Waktu ( and Memories)

time_is_running_out_2-wallpaper-1366x768

Waktu adalah tipikal kasus yang sangat mengerikan. Semua kenangan dan harapan akan larut bersamanya tanpa ada yang mampu menghentikannya.

Kutipan kalimat ini aku dapatkan pertama kali beberapa tahun lalu, di sebuah lembar komik yang menjadi kegemaranku selama bertahun-tahun. Detective Conan. Kalimat itu diucapkan oleh tokoh wanita berambut pirang dengan wajah oriental “Haibara Ai” atau yang memiliki nama asli “Shiho Miyano”.

Waktu benar-benar sebuah tipikal kasus yang mengerikan. Ya, itu yang aku yakini ketika membaca itu. Aku masih ingat pada sebuah insiden ketika aku hampir akan dibunuh menggunakan dua bilah pisau oleh seorang wanita yang tengah menggila tanpa alasan yang jelas, atau ketika aku harus menyeberangi sungai yang cukup dalam sejarak lebih dari 50 meter, yang penuh dengan lintasan kapal-kapal motor yang memiliki baling-baling tajam, atau ketika aku dalam usia tiga tahun lebih mencari jalan ke sebuah sawah milik ayahku di sebuah desa nun jauh di pedalaman Sumatera, melalui hutan-hutan, bertemu dengan ular dan anjing-anjing hutan.

Waktu juga yang menenggelamkan memori tentang sebuah pesawat yang jatuh menunjam di muara sungai kami, menewaskan seluruh penumpang dan awaknya. Atau pada sebuah hari ketika langit baru menguning, seorang bayi berumur satu tahun yang jatuh bebas di depan mataku ke dalam sungai kami karena terlepas dari pengawasan ibunya.

Waktu juga yang menggilas kenangan ketika aku melihat abahku di tepian sebuah dipan yang telah usang, menangis dengan cucuran air mata yang dalam. Wajah kuning langsat yang menghitam karena panas, peluh mencari uang. Atau ketika aku melihat seorang wanita tua yang dipasung oleh anak-anaknya. Yang lalu meninggal seminggu kemudian.

Waktu juga yang memendam rahasia ketika aku berada di atas sebuah perahu motor yang besar, melihat api berterbangan di atas bibir sungai. Aku sakit tak lama setelah itu. Atau ketika aku melihat sesosok bayangan berwarna putih dengan wajah mengerikan menduduki perutku, lalu berusaha menempelkan wajahnya yang robek-robek ke depan wajahku, lalu hilang.

Waktu juga yang melarutkan sebuah kenangan indah, ketika aku dan beberapa saudaraku bermain di sebuah padang rumput yang agak jauh dari rumah kami, sembari menggembalakan kambing yang jumlahnya tak terlalu banyak. Atau ketika kami harus melihat satu persatu kambing-kambing milik kami mati karena diracun oleh tetangga yang iri, dengki.

Namun waktu juga yang menghadirkan jasadku pada sebuah kota besar yang asing, yang membuatku bahagia bisa duduk di atas mobil pertama kali. Atau ketika menggunakan eskalator pertamakali.  Juga bebas memencet tombol elevator pertamakali di sebuah mall yang penampangnya mirip sebuah kota besar di Shanghai.

Atau ketika aku pertamakali duduk pada sebuah burung besi. Ia mengayun sekali ketika terbang dengan steady di atas langit. Aku buang jauh-jauh memori tentang sebuah pesawat jatuh di sungai kami ketika itu. Atau ketika melihat puncak Merapi pertamakali dari atas awan, di belakangnya ada Merbabu, juga Sumbing. Dan jauh sebelumnya pun aku mendapati permukiman di dataran tinggi Dieng. Ia berkawah, juga berkabut.

Juga ketika salah seorang rekanku menelponku secara tiba-tiba, lalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’annya, sudah bisa dikatakan baik atau tidak. Dan ketika suatu pagi, kami berada di sebuah pantai yang airnya berwarna cokelat karena erosi, menikmati kemegahan puncak Muria yang terhalangi oleh kabut. Atau ketika aku harus berbicara selama belasan menit di hadapan ratusan mahasiswa di sebuah auditorium Grha Sabah Pramana.

Dan ketika pada suatu hari, tubuhku kelelahan di sebuah perjalanan Semanggi-Pasar Minggu dengan seorang rekan yang ku tahu, tubuhnya berlipat-lipat lebih lelah dariku.

Waktu juga yang membawaku pada sebuah perjalanan panjang dan melelahkan, di sebuah hutan pedalaman di Gorontalo, menuju sebuah desa terbelakang yang tak tampak di peta, namun sangat jelas pada google earth. Juga pada sebuah perjalanan panjang di pantai Utara Sulawesi Utara. Atau pada suatu hari ketika peralatan snorkling menempel pada tubuhku, menikmati indahnya alam bawah laut pantai Ulele, dan Bunaken.

Namun kenangan yang paling tak ingin ku hapus adalah, pada sebuah petang yang melelahkan. Engkau mengizinkan tubuhku yang sudah mendewasa, bersandar padamu sembari terus membacakan berlembar-lembar mushaf yang engkau miliki. Aku ingin lagi. kali ini bacakanlah surat Maryam. Atau surat Thoha.

Each of us lives with our memories. Some memories you can find if you try hard. But others. No matter how hard you try to erase. You can never erase. -Dokter Lee Cho In

Abah, Mama. Aku rindu.

Pojok Kamar Bercat Biru,

Karang Asem-Sleman

16 January 2014 16:49

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

2 thoughts on “Waktu ( and Memories)

  1. waktu benar2 hal yang sangat kompleks, ia mampu menyimpan berbagai macam kenangan dan memiliki rahasia yang belum terungkap. Kadangkala kita ingin waktu cepat berlalu, namun tak jarang pula kita menginginkannya untuk berlama-lama dalam sebuah momen tertentu..nice sharing bro, semoga kita bisa memanfaatkan waktu dengan bijaksana.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s