SMS Lebaran

Malam hari itu akhirnya aku kembali membuka halaman pertama mushafku yang berwarna cokelat tua, sebuah hadiah dari seorang wanita yang kucintai, kakak-ku, yang kini telah berputri setelah tadi sore kembali mengkhatamkan Al-Quran untuk kesekian kalinya bulan ini, Ramadhan. Aku baca halaman pertama surat Al-Fatihah, lalu diteruskan dengan surat Al-Baqoroh hingga selesai 1 juz. Di antara keheningan senja yang telah kehilangan warna kuningnya. Di antara derik sayap-sayap jangkrik, dan nyanyian nyamuk yang menggema dari arah utara dan timur tempatku saat itu, sebuah teras rumah yang baru dibangun setengah jadi. Dari arah utara, sebuah speaker besar dibunyikan oleh ibu Pance, pemilik rumah tinggal sementara selama program pengabdian masyarakat ini aku jalani. Speaker besar yang akhirnya ia nyalakan sebagai bentuk kegembiraannya, hari raya sudah tiba. Aku tidak suka. Terutama dengan lagu band-band nusantara yang ia putar. Aku memang tidak suka musik.

CIMG3091

Aku tak sedang bersama rekanku, yang ku dengar, mereka sedang berada di Kantor Camat – satu-satunya tempat di mana kau bisa menemukan nyala listrik yang terang, juga sinyal telpon seluler dan internet- menghubungi sanak saudara, meluapkan rindu karena tak bisa bersama di hari raya Id. Sebagian diantaranya bahkan untuk pertamakali ini, tak bisa berhari raya bersama hangatnya keluarga.

Tubuhku hari itu cukup fit, dan bersegera menyusul mereka ke sana. Membawa sebuah ponsel yang kubeli dengan uang tabunganku, juga sebuah laptop berwarna merah tua di dalam ransel hitam milikku. Aku rindu adikku, juga ibu, dan abah. Di hari-hari seperti ini, ibuku pasti tengah menggiling sejumlah rempah-rempah yang aku tak tahu apa. Juga membersihkan bulu-bulu ayam dengan mencabutinya, lalu memanggangnya pelan untuk membersihkan bulu-bulu tipisnya. Ia akan buat menjadi sup, opor, ayam sambal, dan masakan khas tanah asal ibuku di Bone, Nasu Likku (ayam lengkuas).

Aku lalu menyusuri jalan-jalan tanah Pinogu, sebuah enclave di tengah belantara hutan Gorontalo, sebuah daerah terpencil, terbelakang yang nyaris terisolir. Ku jumpai di sepanjang jalan masih dipenuhi oleh nyala lampu minyak yang memenuhi hampir sepanjang jalan. Mereka bilang, ini adalah festival lampu. Sebuah tradisi turun temurun yang mereka wariskan dari pendahulu mereka, sebagai bentuk keceriaan menjelang hari raya Id.

Butuh 5 sampai 10 menit berjalan kaki untuk sampai di kantor Camat. Di sana telah berjejer banyak para pencari sinyal, sebagian pula diantaranya adalah rekan-rekanku. Sebagian yang lain sedang mengambil posisi antri untuk menggunakan sebuah kabel LAN, yang hanya bisa dipakai bergantian. Diantara mereka ada yang tengah asik bertelponan dengan orangtuanya, keluarganya, atau pacarnya. Sebagian yang lain sedang kebingungan karena entah kenapa tidak bisa menghubungi keluarganya. Wajar saja, pencari sinyal berjumlah belasan atau puluhan. Sedangkan daya tangkap sinyal sangat lemah. Ia seperti sebuah pintu kecil selebar satu meter yang hendak dimasuki oleh puluhan orang secara bersamaan. Hanya orang-orang beruntung yang bisa mendapatkan sinyal dalam keadaan demikian.

Tidak ada pilihan lain, aku berharap-harap bisa kebagian sinyal hanya sekedar untuk berkirim sms kepada keluargaku di rumah. Sambil duduk di antara jajaran pengantri pengguna internet. Sebagian diantara yang lain juga menggunakan kesempatan itu untuk me-recharge kembali batere ponsel mereka. Wajar, di rumahnya memang tidak tersedia listrik seperti halnya rumah tinggal kami.

Tak lama, Pak Camat Pinogu menjumpai kami bersama puluhan pemuda setempat. Mereka membawa obor dan mengundang kami turut serta bertakbir keliling di empat desa. Semua rekanku lalu menyambut ajakannya, kecuali aku. Aku sebenarnya sangat tertarik untuk ikut. Namun idealisme dalam diriku menolaknya. Akan ada banyak ikhtilat (campur baur antara lelaki dan wanita) di sana. Belum lagi ketidaksukaanku dengan kumandang takbir yang diteriakkan dengan cara yang tidak baik. Lagipula jika aku tetap berada di kantor camat, aku bisa “menguasai” sinyal telpon seluler dan menggunakan internet dalam waktu yang lebih lama. Dengan ini, jika beruntung aku bisa menelpon keluargaku, lalu bisa mencari materi fiqih sholat id di internet yang banyak disajikan oleh fanpage “muslim.or.id” ataupun fanpage “status nasehat”.

Mereka semua lalu pergi, dan membiarkan aku sendiri di dalam kantor camat. Aku lalu bersegera menelpon keluargaku di rumah. Percuma. Meskipun tersambung, suaraku tak terdengar di sana, kata mereka. Aku lalu memutuskan untuk mengirim sebuah sms saja. sebuah sms yang paling panjang yang pernah aku buat. Di sana.

Assalamu’alaikum. Apakabar mamah, abah, adek ? Rasanya kangen berada di rumah di saat malam lebaran. Mengingat masa lalu rasanya mengharukan. Di usia 20 ini aku baru merasakan betapa beruntungnya dilahirkan di keluarga yang ber-ibu-kan mamah dan ber-ayah-kan abah. Mungkin sebagai anak lelaki, aku tidak bisa menjaminkan untuk bisa membahagiakan keluarga dengan harta yang banyak melimpah. Tapi sungguh kebahagiaan itu bukan karena melimpahnya harta, melainkan karena ada Alloh di hati kita. Karena kita dekat kepada Alloh. Maka aku lebih menjanjikan mamah dan abah kebahagiaan di akhirat dengan menjadi anak sholeh yang banyak mendoakan orangtuanya. Amal sholeh apapun yang aku lakukan semoga semakin memuliakan abah dan mamah di hadapan Alloh. Maaf mah, bah, tidak bisa membersama ramadhan dan lebaran tahun ini. taqobbalallohu minna wa mingkum. Aku sayang sama seluruh keluarga.

Mataku agak membasah setelah itu. Mungkin karena aku teramat rindu. Tidak ada yang melihat, hingga setengah jam kemudian, keadaanku disadari oleh salah seorang rekanku bernama Rohman. Namun iapun diam, tak mendekat.

Aku menghabiskan waktu di sana selama dua jam. Bersms bersama adikku yang terlahir sebagai anak bungsu, juga beberapa rekan yang aku rindukan di tanah sultan yang bertanya kabar dan salam lebaran. Aku lalu pulang mendekati pukul 23:00.

Pojok Kamar Biru, 02 February 2014 , 12:55

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s