Tentang Sekerat Roti

Honey-And-Butter-On-Bread

Wahai hati, kau tahu, aku tengah lapar. Kelaparan yang telah menusuk-nusuk lambungku sejak lama. Sebuah rasa yang entah kenapa cukup, atau mungkin sangat mengganggu denyut nadi dan kejernihan berpikir.

Namun, kini di hadapanku telah terhidang sebuah roti yang sangat manis. Ia telah dipanggang dengan suhu yang sangat baik pada rentang waktu yang tak kurang atau lebih sedetik pun. Kilau mentega yang mengilat-ngilat di punggungnya benar-benar cantik, juga beberapa sendok madu. Wahai hati, mengapa engkau begitu tahu sebentuk roti serupa ini yang paling aku gemari? Dan kini tiba-tiba saja ia terhidang dihadapanku menunggu untuk dipunyai. Tanpa aba-aba. Tanpa pertanda. Sekerat roti berwarna putih kecokelatan, yang kau pun tahu ia sangat lembut, dengan metega di atasnya. Ia kini benar-benar terhidang di hadapanku.

Jujur, ketidakmampuanku beberapa waktu yang lalu untuk membeli roti semacam itu membuatku sedikit melupakan rasa lapar yang aku pendam dalam-dalam. Sekerat roti manis yang terpanggang dengan aroma yang lembut. Namun kini, ketika sekerat roti itu telah datang di hadapanku, rasa-rasanya aku tak mampu lagi menahan rasa laparku.

Ia kini benar-benar hadir di hadapanku, menyela waktuku diam-diam. Menghampiriku dengan baunya yang hangat, dan harum. Tubuh sekerat roti. Aroma sekerat roti.

Sekilas aku perhatikan, ia sungguh adalah roti yang sangat baik. Diambil dari gandum terbaik, dari sebuah hasil panen terbaik, dan dari sebuah perkebunan gandum di tanah utara, atau tanah di dunia antah berantah. Ia dipilih oleh pembuat roti terbaik, dan diramu oleh tangan yang cantik, yang begitu tahu bagaimana membuat roti, lalu dipanggang pada sebuah pemanggang tercanggih pada suhu terbaik.

Baru saja ia keluar dari sebuah pemanggang yang masih menyalakan kehangatan.

Sebentar wahai roti, maukah engkau aku temui sebentar lagi. Aku belum membeli susu. aku ingin memandikanmu dengan segelas susu yang hambar. Jangan bertanya kenapa hambar. Aku hanya tak ingin rasa manismu menjadi samar karenanya.

Sebentar wahai roti, aku ingin membasuh jemariku dahulu. Aku tak tega menyentuhmu dengan tanganku yang mungkin kotor. Aku tau kau tak suka.

Sebentar wahai roti. Aku harus menemui pemilikmu dulu, dan bertanya, apakah boleh aku membelimu ?

ditulis ketika sedang menunggu

24 February 2014, 11:02

Perpustakaan Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s