatihah dengan suaranya yang sendu, lembut, namun menghanyutkan. Ia terdengar lebih mirip irama Syaikh Fahd Al-Kandari namun dengan ciri khas miliknya sendiri. Lalu dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Kahfi ayat 103 hingga akhir. Beliau adalah orang yang kami sepakati –di antara rekan-rekan masjid- yang memiliki bacaan Al-Qur’an yang paling baik dan paling nyaman untuk di dengar. Sebagian jamaah bahkan tadi sempat terdengar olehku, terisak-isak oleh bacaan beliau.

Pulang. Aku tak langsung menuju rumahku yang berada di Dusun Karang Asem. Aku mampir sejenak untuk melepas rasa lapar di sebuah warung angkringan yang berada di Selatan Masjid Pogung Dalangan. Sebuah warung angkringan yang menjual makanan dengan harga yang sangat murah. Jika ingin mencari tempat yang menjual Nasi Ayam dengan harga hanya lima ribu rupiah, di sanalah tempatnya. Ini, untuk pertamakalinya dalam seminggu terakhir aku menyempatkan membeli makan di luar. Maklum, beberapa waktu belakangan aku lebih suka untuk mengahabiskan rasa laparku dengan memasak sendiri, di rumah. Sekaligus melatih kemampuan masak, yang bisa jadi bermanfaat suatu hari nanti.

Santapan makan malamku belum juga habis, ponselku bergetar. Ada sebuah pesan dari seorang teman dekat. Ia kini tengah menungguku di rumah. Segera saja aku habiskan makananku dengan agak sedikit terburu. Lalu memburu waktu agar ia tak terlalu lama menunggu. Mungkin malam ini seperti biasa, ia butuh seorang pendengar yang baik.

Masih tak berubah, ia berpenampilan seadanya. Rapih namun tidak “wah”. Matanya yang sendu dengan tubuh kurus yang 2 senti lebih tinggi dari tubuhku telah berdiri di depan pintu. Wajahnya tampak ceria, namun ada guratan kelelahan seperti biasa.

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Ia datang untuk bercerita, untuk didengarkan kisahnya. Ada canda, tawa, dan beberapa keluhan. Ada cahaya masa depan yang sedang terburam karena sebuah ketidakpercayaan diri, juga beberapa tumpukan masalah yang belum juga ia berjumpa dengan solusi. Dan sebuah kelelahan yang telah ia pegangi selama beberapa tahun. Tepatnya hampir tiga tahun ini.

Tiba-tiba ia tersenyum

“Mas, aku tinggal 3 ayat lagi lhoo”.

“Wah, masyaAlloh, beneran ?”

“Iya, hehe. InsyaAllooh malam ini akan saya selesaikan 3 ayat terakhir An-Naba’ yang belum hapal, supaya bisa hapal segera Juz 30. Selama ini berat mas, tapi aku ga tau kenapa akhir-akhir ini diberikan kemudahan oleh Allooh untuk melanjutkan hafalan Qur’an, dan alhamdulillah mas, sekarang beneran sudah bisa tilawah 1 Juz sehari”

“MasyaAllooh. 1 juz sehari ? hehe. Keren keren. Saya malah lagi ga bisa e 1 juz sehari. Trus-trus?”

“Ya gitu mas. Kata Mas Alfaa kan dulu, ga apa-apa baca Al-Qur’an sambil tiduran atau berbaring. Jadi makanya sekarang bisa tambah banyak tambah semangat. Soalnya kalau duduk, capek e mas. Ya sekali-kali duduk. Tapi kalau duduk juga ta pakein bantal di depan perut supaya ga mudah capek, atau ga jadi bungkuk”

——————————————————————————

Aku terharu. Untuknya yang dilahirkan di sebuah keluarga yang biasa-biasa saja, yang mengenal Islam dengan cara yang biasa-biasa saja, menjadi seorang yang hanif (lurus) tentu saja bukanlah hal yang mudah. Ia sebenarnya berasal dari sebuah keluarga yang sangat mampu, sangat berkecukupan. Jika ia ingin hidup dengan gaya hedonis, maka hal itu tentulah sangat mudah. Namun alhamdulillaah, Allooh memberikan hidayah taufiq hanya kepada yang dikehendakinya, dan salah satunya ialah rekanku. Kami bercerita hingga mendekati tengah malam hingga kemudian pamit. Dalam hati aku berdoa, mudah-mudahan hatinya menjadi lebih baik setelah bercerita malam ini.

Bagiku pribadi, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri ketika semakin mudah menemukan orang-orang yang mencintai Al-Qur’an. Menemukan orang-orang yang mau menghafal Al-Qur’an dan memiliki banyak hafalan Al-Qur’an yang bukan berasal dari kalangan pesantren saat ini bukan lagi perkara yang terlalu sulit. Rumah tahfidz bisa ditemukan di mana-mana, gerakan membaca Al-Qur’an bisa dijumpai dengan mudah, tak cuma itu, di kampus saat ini bahkan sedang ada pendaftaran gerakan menghafal Al-Qur’an. Dan pekan lalu, diadakan sebuah placement test sebuah institusi yang merekrut kalangan mahasiswa dan umum untuk belajar Tahsin, dan menghafal Al-Quran di Musholla Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM. Dan rasa takjubku semakin bertambah-tambah ketika salah satu peserta ternyata adalah seorang pria yang dari perawakannya, ia sudah berusia melampaui setengah abad Sungguh luar biasa bukan ?”

Tidak seperti halnya dengan beberapa tahun lalu.

Ini – mudah-mudahan – adalah salah satu bentuk cinta Alloh kepada hamba-hambaNya yang ingin dimuliakan di hari ketika tidak ada naungan selainNya.

Mari dekatkan hati dengan Al-Qur’an.

——————————————————————————

Malam itu, aku lalu tidur mendekati dini hari, ditemani murottal rekaman Mas Asep beberapa jam lalu, saat beliau memimpin sholat Isya kami.

Selesai ditulis di Pojok Kamar Bercat Biru

Karang Asem

1 Maret 2014, 16:47

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s