Ketika Hafalan Al-Qur’an-mu menjadi syarat pernikahan

1017312_632172550128485_1693417720_n

Hmm. Saya tidak punya judul lain yang lebih cocok untuk tulisan saya kali ini. Namun memang seperti itulah niat saya sejak awal ketika hendak menuliskan artikel ini. sebuah judul yang ringkas, namun jelas maknanya. Lagipula, sudah lama sekali rasanya saya tidak menyempatkan waktu untuk menulis satu dua artikel di dalam blog. Mungkin hampir sebulan, atau lebih. Entahlah. Bukan karena tidak ada cerita yang bisa saya bagi. Hanya mungkin karena tidak ada hasrat untuk menuliskannya.

Cerita ini bermula ketika saya, tanpa sadar, terlibat dalam cerita rencana pernikahan beberapa orang. Saya tidak tahu pasti, apakah enam, atau tujuh atau bahkan delapan orang. Namun secara tidak langsung, saya tidak tahu kenapa ada peran saya di dalamnya. Padahal alih-alih sudah menikah, saya bahkan sedang mempertimbangkan untuk menyelesaikan skripsi saya terlebih dahulu.

Oke kita mulai.

Cerita ini terinspirasi ketika saya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan kisah salah seorang rekan saya yang hendak menikah dan ia mempersyaratkan orang yang hendak melamarnya adalah laki-laki baik yang memiliki hafalan Al-Qur’an minimal 5 Juz. Wow!

Seorang laki-laki kemudian datang melamarnya, dan diterima! Apakah sang lelaki sudah hafal 5 Juz ?? Ternyata, Belum ! Tapi ia menyanggupi untuk menghafalkannya sembari menanti persiapan pernikahan mereka. Dalam hati saya ketika mendengarkan penuturan cerita itu, saya bahkan belum memiliki hafalan sebanyak itu. Dan meskipun terdengar agak kaget, sebenarnya tidak juga. Syarat semacam ini adalah hal yang sudah saya perhitungkan sebelumnya.

Atas izin Alloh, akhir-akhir ini dakwah Islam berkembang dengan sangat baik di nusantara, terutama di kampus-kampus atau perguruan tinggi. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya mahasiswa yang sudah menyadari pentingnya menambah wawasan ilmu syariat dan ditambah lagi dengan semakin banyaknya kajian-kajian Islami yang berada di sekitaran kampus. berbagai macam tipe kajian dihidangkan di tengah-tengah mahasiswa. Mulai dari kajian Tauhid, Fiqih, Shiroh, Politik. Namun menurut pengamatan yang saya lakukan, kajian yang memiliki jamaah paling banyak tetaplah kajian bertemakan “Munakahat” atau pernikahan. Tidak masalah. It’s sunnah! Maka tidak heran jika kemudian rekan saya menjadi salah satu “produk” dari kajian bertemakan munakahat tersebut. Yakni ingin mendapatkan Imam yang terbaik, dan salah satu indikator imam yang baik yang ia tetapkan adalah, “Hafalannya minimal 5 Juz”.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai salah satu “Persembahan” dalam pernikahan memang bukanlah hal yang baru. Dalam kitab Shahih Bukhari, pada bab “Kitabun Nikah” terdapat sebuah hadist yang terjemahannya kurang lebih seperti berikut ini

Dari Sahl bin Sa’id As-Sai’di, ia berkata: Sesungguhnya aku berada pada suatu kaum di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba berdirilah seorang wanita seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.” Beliau pun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian berdirilah wanita itu dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikanlah dia, bagaimana menurutmu.” Beliaupun diam dan tidak menjawab sesuatupun. Kemudian ia pun berdiri untuk yang ketiga kalinya dan berkata: “Sesungguhnya ia telah menghibahkan dirinya untukmu, perhatikan dia, bagaimana menurutmu.” Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Ya Rasulullah, nikahkanlah saya dengannya.” Beliaupun menjawab: “Apakah kamu memiliki sesuatu?” Ia berkata: “Tidak.” Kemudian beliaupun berkata: “Pergilah dan carilah (mahar) walaupun cincin dari besi.” Kemudian ia pun mencarinya dan datang kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata: “Saya tidak mendapatkan sesuatupun walaupun cincin dari besi.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah ada bersamamu (hafalan) dari Al-Qur`an?” Ia berkata: “Ada, saya hafal surat ini dan itu.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pergilah, telah aku nikahkan engkau dengan dia dengan mahar berupa Al-Qur`an yang ada padamu.”

Dalam hadist di atas, diceritakan bahwa salah seorang sahabat Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan bermaharkan hafalan Al-Qur’an. Sehingga tentunya hadist di atas menunjukkan bahwa bolehnya seseorang menikah dengan menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai maharnya.

Akan tetapi, jika melihat kasus yang terjadi pada rekan saya tadi, maka menurut hemat saya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika benar ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari “persembahan” untuk sebuah perniahan yang agung

Pertama, Menghafal Al-Qur’an bukanlah suatu hal yang sederhana. Meskipun mudah, namun yang terpenting adalah niat apa yang melatarbelakanginya. Jika karena Alloh, maka lanjutkan. Jika bukan, atau selain itu, maka hendaknya kita memperbaiki niat kita dalam menghafal. Beberapa di antara sahabat, menghafal Al-Qur’an adalah sesuatu hal yang sangat berat. Atau minimal cukup berat. Sebaga contoh, sahabat Rasululloh Abdullah ibnu Umar Radiallahu anhu, baru bisa menghafalkan surah Al-Baqoroh setelah 8 tahun lamanya. Sedangkan di zaman sekarang, ada banyak sekali orang yang mampu memnghafalkan Al-Quran hanya dalam hitungan 1 tahun atau bahkan beberapa bulan. berita terbaru saya menemukan sebuah komunitas yang mampu menghafalkan Al-Quran 30 Juz hanya dalam waktu 40 hari . Namun yang membedakan generasi sahabat dengan generasi kita adalah, generasi para sahabat, baru akan beranjak menuju ayat berikutnya baru setelah ia/mereka mengamalkan apa yang mereka hafalan dan pahami. Maka berapa banyak diantara kita yang menghafalkan Al-Qur’an bukan karena Alloh, sehingga dalam mengamalkannya pun mejadi sangat sulit.

Kedua, Hendaknya pun kita mengukur kemampuan kita. Jika kita tidak memiliki hafalan Al-Qur’an yang banyak, maka apakah pantas kemudian kita mengharapkan mendapatkan pasangan hidup yang hafalannya banyak ? okelah, kemudian jika seseorang beralasan bahwa, hafalan yang banyak adalah salah satu standar seorang imam yang baik. Namun berapa banyak orang yang hafalannya banyak namun tidak tampak pada akhlak mereka.

Maka dari itu, jika memang pada akhirnya Hafalan Al-Qur’an menjadi salah satu syarat atau salah satu persembahan dalam pernikahan, maka perbaikilah niat kita dalam menambah hafalan. Dan yang lebih penting lagi adalah tunjukkan hafalan yang dimiliki,tercermin dari kepribadian.

Dan untuk wanita yang [kebetulan] mensyaratkan demikian, Pantaskan diri.

Namun yang pasti, dampak minimal seseorang yang terbiasa bersentuhan dengan Al-Qur’an adalah tercermin dari hatinya yang lembut. Setidaknya, itu sebuah keniscayaan yang terbiasa tampak. Itu.

Akh, tiba-tiba saya merindukan abah. Baru-baru ini abah bercerita tentang beliau yang saat ini tengah menghafal Al-Qur’an sedikit demi sedikit. Keinginan ini beliau curhatkan pada saya sekitar satu atau dua bulan yang lalu dan beliau menjadi sangat termotivasi ketika saya bercerita bahwa seorang wanita yang sudah tidak muda lagi berusia sekitar 60 atau 70han tahun, sangat bersemangat untuk mengahafalkan Al-Qur’an walaupun ia baru memulai di usia senja. Ia pun kini sudah hafal hingga surah Al-Maidah. Wanita senja itu mengatakan “Saya baru akan berhenti menghafalkan Al-Qur’an jika sudah khatam 30 Juz, atau jika ajal menjemput saya lebih dulu”. Mendengarya, abah saya bertambah pula semangatnya, lalu mengadopsi motto menghafal wanita senja itu.

Di kesempatan itu juga abah bercerita, bahwa kini adik saya sudah menghafalkan juz 29. Padahal saya mengerti betul kesibukannya, jauh lebih sibuk ketimbang sebagian besar rekan-rekan saya di kampus.  Hmm… 🙂 .

Selesai ditulis di Al-Ardhu Zone

Jumat, 27 Desember 2013

21:27

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s