Idola – Bukti Cintamu

tomatoe_slince_inside_ice_cube-other

Dari segala bentuk keunikan yang ada padanya, ada hal yang bagi saya lebih menarik ketimbang yang lain. Yakni, ia memiliki rambu yang panjang, sebahu. Rambut panjang itu terlihat selalu terurai tanpa pernah diikat sekalipun. Namun untuk mempermudah  sujud ketika sholat, ia selalu memakai kopiah untuk menahan rambutnya agar tidak terburai.

Suatu ketika kemudian saya iseng bertanya, ketika sedang asik makan-makan pasca majelis ilmu (di sejumlah majelis ilmu memang menyiapkan cemilan sekedar untuk mengganjal perut dan penambah hangat pembicaraan).

“Mas , kenapa rambutnya kok dibiarin panjang ? ada sesuatunya po ?”

“Ga ada. Cuma meniru Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam saja”

“kok gitu mas ? kan itu sebuah perbuatan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tak perlu ditiru ?”

Ya benar. Pada suatu waktu saya mendapatkan sebuah tulisan yang menjelaskan bahwa perilaku Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi menjadi tiga jenis, yakni

  1. Perilaku khusus Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yakni sebuah perilaku khusus yang hanya Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa dan boleh melakukannya dan kita ummat muslim semuanya tidak bisa atau tidak boleh melakukan hal tersebut. Misalnya ketika Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menaruh pelepah kurma di sebuah kuburan seseorang yang tengah disiksa dengan tujuan agar diringankan siksa si penghuni kubur sampai pelepah kurma itu kering, atau ketika Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah tanpa mahar, beristri lebih dari 4, dan sebagainya.
  2. Perilaku Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan sunnahnya dan kita harus meneladaninya. Misalnya adalah beliau merutinkan sholat dua rakaat sebelum subuh, semua akhlaknya yang mulia, dan sebagainya.
  3. Dan terakhir adalah Perilaku Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencocoki perilaku masyarakat di zamannya, seperti misalnya cara berpakaian, termasuk pula gaya rambut Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seperti kita ketahui dalam nash-nash yang shahih adalah berambut panjang sebahu. Karena memang ketika itu, populernya adalah yang demikian ini.

Nah, sehingga dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa alasan kenapa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam berambut panjang adalah karena mencocoki kondisi umum yang berlaku saat itu, di zaman itu.

Dengan berdalih demikian saya kembali bertanya kepada beliau, rekan saya itu. Ia kemudian menjawab

“bukankah jika seseorang mengidolakan dan mencintai seseorang lainnya, ia akan mencoba untuk menirunya ? meniru cara berbicara, cara berpenampilan, bahkan pula meniru misalnya gaya rambutnya. Daripada saya meniru yang lain, bukankah lebih baik jika yang saya tiru adalah Rasululloh shallalhu ‘alaihi wa sallam ?” Ia mengatakan alasan tersebut sambil terus mengunyah gorengan yang ia makan. Aku tersenyum dan mengangguk untuk membenarkan.

Apa yang ia katakan adalah sebuah alasan yang sangat logis dan dapat diterima. Saya masih sangat ingat ketika masa-masa duduk di sekolah dasar pada tahun 2002, di mana sedang berlangsung demam Piala Dunia, orang-orang serempak ramai mengidolakan pemain-pemain bola dunia yang pamor ketika itu dan berlomba-lomba menirunya. Salah satu yang paling terkenal adalah pemain tengah asal Inggris, David Beckham, yang untuk menunjukkan kecintaannya, orang-orang lalu berbondong-bondong memotong rambu bergaya mohawk seperti halnya David Beckham ketika itu.

Seperti itu pula halnya dengan demam F4, sebuah boyband asalah Taiwan (kalau tidak salah) mulai terkenal, orang-orang mulai meniru gaya rambut dan gaya pergaulannya yang ber-geng-geng. Atau ketika Justin Bieber me-re-populerkan gaya celana kedodoran. Orang-orang berduyun-duyun menirunya.

Lalu kita ? sudahkah kita meniru manusia yang kita semua mengakunya sebagai idola kita ? orang yang ketika dalam sebuah wawancara atau mengisi sebuah biodata kita klaim sebagai tokoh yang kita idolakan, sudahkah kita benar-benar meneladani beliau ? mungkin memang bukan gaya rambut atau gaya berpakaian (kecuali yang memang disyariatkan seperti larangan isbal), melainkan akhlak, namun sudahkah kita benar-benar meneladaninya ? karena hanya dengan meneladani, meniru dan men-sepertikan diri kita adalah salah satu bukti cinta yang bisa kita lakukan kepada orang yang sama-sama kita idolakan, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pojok Kamar Bercat Biru

02 February 2014, 22:02

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s